Aroma khas Kawah Ijen

Berawal dari adanya fitur obrolan dengan beberapa orang di Blackberry, saya mengundang satu persatu teman saya, Vikri, Angga, Didin, Dan Contact mereka pun sudah masuk di obroan, langsung saja ku buka percakapan pertama, "Tamasya yuk", dan tanpa bertanya arah tujuanya, mereka semua menjawab dengan kompak, "berangkat", dan saya bertanya lagi, "enaknya berangkat kapan?", masih kompak mereka menjawab, "nanti malam". Saya coba memberi usul untuk liburan ke Kawah Ijen, tanpa pikir panjang mereka pun mengiyakan.

Kawah Ijen terletak di puncak Gunung Ijen dan di sebelah timurnya terdapat Gunung Merapi, seperti nama gunung dijawa tengah. Kawasan Wisata Kawah Ijen terletak di wilayah Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso. Gunung Ijen terletak di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut.

IMG_20141215_065356

Yang menarik adalah kawah ini terletak di tengah kaldera yang sangat luas dan tentunya sangat memanjakan mata tentang panorama yang ditawarkanya. Tanpa rencana apapun Trip kali ini, cukup menyiapkan Tenda, Sb, kompor portable, Nesting buat masak-masakan digunung. Tinggal menunggu jemputan, "kayak bos aja ya haha", kami akan berangkat menggunakan kendaraan pribadi milik angga. Teman saya Vikri, Angga, Didin start dari Gresik dan saya akan dijemput mereka karena saya ada di Surabaya.

Pukul 01.15 pagi kami berempat barangkat menuju banyuwangi yang kami perkirakan jam 06.00 pagi sudah sampai di pelabuhan Ketapang. Ternyata ada peserta dadakan, teman kami juga, namanya Bagus, dia tinggal di Bali. Tidak banyak yang kami bicarakan selama di kendaraan, ya begitulah, yang pasti banyak tidurnya, bangun-bangun pas sampai di Paiton, dan melihat lampu-lampu PLTU Paiton yang gemerlap, tapi nggak kayak di club malam loh ya.

_MG_9117

Udara pagi dipesisir pantai Watudodol lumayan menyejukan hidung dan mata, pastinya lebih segar dari pada AC kendaraan. Pukul 07.00 kami tiba di Banyuwangi dan mampir sebentar di Watudodol sekedar istirahat dan menghisap sebatang rokok. Setelah mendapat telepon dari Bagus, ternyata dia masih mau berangkat, jadi semalam dia belum berangkat?!! "hassshhhh" Dia bilang kalau sampai diketapang kira-kira jam 12.00, yaudah dengan membuang waktu kami tunggu saja dengan tidur-tiduran dipantai Watudodol sambil minum degan ijo.

Mulanya tidur-tiduran, tapi nyatanya tidur beneran, ya Alhamdulillah lah jadi nggak bosen-bosen banget nungguin Bagus. Sudah rencana mau jemput ke Ketapang, tiba-tiba kami dapat telepon dari bagus, "sory rek, aku ketiduran, ini kelawatan sampek Jember, aku turun mau cari bus ke Banyuwangi lagi, kalau kelamaan nunggu, kalian langsung aja ke paltuding, biar nanti aku naik ojek kesana", bisa bayangin perasaan kita?, begitulah kira-kira yang disampaikan Bagus lewat telepon pada kami, karena kami teman yang baik, setia kawan, jadi kami sepakat buat nungguin si Bagus ke Banyuwangi lagi.

Cukup lama berputar-putar dikota Banyuwangi untuk sekedar menghabiskan waktu, dan berujung pada sebuah warung makan, karena perut sudah mulai kelaparan sedari pagi baru ke isi sama degan ijo saja. Dering telepon berbunyi, kami berangkat menuju terminal Banyuwangi menjemput bagus dan akan langsung ke Paltuding, pos perijinan menuju Kawah Ijen.

Jalanan yang naik turun dan bau belantara yang khas masuk ke cendela kendaraan membuat saya merasa sedang bertamasya, kan emang tamasya ya. Kota Banyuwangi memang mempunyai potensi wisata yang sangat istimewa, selain gunung, pantai-pantai di Banyuwangi tidaklah kalah dengan wisata alam di luar jawa, hal ini membuat wisatawan dalam dan luar negeri sangat antusias mengunjungi Kota Banyuwangi yang penuh pesona.

Sampai di Paltuding pukul 16.00, dingin mulai membelai dengan perlahan, perlahan dan pasti menusuk tulang walaupun masih berada di kaki gunung. Yang saya sukai untuk menjelajahi negeri ini selain keindahan alam, salah satunya yaitu budaya, bahasa, dan keramahan warga lokal, rasanya seperti orang baru jika mendatangi tempat-tempat seperti ini, orang baru yang sangat ingin tahu dunia luar, dunia yang terlepas dari kenyamanan ranjang rumah.

Dengan memesan sacangkir kopi diwarung samping camping ground, bapak penjual kopi sangat antusias menceritakan keindahan setiap jengkal tanah Gunung Ijen, dan sesekali saya selingi dengan bahasa Madura disetiap obrolanya, meskipun saya nggak seberapa menguasai bahasa Madura. haha, tapi dengan senang hati beliau juga menjawabnya dengan ramah. Disini mayoritas warga menggunakan bahasa Madura dan bahasa suku Osing.

Setelah mandi dan mendirikan tenda, seperti rencana awal kita mau masak-masakan, dengan menu yang selalu sama saat backpacker atau naik gunung, yaitu Mie Instan!

_MG_9185

Menunggu jam 02.00 pagi, tentunya dengan tidur. Suasana tidak terlalu hening di camp ground, jam-jam dimana datangnya pelancong kemari untuk summit attack Kawah Ijen. Dering alarm pukul 01.30 membuyarkan lelap tidur kami, dan waktunya untuk bersiap. Tidak banyak yang kami bawa, cukup 5 botol air mineral besar dan 3 bungkus roti sisir untuk antisipasi jika nanti lapar mulai menyerang saat perjalanan. Setelah mengurus perijinan dan membeli tiket masuk wisata, kami bergerak naik dengan jalan tanah yang cukup lebar, bukan setapak. Meskipun gelap suasana langit terlihat romantis sekali, entah kenapa malam ini terlalu banyak bintang, dan saya juga heran, tidak sekali dua kali. Terlihat cahaya jatuh kemudian warnanya memudar. Jujur sepanjang hidup, baru kali ini saya melihat kecantikan langit yang amat sangat. Baiklah lanjut kecerita, biar nggak dikatain alay.

Jalur menuju bibir kawah tidak terlalu menanjak, lumayan santai, tapi sedikit menguras tenaga. Disepanjang jalan saya seringkali bertemu dengan bapak penambang, penambangan belerang dikawah ijen ini dilakukan selama 24 jam non stop, tentunya hanya orang-orang kuat yang melakukanya. Ditengah perjalanan juga saya sempat sedikit mengobrol dan bertanya dengan bapak penambang, dan saya baru tahu untuk harga belerang yang akan diambil pengepul di hargai Rp 800 per kg. Biasanya sehari bisa 2x jalan untuk mengambil belerang, pengambilan yang kedua di hargai Rp 1.000 per kg, dan kata beliau yang kedua itu bonus dari pengepul biar semangat. Kebayang nggak beratnya, memikul belerang yang kadang mencapai 90 kg dari dalam kawah sampai desa tempat pengepul, semangat pak.

Tak terasa sudah jauh kaki melangkah disamping kanan bebatuan, aroma belerang semakin menusuk penciuman, sangat menusuk, terasa sesak untuk bernafas, benar saja di depan sudah terlihat kawah yang mengeluarkan warna biru mungkin itu yang dinamakan blue fire, kalau belum tahu blue fire, coba nyalain kompor gas, begitulah warnanya hehe, tapi bedanya ini lebih besar api yang di keluarkan.

Semakin dekat semakin menyengat aromanya, ditambah asap dan kabut yang datang semaunya membuat mata perih, maskerpun tak sanggup membendungnya, tapi lumayan dari pada nggak pakai masker. Setibanya di bibir kawah, rasanya penasaran banget kalau nggak turun kesana, melihat blue fire, dan rasa ingin tahu bagaimana cara mengambil belerang. Dengan melewati jalan berbatu yang kemiringanya hampir 60-80 derajat, turun pelan tapi pasti, karena memang harus bergantian, jalur yang sempit dan saking banyaknya pengunjung.

Anehnya di bawah sini aroma belerang yang menyengat tidak seberapa, dibanding waktu diatas bibir kawah. Matahari mulai menampakan dirinya, cepat-cepat saya sempatkan mengabadikan moment dengan berfoto, karena kami harus memburu waktu untuk mengunjungi destinasi wisata di Banyuwangi yang lainya. Danau yang berwarna kehijauan dan tebing yang berbatu membuat kawah ini sangat terlihat ekotis.

_MG_9226

Itulah sekilas cerita tentang kunjungan saya ke Kawah ijen, pukul 09.00 kami sudah tiba di pos perijinan, segera packing barang-barang di tenda dan berangkat melanjutkan perjalanan ke Pulau Menjangan Taman Nasional Bali Barat.

 

 

Komentar