Akan rindu pada Sabana Merbabu

Sumber Kencono, ingat? yang sekarang armada Busnya berganti nama Sumber Slamet. Bus ini yang mengantarkan saya dan kawan-kawan menuju terminal Tirtonadi Solo dan pastinya akan oper-oper angkutan lagi untuk menuju Basecamp Gunung Merbabu. Gunung merbabu terletak di Provinsi Jawa tengah, ketinggianya 3142 MDPL pada puncak Kentheng songo. Ada empat jalur untuk malakukan pendakian gunung merbabu, yaitu jalur thekelan, wekas, chuntel dan selo. Kami akan melakukan pendakian via Selo lintas Wekas.

Berangkat pukul 00.00 dari Terminal Purabaya Surabaya, tau-tau jam 05.00 kita sudah sampai di Solo, Cepet ya, Alhamdulillah selamat. Matahari pagi kota Solo tampak bersahabat, sedikit demi sedikit menampakan wujudnya. Tak lepas dari kerumunan calo, kami mencari Bus jurusan Boyolali, dan akhirnya ketemu juga setelah menanyakan ke petugas Terminal. Tidak lama menunggu, kami berangkat menuju Boyolali.

Udara pagi menorobos pintu depan Bus tak berAC, menabur kesegaran dan menghilangkan rasa ngantuk luar biasa setelah kekurangan tidur selama dua hari kemarin. Dan tau-tau sudah di terminal Boyolali, cepet ya? emang deket kok haha. Selanjutnya kami mencari mini bus untuk mengantarkan kami ke pasar Cepogo. Disinilah tempat melatih kesabaran, bus kecil yang bermuatan kurang lebih 20 orang ini nggak akan mau berangkat jika kuotanya kurang, di terminal sih, ngomongnya langsung berangkat, nggak taunya mampir. Ngetem dipasar Boyolali kira-kira satu jam lebih. Harus sabar, serunya naik angkutan umum ya seperti ini, berbaur dengan ibu-ibu, nenek-nenek, bapak-bapak penjual sayur, ayam, tahu, tempe, macam-macam lah pokoknya. Sambil menuggu penumpang yang lain, wajibnya mengisi perut. Dan kemudian berangkatlah kami saat penumpang penuh.

IMG_1270

Entah jam berapa tiba dipasar Cepogo, perjalanan menuju Basecamp pendakian Merbabu belum berakhir, masih harus oper mini Bus lagi, oper kendaraan empat kali? Iya, dibikin seru sajalah biar asik, dibikin asik sajalah biar seru.

Kendaraan di pasar Cepogo ini juga nggak bisa seenaknya langsung berangkat, harus nunggu penuh juga seperti mini bus sebelumnya. Hampir satu jam nungguin penumpang penuh, saya menghabiskan waktu untuk keliling pasar sambil nyari logistik, dan berangkat pukul 10.00. Mini bus dari cepogo ke Selo terakhir. jam 14.00, jadi jangan sampe kesorean tiba dipasar cepogo.

Sampai dipasar selo kami mampir sejenak minum kopi dan sedikit untuk mencari informasi dimana letak basecamp. Kata ibu penjual kopi, "deket kok mas, jalan kaki bisa". Oke, mulailah kami berjalan. Ternyata lumayan jauh banget jalan kaki dari pasar menuju basecamp, 30 menit lebih, dan lebih nelangsa lagi ketika sudah mau sampai ada pendaki yang naik ojek, hassshhh, tau gitu naik ojek aja deh. Pukul 12.00 siang kami tiba dibasecamp untuk mengurus perijinan dan sarapan siang, rencana kami akan start berjalan pukul 14.00 sembari menunggu matahari biar nggak terlalu panas. Yang perlu diingat, dijalur Selo ini tidak ada sumber mata air, jadi bawalah air sebanyak mungkin, masing-masing dari kami membawa empat botol besar air mineral. Baiklah, mari kita jalan.

Perjalanan belum terasa menanjak dari basecamp menuju pos satu, masih landai dan tidak begitu menguras tenaga. Dari sini kita akan melewati hutan pinus, dan jalur yang terbilang sangat jelas, akan banyak menemui petunjuk arah yang akan membantu. Kira-kira kurang lebih akan memakan waktu 1 jam perjalanan. Di pos 1 hanya cukup untuk mendirikan beberapa tenda, tanahnya tidak terlalu lebar. Setelah cukup beristirahat dengan menghisap sebatang rokok, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Sepanjang perjalanan menuju pos 2 ini track masih landai, tapi selandai-landainya jalur kalau lelah ya pastinya kita berenti hehe. Tiba di sebuah pos bayangan sebelum pos 2, dan mulailah terkuras tenaga, tanjakan demi tanjakan berangsur meningkat kemiringanya, lumayan terjal. Pos 2 ini juga tempatnya tidak terlalu lebar, berupa sebidang tanah, tak jauh beda seperti dipos 1. Tidak terlalu lama kami beristirahat, hanya mengoplos sebotol air mineral dengan 2 sachet Nutrisari kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3, lumayan lah buat penyegar tenggorokan.

Ditengah perjalanan menuju pos 3, kami beristirahat dan berencana makan sore, maklum, kita semua perut karet jadi gampang lapar. Dan menunya nggak jauh-jauh dari kata "instan", apapun gunungnya, makanya tetap Indomie, untuk Indonesia, haha. Jalur ini sudah mulai terbuka, keluar dari pepohonan lebat dan pemandangan cukup menarik dengan adanya bunga edelweis yang tumbuh dilembah perbukitan. Matahari sudah mulai meremang, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3 yang biasa disebut pos Batu tulis. Track tidak terlalu menanjak namun naik konstan, dan 30 menit kemudian kami sampai padang bukit yang hijau ditemani sunset dan nampak gagah Gunung Merapi diujung mata.

Inilah pos 3 Batu tulis, yang memakan waktu kurang lebih 60 menit dari pos 2. Tak banyak kata, hanya "Subhanallah" yang terucap ketika mata dan kamera menangkap siluet merapi diantara jingga yang perlahan hilang ditelan gelap.

SCam_20140526_174528

Langit sudah suram, dan pandanganpun juga begitu, suram lalu membuat frustasi, melihat samar track dari pos 3 merbabu menuju pos 4 Sabana 1 yang sangat terjal didepan mata. Dengan cepat kami mengeluarkan senter kepala sebagai penerang jalan. Menuju sabana 1 kami sering berhenti, mungkin disini jalur yang paling menguras tenaga disepanjang jalur Selo.

Tiba pada persimpangan jalur pertama, kanan dan kiri, kami memilih jalur ke kanan karena sepertinya lebih dekat namun lebih terjal pastinya. Sampai tengah perjalanan setapak yang sempit, mendung bergerak cepat, petir beberapa kali menyambar, dan tanpa gerimis hujan mendadak mengguyur, untuk mengenakan ponco pun kami tak sempat. Ingat kalau pas lagi nonton sinetron terus ada moment hujan? Begitulah tepatnya, sangat mendadak, nggak pake gerimis, disertai angin badai pula, badan sudah basah kuyup, tanggung juga bongkar carrier buat ngambil ponco.

Dan disitulah kami ber 6, saya, kanzul, tachul, boby, udin, dan riyanto terjebak dalam medan, sory ya baru mengenalkan teman-teman saya hehe. Mau naik nggak bisa, turun juga mustahil, bayangkan! Kenapa terjebak? Jalur tanah liat merah, air mengalir deras, nggak ada batu buat pijakan, nggak ada ranting pohon yang kuat untuk pegangan, ditambah beratnya beban carrier, sangat licin. begitulah keadaanya yang disertai petir hujan dan badai. Saya ingat betul malam itu, jalan satu langkah saja susahnya minta ampun. Saat itu saya berada dipaling depan, saya mencoba berfikir bagaimana bisa melewati ini, bicara dengan kawan-kawanpun harus berteriak, dan pandangan yang tipis karena terhalang kabut.

Perlahan, saya merangkak naik, ketika 3 meter didepan mata ada sebuah pohon tumbang yang lumayan besar yang bakalan mengahalangi jalan. Dan sampai juga saya memegang pohon tersebut. Satu-persatu kawan saya dibelakang mengikuti saya dengan perlahan dan sangat berhati-hati, itupun harus terjatuh, terpeleset berulang kali. Pohon ini sangat mengahalangi, untuk melewatinya harus sedikit melompat lalu melangkahi. Akhirnya saya menyuruh kanzul untuk menaiki punggung saya, karena dia kesusahan jika harus melompat dengan track menanjak yang sangat licin.

aaaaa usaha

Bergantian, selanjutnya saya yang menaiki, dengan menahan satu tangan dan satu tangan ditarik kanzul yang sudah berada diatas saya. Satu persatu sudah naik dan alhamdulillah kami menemui jalur yang tidak begitu licin, namun harus menerobos semak-semak untuk membuka jalur baru. Tigapuluh menit kemudian kami sampai di pos 4 sabana 1.

Malam yang hebat, malam yang tidak akan bisa terlupakan tentang perjalanan ini. Pukul 20.30, sesampainya kami langsung membuka tenda dan memasak untuk makan malam kemudian dilanjutkan tidur. Selamat tidur kawan-kawan mimpi indah ya, begitu kami berucap saling mengucap.

Niatnya bangun jam 3 lalu summit, apa daya jika kami semua baru bangun jam 7, kesempatan menjemput sunrise pun gagal. Baiklah, lanjut saja memasak sebagai sarapan pagi, sambil menonton lukisan nyata gagahnya merapi yang sesakali berasap diujung mata.

Hijau disabana 1 ini mengingatkan saya ketika melihat tayangan televisi anak-anak yaitu teletubies, dengan bukitnya yang hijau, lebih hijau dari rumput tetangga lah, Hehe. Pukul 09.00 kami berangkat summit menuju kentheng songo setelah membereskan semua yang kami bawa, karena kami akan lintas jalur Wekas. Dengan tidak sengaja saya pun berjumpa dengan teman BBM saya, yang saya dapat dari forum medsos, dia bernama dik Anisa yang masih sekolah SD namun sudah beberapa kali naik turun gunung merbabu, Hebat! Dia bersama bapak dan adiknya pagi itu. Kami menyempatkan berfoto bersama, kemudian sedikit mengobrol dan berlalu meninggalkanya, sampai jumpa di lain waktu Dik Anisa.

Cuaca cerah, matahari rasanya membakar kulit-kulit saya, namun dingin juga tak mau kalah menyerang. 1 jam kemudian kami tiba tiba di pos 5 Sabana 2, sepanjang Sabana 1 ke Sabana 2 medan yang kami lewati berupa padang rumput, dan jika melihat ke bawah tampak awan menggumpal tebal, menurut saya pemandangan paling indah adalah disepanjang jalur ini. Seperti biasa, istirahat sejenak dengan ditemani oplosan Nutrisari dan sebatang rokok, lalu melanjutkan ke puncak. Sabana 2 adalah pos terakhir menuju puncak, jadi hanya kurang sebentar lagi kami sampai puncak. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, sampai juga kami dipuncak Kentheng songo.

Cukup ramai disini, puluhan pendaki berfoto, bersujud syukur, setelah menggapai puncak Gunung Merbabu. Puncak kentheng songo lumayan lebar, lengkap dengan ditumbuhi bunga edelweis, anginpun bertiup sangat kencang karena tempatnya yang tebuka. Tidak lama kami dipuncak, mungkin hanya 30 menit kemudian melanjutkan turun untuk menuju puncak syarif yang searah jika via jalur Wekas. Medan turun dari puncak Kentheng songo sangat terjal, harus berhati-hati jika melewati jalur ini. Sesekali harus merayap dan merangkak memeluk batuan tebing, jalur selebar satu sepatu, inilah yang dijuluki jembatan setan gunung merbabu.

Jarak antara puncak Kentheng songo dan puncak Syarif tidak jauh, kira-kira naik 30 menit. Dipersimpangan jalan nanti akan bertemu arah menuju puncak Syarif, rugi kalau nggak mampir, disini akan nampak view gunung merapi.

Pukul 13.00 kami kembali turun melanjutkan perjalanan. Jalur wekas didominasi bebatuan, dan pohon-pohon yang tak terlalu tinggi, dengan turunan yang terjal. Sebelum gelap saya dan kawan-kawan telah tiba di basecamp, dan bermalam disana.

IMG_1378

Transportasi:

  • Surabaya-Solo Rp 40.000

  • Solo-Boyolali Rp 15.000

  • Boyolali-cepogo Rp 5.000

  • Cepogo-Selo Rp 7.000

  • Perijinan Rp 4.000

  • Ojek Rp 25.000

  • Magelang-solo Rp 20.000

  • Solo-Surabaya Rp 40.000

Komentar