Istimewanya dia, Danau Taman Hidup

Kali ini saya akan mencoba mengingat malam ke empat pada perjalanan munuju Danau Taman Hidup Gunung Argopuro, danau yang konon menyimpan sejuta misteri, danau paling indah dan mempunyai nuansa mistis yang pernah saya kunjungi.

Danau taman hidup berada dilembah gunung Argopuro yang puncaknya memiliki ketinggian 3.088 MDPL. Mitosnya, danau Taman Hidup merupakan tempat favorit Dewi Rengganis Putri dari kerajaan mojopahit, kalau hanya untuk menuju danau ini tanpa ke puncak Argopuro, kita bisa mulai start dari desa bremi, kecamatan krucil, kota probolinggo, dengan berjalan kaki kurang lebih enam jam.

IMG_20150123_162152

Sore itu mungkin menjelang maghrib kira-kira pukul 17.15 bersama rombongan saya yang bernama Udin, Kanzul, Tachul, dan Gimb, suasana tampak hening, tidak ada yang saya rasakan selain rasa lelah setelah berjalan tiga malam menuju puncak Argopuro via Baderan. Selanjutnya dingin yang menyambut kedatangan rombongan kami, dingin yang selalu sengaja membuat tubuh kaku, dan terus menjalar ke semua bagian jika di diamkan.

Kabut yang mendadak menghilangkan pemandangan air dan gubuk kecil ditepi danau bukan cerita yang asing dikalangan para pendaki, betul sekali, coba saja ketika datang ke tempat ini lalu berteriaklah, maka datanglah kabut tebal itu dengan sangat-sangat cepat, hal ini sudah kami buktikan, entah ini kebetulan atau memang keistimewaan misteri danau Taman hidup.

Matahari berganti dengan bulan merekah, malam yang lumayan cerah, seperti biasanya, setelah mendirikan tenda di dekat danau kami memasak, dengan menu yang cukup istimewa, mie instan, ikan asin, krupuk, tempe goreng, sayur selada air yang kami peroleh dari sungai cikasur dan kornet pemberian teman baru kami Mahasiswa ITS yang berkenalan sejak di pos mata Air 1 tiga hari yang lalu, sungguh makan malam spesial dimalam terakhir pada Expedisi ini.

Setelah menyantap makanan, tiba-tiba mata saya terkejut melihat semak-semak disamping tempat kami bermalam puluhan mata berwarna hijau rasanya mengintai dari gelap, entah apa itu, yang pasti mendatangkan pertanyaan, lama tak kami hiraukan, ternyata mata menyala dibalik semak itu hewan sebesar kucing tapi saya tidak tahu persis jenis hewan apa, mungkin Lutung, mereka suka mencuri makanan, terbukti saat kami masuk tenda, hewan itu menyeret sebuah bungkus plastik berisi sisa roti, saya biarkan saja.

Obrolan rombongan kami dan mahasiswa ITS semakin akrab, sengaja untuk memecah keheningan dan mengusir dingin. Pukul setengah sepuluh malam, rasa ngantuk mulai hinggap karena perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, entah kenapa saat itu tiba-tiba saya sangat penasaran sekali ingin merasakan suasana ditepi danau malam hari.

DSCN1700

Sebenarnya rencana ingin tidur, akhirnya saya dan Tachul menghampiri tepian danau. Jarak camp ground tidak jauh, hanya dibatasi dengan semak belukar yang membentuk lorong pintu ke arah danau. Mulanya bulan menampakan cahaya dengan semestinya, baru beberapa detik saja kami berdiri diatas tanah tepi danau, pandangan sekejap berubah, kabut menyelimuti semuanya, menghilangkan mata-mata hewan yang menyala disudut hutan, dengan sekejap juga menambah suhu dingin yang luar biasa, ditambah bulu kuduk mendadak berdiri seperti tertiup hawa  nafas, sangat menyeramkan sekali malam ini, atau mungkin ini hanya perasaanku saja, atau mungkin juga ini istimewanya danau Taman Hidup, yang jelas suasananya memaksa kami untuk kembali ke tenda dan beristirahat.

Suatu ketika sebelum saya berangkat melakukan pendakian ini, saya membaca artikel tentang cerita mistis digunung argopuro, di situ salah satu mitosnya berisikan, "setiap melakukan pendakian gunung argopuro, akan ada salah satu pendaki dari rombonganya yang mimpi basah disetiap pos saat mereka bermalam", Dan benar saja, itu kisah yang terjadi pada rombongan kami, dan tepatnya adalah saya sendiri yang bermimpi, hahaha. Saya juga tidak tahu, apakah mitos itu benar adanya ataukah saya yang terlalu lelah hahaha, yang jelas saya selalu lupa apa yang terjadi di mimpi saya ketika terbangun.

Selamat pagi, selamat menikmati hari ke lima, kata-kata ini yang pertama ku ucapkan pada semesta ketika terbangun, kepada rombongan saya, dan kutujukan pula untuk teman-teman Mahasiswa ITS yang bernama Tekad, Astri, Rifki, dan Dickry. Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi, begitu kata salah satu lirik dari band Noah, hahaha sambil bernyanyi dan bergerak agar dingin pergi memeluk saya.

Seperti biasa, saya selalu paling akhir bangun tidur, kulihat teman-teman sudah menyiapkan logistik untuk dimasak, rencananya pagi ini kami akan segera turun biar nggak kesorean tiba di desa Bremi. Merasakan udara pagi di Taman Hidup ini benar-benar nikmat Tuhan yang harus  disyukuri, tanpa mencuci muka, biarkan saja embun pagi menampar mukamu dengan bantuan angin berkabut, rasakan saja sendiri sensasinya.

Sarapan pagi selesai, Teh dan kopi hangat pun jadi penutupnya dengan sebatang nikotin, sungguh pagi yang luar biasa. Setelah semuanya selesai packing, kami menyempatkan untuk berfoto dulu bersama di sekitar Taman hidup, karena terlihat cuaca yang cukup cerah.

Dan seperti dugaan saya, mendadak kabut menyelimuti semua yang ada ditaman hidup, hanya beberapa meter saja jarak yang terlihat, mungkin sudah terbiasa dengan hal ini, jadi kami semua tidak terlalu terkejut.

Beginilah suasana pagi Di Taman Hidup, suasana yang tenang, yang akan selalu saya rindukan. Biarlah Misteri Itu menjadi keistimewaan yang indah ditempat ini, dan tak usah dipertanyakan, datanglah, karena danau Taman Hidup akan selalu menunjukan pada kita apa yang membuatnya istimewa.

IMG_20100101_070532

Baca juga tulisan lain tentang Pendakian Gunung Argopuro : Menggapai Istana Dewi Rengganis

Komentar

Posting Komentar