Memeluk sekujur Tanah dan Pasir Rinjani

Sesuai judulnya, disini saya akan menceritakan tentang pendakian gunung rinjani yang dimulai dari surabaya dengan menggunakan kereta (rencana). saya juga nantinya akan memberi sedikit info berapa budget yang harus saya keluarkan ketika melakukan perjalan menuju pulau Lombok beserta transportasi apa saja yang saya naiki dan estimasi waktu yang ditempuh selama pendakian. langsung aja Kecerita, sory tulisanya panjang banget, semoga nggak bosen, hehe, Amin.

inggitguitara_2015-01-04_01-12-33

Akhirnya tiba juga tanggal yang ditunggu-tunggu itu, 25-12-2014. Kenapa berangkat tanggal sekian? Karena itu hari libur tanggal merah (Natal), dan libur kerja sampai awal tahun 2015 nanti. tiket kereta api surabaya - banyuwangi sudah ditangan yang kita beli jauh-jauh hari (Harga tiket Rp 38.000 ribu) dan kami berencana merayakan pergantian tahun dilombok. Berangkat berempat, kenalin temen-temen saya ini bernama Kanzul, Bobby, Udin, dan saya sendiri Inggit, mereka semua temen satu kampus dengan saya di Surabaya.

Udin nantinya akan nyusul berangkat sendiri naik pesawat, dikarenakan kerjaanya yang nggak bisa ditinggal, hhmm..enak banget ya naik pesawat? sedangkan kami harus melewati daratan dan lautan yang memakan waktu kira-kira 23 jam! Saya maklumi lah, si udin baru dapat cuti kerja tanggal 27. Oh ya sedikit info, gunung Rinjani berada di pulau Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat. Rinjani memiliki ketinggian 3726 MDPL (meter dari permukaan laut) dengan puncaknya yang biasa disebut puncak anjani.

Ada dua jalur resmi pendakian yang bisa dimulai dari desa Sembalun, dan jalur satunya start dari desa Senaru lombok utara. Rinjani juga mempunyai danau yang bernama Segara Anak, disini pendaki akan betah berlama-lama untuk memancing karena ikan sangatlah melimpah. Jadi, jangan sampai nggak bawa pancing ya.

Hari 1

Kamis, 25 des 2014

inggitguitara_2014-12-26_14-01-53

Persiapan packing alat-alat hiking dan baju ganti selama perjalanan udah beres, berat banget rasanya, lebih dari 25 kg beban dalam carrier. Saatnya mandi dan menunggu kedatangan teman saya Kanzul. Pukul 10 lebih 7 menit akhirnya datang juga dia, oke let's go zul. Start dari kos ku, pukul 11.30 kami ke jalan raya yang jaraknya kurang lebih 100 m dari kosku, ya tentunya cari angkutan kota yang akan mengantar kami ke stasiun wonokromo. Setelah beberapa menit lewatlah angkutan warna hijau itu, dan kami menaikinya. "Berangkat pak", kataku pada sopir angkot.

20 menit kita sampai diterminal joyoboyo (tarif angkutan dari wiyung-joyoboyo Rp 4.000 ribu), dan terpaksa jalan kaki yang lumayan jauh ke stasiun karena angkutan ini nggak ngelewatin. Lumayan capek juga jalan kaki ke stasiun dari terminal joyoboyo, itung-itung pemanasan lah.

Setelah sampai langsung ku telepon si Boby karena dia start dari rumahnya sendiri, Semenit kemudian dia nongol juga. Jam menunjukan pukul 13.00 WIB, waktunya sarapan! Biar di kereta nggak kelaparan. Kereta berangkat  jam 13.45, masih ada waktu 20 menit untuk memesan kopi dalam stasiun sembari menanti kedatangan sang Kereta.

Sudah pukul 13.43 terdengar suara seperti radio rusak, itu suara petugas stasiun entah apa yang dibicarakan, sepertinya mengumumkan sebentar lagi kereta akan tiba, tapi sungguh sangat tidak jelas apa yg dikatakanya, mungkin saat ramai-ramainya calon penumpang dan mungkin juga ruang akustik stasiun yang kurang baik. Tepat jam 13.45 terdengar ada kereta datang, ku tengok boby dan kanzul mereka masih santai ditempat duduk tunggu penumpang. dalam hati berkata, kok mereka nggak naik dan manggil saya yang sedang ngopi disudut kantin Stasiun, Ah kupikir itu bukan kereta yang kutunggu, jujur nih kita bertiga nggak pernah naik Kereta api. Saya pernah sih sekali, tapi itupun ketika masih berumur 7 tahun, Jadi lupa bagaimana rasanya naik kereta.

Tidak lama kemudian kereta yang barusan datang telah berlalu meninggalkan kami, mungkin sekitar 4 menit saja berhenti, sebentar banget pokoknya. Sepuluh menit berlalu setelah kereta itu meninggalkan kami, rasanya dalam hati ada yang nggak beres, tapi bingung apa itu! Sebaiknya ku hampiri saja kedua temenku kanzul dan boby, "kok nggak dateng-dateng nih keretanya?" Tanyaku, dengan perasaan janggal akhirnya kami bertiga menanyakan petugas stasiun kapan kereta yang kami tunggu itu datang! Saya menyuruh boby dan kanzul untuk bertanya pada petugas, sedangkan saya berlalu ke toilet untuk buang air kecil sebentar dan mencuci muka.

Setelah keluar toilat, kulihat muka kedua temen saya memasang wajah yang agak kebingungan dan ada kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. Kuhampiri mereka, betapa kagetnya dan seperti mau meledak kepalaku ketika mereka bilang "kereta kita yang barusan lewat, kita ketinggalan kereta", bisa bayangin nggak perasaan kita bertiga gimana? Setelah planing Jauh-jauh hari dan pada hari H kekonyolan terjadi pada kami, oh Tuhan...ini konyol, antara perasaan kesal, marah, kecewa jadi satu! Bodohnya kita! Masak iya impian mencumbu tanah tertinggi dipulau lombok harus gagal, merasakan dingin segara anak dan mancing ikan seperti yang di dambakan para pendaki dan kini harus gagal! Oh Tuhan, ini seperti mimpi indah yang terpotong.

Terdiam sejenak, kira-kira 50 detik kami saling pandang penuh kesedihan dan kekecewaan. "Oke kita berangkat, kita naik bus, sekarang ayo cari angkutan ke terminal Purabaya Bungurasih", begitu kataku. Tak peduli hujan deras kami berlari menuju angkot yang ngetem agak jauh dari stasiun. Tak lama angkot itupun berangkat menuju Bungurasih, (tarif Rp 7.000 ribu). Sampai didepan terminal bungurasih pukul 14.45 hujan masih tetap mengguyur dengan derasnya dan kami berlarian ke dalam terminal untuk berteduh sesaat.

Pukul 15.00 hujan sudah reda, waktunya mencari bus yang entah jurusan kemana, yang penting sampai lombok! Begitulah pikirku. Setelah kubaca tulisan di parkir Bus, ternyata ada Bus jurusan Mataram, langsung saja kami dikerubungi calo-calo terminal yang menawarkan tiket ke lombok dengan tarif Rp 350.000-400.000 ribu, hmm mahal nggak? Saya sendiri merasa ragu.

Oke, kami putuskan saja mencari langsung kondektur Bus, siapa tau dapat harga lebih murah hahaha. Ketemu juga, "bu tiket ke mataram berapa?"(Kondektur seorang wanita), "tiga ratus empat puluh mas". Begitulah tanya jawab kami. Dengan memasang muka agak memelas kami bernegoisasi dengan bu kondektur, setelah beberapa lama akhirnya beliau kasihan juga mendengar cerita kami yang ketinggalan kereta. Sepakat beliau memberi tiket ke kami seharga Rp 280.000 ribu.

Murah nggak untuk tarif dihari libur besar Natal? Hahaha. Tips, jangan malu buat kalian untuk menawar harga angkot, makan, penginapan dan lainya jika kalian hendak backpacker kemanapun, yakinkan orang lain kalau kamu sangat berpengalaman! lumayan lah bisa mengirit budget hehe. Oke, kini sudah tenang dan tinggal menunggu keberangkatan yang di infokan bu kondektur akan berangkat pukul 17.00. Sungguh membosankan, tidur-tiduran diterminal, menunggu, menunggu dan menunggu. Sudah pukul 17.00 tapi bus tak kunjung berangkat, kutanyakan pada seseorang (mungkin kernet bus), "jam Berapa nih pak berangkatnya?" "Sebentar lagi mas, ditunggu aja". Sudah 3 jam menunggu, sangat bosan! begitu gumamku dalam hati.

Saat jam 18.30 terdengar pengumuman Bus jurusan mataram akan segera diberangkatkan, rasanya hati bersorak lega, akhirnya! Kami menaiki bus dan menaruh lemari kulkas (carrier) ke dalam bagasi Bus dengan dibantu pak Kernet, Dan berangkat, menyandarkan badan pada kursi bus untuk terlelap. Kita tidur dulu ya, sampai ketemu lagi ketika terbangun nanti.

Hari 2

Jumat, 26-12-2014

inggitguitara_2015-03-20_09-57-13

Entah jam berapa terbangun dari tidur, yang pasti masih gelap. Melihat bus dan kendaraan lain berhenti berbaris rapi, kutebak ini lagi ngantri penyebrangan ke Bali. Betul sekali, yang ku tahu setelah keluar dari bus untuk mengisi perut dengan sebungkus nasi dan teh hangat di pedagang kaki lima sekitar pelabuhan. Kanzul dan boby nggak mau beranjak dari kursinya, terpaksa keliling pelabuhan sendiri buat ngusir kebosanan.

Satu jam kemudian mereka berdua menyusul keluar, haha kurasa mereka juga mulai bosan berada dalam kursi bus. Oh, ini seperti perasaan diterminal Bungurasih tadi, Membosankan! Nungguin antri kira-kira 4 jam lebih, dan akhirnya berangkat juga menyebrang ke bali. Perjalanan menyebrangi laut nggak lama, cuman 45 menit. Mata serasa dimanjakan oleh gunung dan laut yang terlihat di pelabuhan ketapang banyuwangi ini, setidaknya melupakan bosan saat antrian kapal tadi lah. Jadi Keinget lagunya Payung teduh yang berjudul "Cerita antara Gunung dan Laut".

Sampai lah kami di pelabuhan Gilimanuk pulau Bali, dan perjalanan masih panjang, masih harus nyebrang laut lagi! Sebaiknya tidur aja, dari pada yang baca juga bosan. Haha.

Pukul 14.00 WITA  sampailah kita dipelabuhan Padang Bai Bali. Pelabuhan yang indah, kapal boat berbaris rapi menunggu para calon penumpangnya. Oh, ya kita nggak naik kapal boat, tapi kapal veri. Antri nggak seberapa lama dibandingkan ketapang-gilimanuk seperti tadi pagi. Setelah mengisi perut dengan nasi bungkus yang diberikan pihak Bus, kami berangkat menyeberangi laut menuju lombok.

Perjalanan tinggal sebentar lagi sampai, Alhamdulillah cuaca bagus, waktu 4 jam cukup untuk menyebrang menuju pulau lombok. Empat jam menurutmu membosankan nggak? Tentu sangat membosankan. Untuk mengusir kebosanan kami bertiga keliling kapal dari bawah ke atas dari atas kebawah lagi, sambil berkenalan dan mengobrol dengan orang-orang yang mau bertamasya ke pulau lombok. Setelah ngobrol lumayan lama dengen seorang backpakcer dari Tarakan kalimantan, namanya Risky. Dia berangkat seorang diri, backpacker solo! Kebayang nggak serunya? Jalan-jalan sendiri, pasti seru dan bakalan jadi pengalaman yang tak terlupakan.

Oh ya, teman baru kami risky menawarkan kami bertiga untuk menginap di Rumah singgah backpacker lombok, dia ada kenalan yang didapatnya dari forum sosial media, siapa yang mau nolak dikasih tempat istirahat gratis? ini rejeki brayyy...hahahaha. Padahal kita juga belom mikir nanti malam mau tidur mana, Alhamdulillah ya Tuhan, terimakasih! Pukul 18.30 kami sampai dipelabuhan lembar lombok, sungguh indah pemandangan disini. Ini pelabuhan, bayangin aja destinasi wisata dilombok indahnya kayak apa, yang pasti indah banget lah, bisa-bisa nggak mau pulang Haha.

Perjalanan kurang lebih dua jam lagi untuk sampai terminal Mandalika Mataram. Dan ketika sampai terminal mandalika pukul 20.00, keadaanya cukup membuat merinding, suasana yang sepi dan gelap, namun puluhan calo disini nggak seperti di terminal lainya, Tentunya agresif! Bagaimana tidak, seseorang meminta paksa membantu menurunkan Carier dari dalam bagasi, dan setelah itu meminta uang dengan paksa, Terpaksa deh kami kasih selembar uang lima ribuan (ikhlas).

Tips, kalau naik bus turun Mandalika mending kalian turun diluar terminal aja untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan. Oh Tuhan, mengerikan sekali tempat ini, langsung aja ku telfon si Risky teman baru kami tadi yang tadi udah nyampek duluan di Mataram dengan travelnya, kusuruh dia nyariin angkot Carter untuk mengantar kami kerumah singgah.

Alhamdulillah 5 menit kemudian dia udah nunggu kami bertiga di depan terminal dengan pak sopir angkot. Kami naik mobil angkot ber empat, dan hal menegangkan belum selesai, tiba-tiba datang 3 Orang yang memotong jalanya angkot, tau mereka ngapain? Minta duit sama pak sopir angkot yang kami tumpangi, dengan ketakutan pak sopir pun memberi sedikit uang, kata pak sopir "itu preman mas, dulu mereka semua teman saya, jadi kalau saya dapat penumpang mereka pasti malakin saya minta uang", oh kasihan sekali pak sopir ini. INI NYATA, BUKAN CERITA FIKSI!.

Kembali ke topik, jarak antara terminal Mandalika ke rumah singgah nggak seberapa jauh, sekitar 20 menit aja dengan tarif perorang Rp 15.000.

Info, untuk kalian yang sedang backpacker ke lombok kalian bisa bermalam dirumah singgah ini, GRATIS. Untuk alamatnya saya lupa,  bisa searching aja di forum facebook. Setelah sampai dirumah singgah kita disambut dan berkenalan dengan para pelancong dari seluruh penjuru indonesia. Sambutan yang hangat, dengan secangkir kopi dan obrolan-obrolan tentang seputar destinasi Lombok. Disitu kalian bisa lihat katalog wisata-wisata Lombok, plus daerah dan akses transportasinya.

Buat kalian yang pengen cari rentalan motor bisa menghubungi mamak dan bapak untuk minta tolong meminjamkan motor ke teman beliau yang menyewakan motor (tarif rental motor Rp 50.000 per 24 jam). Beliau ini yang punya rumah persinggahan buat para backpacker. Bapak dan mamak sangat ramah, trimakasih bapak mamak sudah menampung kami hehe. Semoga allah memberikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah buat bapak dan mamak, kalian juga nanti bisa tanya-tanya soal berdirinya rumah singgah kepada bapak dan mamak yang dermawan ini.

Setelah berkenalan satu sama lain dan ngobrol panjang lebar, kami ber empat Kanzul, Bobi, dan Rizky berencana mengisi perut karena perut sudah keroncongan, tak jauh dari rumah singgah kami membeli nasi goreng dipinggir jalan raya, harganya nggak mahal kok, standart lah kayak disurabaya, Nasi goreng + es teh Rp 12.000. Kenyang, kami kembali kerumah singgah untuk membersihkan badan dan beristirahat, sampai jumpa besok pagi.

Hari 3

Sabtu, 27-12-2014

inggitguitara_2015-01-12_00-17-51

Hari ini jadwalnya njemput juragan Udin di Bandara BIL lombok, masih ingat kan dengan Udin? Hehe

Pukul 07.00 kami bertiga udah siap menjemput Udin di Bandara dengan menaiki motor yang kami sewa melalui bapak dan mamak. Teman kami Risky bergabung dengan rombongan Backpacker lain untuk mengexplore pantai-pantai dilombok, begitu katanya. Tanpa GPS dan google map, hanya bermodal tanya sana tanya sini karena kami buta jalur untuk menuju BIL, yang begini ini nih serunya.

Akhirnya ketemu juga, pukul 08.00 kami sudah sampai didekat Bandara, dan kedatangan udin pukul 10.00, bosan juga nih kalau nunggu dua jam, akhirnya kami sepakat untuk mencari destinasi yang lumayan dekat dari bandara, Pantai Semeti dan pantai Mawun yang kuingat dari melihat katalog dirumah singgah semalam! Oke, kita putar balik dan mampir sebentar untuk mengisi perut, cukup nasi bungkus Rp 5.000 aja untuk mengenyangkan perut hehe, ngirit banget ya. Informasi akses jalan sekitar pantai semeti dan mawun sudah saya dapat dari beberapa orang dan warga sekitar saat makan tadi, Tancap!!!

Untuk info lengkap cerita dipantai Semeti dan pantai mawun bisa dibaca pada tulisan saya berikutnya.

Kulihat sudah pukul 10.00, waktunya menjemput Udin ke bandara, kami beranjak dari pantai dan menuju BIL. sesampainya di Bandara dan bertemu Udin kami langsung berencana ke pantai Senggigi, Lombok Utara, Mubazir juga waktu kami kalau nggak dibuat keliling-keliling, karena rencana utama mendaki gunung Rinjani baru besok pagi, sayang kan, lagian hari masih siang hehe.

Pantai senggigi berada di Lombok utara, sepanjang jalan kami dimanjakan indahnya lautan yang luas. Rute kami selanjutnya ke air terjun gangga yang juga terletak di Lombok Utara, emang air terjun ini nggak sebagus air terjun benang kelambu sih, tapi lumayan lah buat ngisi wakti dihari itu hehe. Hujan terus mengguyur lombok utara, tak terasa sudah sore dan waktunya kami kembali ke rumah singgah.

Hari sudah mulai gelap, dan dengan tiba-tiba banjir bandang datang waktu itu, membuat jalur lombok utara macet total, dan kami dibingungkan oleh hal ini, sehingga kami harus memutar jalan yang tentunya lumayan jauh dari jalur utama ke kota Mataram. Hari yang melelahkan bukan? Tentu. Pukul 21.00 akhirnya tiba dirumah singgah, kami langsung istirahat setelah makan malam dan mandi karena hari esok lah tujuan utama kami, pendakian Rinjani! Secepat mungkin harus terlelap biar tenaga kembali fit, sampai ketemu besok pagi.

Hari 4

Minggu, 28-12-2014

10888769_10202123757454334_1643841802062905278_n

Pagi penuh semangat, semangat untuk mencumbu tanah tertinggi lombok. Saatnya packing, semuanya sudah masuk ke dalam carrier termasuk logistik yang kami beli di mini market semalam, ahh makin berat pastinya beban dipunggung nanti. Kami akan berangkat ber 5, si Risky akhirnya teracuni juga, dia pengen ikutan kita ke rinjani, katanya sih ini akan jadi pengalaman pertamanya karena dia belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Sebenarnya tujuanya ke pulau komodo, tapi akhirnya tergiur oleh iming-iming kami tentang betapa indah duduk diantara awan yang ada dibawah kita, hahaha lebay ya.

Sesudahnya mandi dan bersiap berangkat, lagi-lagi mamak dan bapak berbaik hati menyiapkan sarapan buat kami, semoga Tuhan membalas kebaikan mamak dan bapak, terimakasih sebanyak-banyaknya bapak mamak.

Rasanya bahagia sekali hari ini, tak lupa kami berfoto bersama dan berpamitan dengan bapak dan mamak, dan mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya telah bersedia menampung kami dilombok.

Setelahnya, Udin menelfon taxi untuk mengantarkan kami ke terminal mandalika, karena kendaraan pick up yang kami pesan semalam sudah menunggu disana (tarif taxi Rp 30.000). Sekedar info, pick up ini bisa mengantar kalian ke sembalun, harga yang ditawarkan Rp. 50.000 per orang, pinter-pinter nawar ya.

Pick up ini biasa ngetem di depan terminal mandalika setelah mengangkut sayuran yang dibawa dari sembalun, kemudian akan balik lagi ke sembalun siang/sore hari, sayangnya contact beliu sudah hilang. Perjalanan dari mataram ke sembalun memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Jauh ya? Lumayan. Tapi pemandanganya keren banget, nggak bikin bosan. Hawa dingin pun perlahan memeluk tubuh kami diatas bak mobil, membelah jalan besar diantara daun hijau dan pohon-pohon besar khas pegunungan.

Oh iya, kami bertemu teman baru lagi, mereka juga mau mendaki gunung rinjani, kami bertemu saat dipasar Aikmel ketika mobil berhenti untuk mengangkut barang titipan, dan mereka menumpangnya. Mereka berasal dari lombok, jadi mereka udah sering naik turun Rinjani, udah nggak sabar banget pengen segera menapaki jalan setapaknya, setelah mendengar cerita keindahan Rinjani dari bang Bogar, salah satu teman baru tadi.

Pukul 15.45 kami tiba di basecamp perijinan, lalu membeli tiket,  harga tiket Rp 5.000 perhari, kami ijin mendaki selama 4 hari jadi kami membayar Rp 20.000 per orang. Setelah selesai mengurus perijinan, kami melanjutkan ke perkampungan sembalun tempat titik awal jalur pendakian. Lapar mulai menghampiri, saatnya mengisi tenaga lagi karena pendakian akan segara dimulai. Ada beberapa warung makan disini, harga sepiring nasi sambal dan lauk telur +krupuk+air mineral gelas Rp 15.000, dijual sepaket hehe.

Waktunya melangkah, pukul 17.00 kami mulai bergerak melewati pemukiman warga. Jalanan yang kami lewati tidak terlalu menanjak, sehingga tidak terlalu menguras nafas, bisa disambi dengan menghisap sebatang nikotin.

Setelah berjalan 30 menit kita sampai di pintu hutan yang sangat lebat khas pegunungan, awas disini banyak kotoran sapi, jangan sampai ke injak. Masih terang, karena disini matahari mulai terbenam dan gelap kira-kira pukul 18.30 WITA, jadi kami tidak terlalu terburu-buru mengeluarkan headlamp.

Sekitar 20 menit sampailah pada Savana yang luas dan hijau, dijalur sembalun ini dari pos 1 ke pos 2 di dominasi padang savana. Entah sudah berapa jembatan yang kami lalui, disini terdapat beberapa jembatan karena tidak memungkinkan jika berjalan menyebrang melewati sungai kering yang sangat terjal tersebut. Pukul 18.00 sampailah dipos 1, jalur yang terlewati dari pintu hutan sampai pos 1 tidak terlalu menanjak, tapi konstan naik terus. Lumayan lah buat pemanasan hehe.

Sebatang rokok lumayan buat mengusir dingin, kabut enggan bergerak sore itu, tipis dan semakin semar bukit-bukit dibuatnya.

Selama perjalanan cukup ramai kami berjumpa dengan pendaki yang datang dari penjuru indonesia. Pelan tapi pasti kami melangkah menuju pos 2 dan melanjutkan ke pos 3, karena target kami akan bermalam dipos 3, dan akan melanjutkan pendakian esok hari. Malam sudah sepenuhnya menjadi malam, dengan adanya gelap, saatnya menyalakan headlamp sebagai penerang jalan, kami beristirahat dipos 2 sebentar saja dan melanjutkan perjalanan.

Pukul 19.30 kami sampai di pos 3, seperti biasa kami membagi tugas, ada yang mendirikan tenda dan ada yang memasak untuk makan malam, nggak lupa juga secangkir kopinya buat pengusir dingin hehe. Malam semakin hening, sisanya suara alam dan nafas yang tersendat (ngorok). Selamat malam, selamat beristirahat, besok akan jadi hari yang lebih melelahkan dari hari ini.

Hari 5

Senin, 29-12-2014

inggitguitara_2015-01-03_21-23-49

Pagi dingin sedingin-dinginya, tentu saja karena ini lagi digunung, kulihat jam menunjukan pukul 08.27, matahari entah kemana, tapi terang namun berkabut. Rasanya enggan sekali meninggalkan sleeping bag yang menempel ditubuh, ternyata ketiga temenku udah pada bangun, apalagi yang dilakukan mereka kalau nggak lagi berfoto ria. Sebaiknya kususul mereka, sayang juga kalau disini cuma buat tidur-tiduran haha.

Apa yang kamu rasakan dipagi hari ketika bangun? Jawab sendiri, dengan menuruni bukit disini akan menemukan sumber mata air yang berupa pancuran. Buat kalian yang mau buang ranjau, jangan dibuang sembarangan, meskipun itu sampah organik! kasihan orang lain kalau terkena ranjau yang kamu pasang disembarang tempat. Segar sekali rasanya setelah cuci muka dan lainya, masih sama dengan ekspresi kedinginan karena matahari belum menyembul.

Sekarang waktunya masak dan sarapan dengan nasi yang kurasa setengah matang dan beberapa bungkus mie instan, dan melanjutkan seperti biasa dengan bagi tugas bongkar tenda dan packing semua barang. Pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju pos plawangan Sembalun, karena disanalah target kami bermalam selanjutnya. Plawangan sembalun adalah akses jalur turun ke segera anak dan pos terakhir ketika melanjutkan pendakian ke puncak Rinjani. Rasanya kaki bakal ogah-ogahan ketika melihat jalur didepan yang berada di pos 3 ini, terlihat jelas track sangat menanjak dan curam.

Awal mulai yang melelahkan untuk berjalan dipagi hari. Setapak demi setapak kami lewati, dengan target berjalan 20 menit dan beristirahat 3 menit. Mungkin dengan management waktu seperti ini kami bisa datang lebih awal diplawangan sembalun. Jalan setapak makin menanjak, butiran keringat kami tentu tak bisa disembunyikan lagi dengan nafas yang berantakan.

Dengan menebak, mungkin jalur ini yang dijuluki tanjakan penyesalan, bagaimana tidak, track dengan kemiringan yang sangat curam membuat kami jadi lebih sering berhenti, walaupun ucapan motivasi semangat dari pendaki lain yang berpapasan terus berdatangan. Untuk menuju plawangan sembalun dari pos 3 tadi dibutuhkan waktu 5-6 jam (versi kami), Bayangin sendiri ya tracknya, jalur menanjak dengan didominasi pohon pinus yang sejuk dan tanah berdebu, namun sangat menguras tenaga.

Kulihat jam tangan menunjukan pukul 15.25, kurasakan semakin mendekati plawangan sembalun karena batas hutan dan pohon semakin sedikit yang kami jumpai. Dan akhirnya tiba juga kami diplawangan sembalun pukul 16.00, setelah menaiki beberapa bukit yang penuh surprise dari pos 3, maksudnya surprise yaitu bukit yang kami lihat didepan dengan menengadah keatas sepertinya sudah habis, ternyata masih ada lagi, dan masih ada lagi, sungguh membuat kami sedikit frustasi haha. Kembali ke cerita plawangan sembalun, Subhanallah sungguh indah ciptaanmu Tuhan, mataku takjub serasa merampas lelah.

Rasanya ingin berlama-lama memanjakan mata disini, pada luasnya kaldera dan birunya air pada segara anak. Lengkap dengan sang surya yang semakin tenggelam termakan malam, itu mungkin yang dinamakan surga sunset. Hehe, sory makin lama makin alay juga kata-kata saya, maklum lah ini gambaran tentang karya sang Pencita jadi harus kutulis seindah mungkin, wakakakakak.

Tenda sudah berdiri, walau tak sekokoh dan semewah perumahan Citraland di Surabaya, tapi cukup menyamankan peristirahatan kami. Seperti biasa, setelah tenda berdiri kami pun menyiapkan makan malam, tentunya dengan menu seperti biasa, MIE INSTAN! Tapi kali ini akan lebih istimewa karena dikolaborasikan dengan tempe goreng dan ikan teri. Istimewa kan? Pastinya, Tak akan lengkap jika kopi tak tersedia.

Dengan baik hati teman baru kami yang berasal dari lombok membuatkan kami secangkir kopi asli lombok, secangkir ber empat, romantis sekali malam yang kau berikan ini Tuhan, terimakasih bang Asep buat kopinya. Dinginnya plawangan sembalun memaksa kami untuk masuk kedalam tenda, setelah membakar nikotin dan membaurkan asapnya dengan kabut malam.

Semua alarm sudah dinyalakan pukul 12.00 malam, jam yang kita tunggu, jam yang mengantar kami ke tanah tertenggi lombok. Selamat tidur wahai kawan.

Hari 6

Selasa, 30-12-2014

inggitguitara_2015-01-14_20-22-01

Dering alarm berbunyi lantang bersahutan pukul 00.00, dengan masih mengumpulkan semangat kami bergegas menyiapkan apa yang harus dibawa kepuncak, pastinya roti dan se sachet cream coklat dan beberapa air minum untuk sarapan dipuncak nantinya.

Info sumber mata air di plawangan sembalun, untuk mengambil air bersih kita harus menuruni bukit ke kiri punggungan yang lumayan jauh, kira-kira 20 menit PP dari camp ground. Setelah semuanya siap kami berkumpul untuk berdo'a agar bisa menggapai puncak dengan lancar tanpa halangan sedikitpun.

Saran, jika kalian hendak summit attack dan nggak ada yang njaga tenda, mending kalian gembok aja pintu tenda, biar nggak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, karena banyak cerita dari mulut ke mulut di plawangan sembalun banyak pencurian, entah siapa yang melakukanya, yang pasti kita harus tetap waspada.

Oke lanjut ke cerita, derap kaki terdengar tak berirama karena saking ramainya, sorotan lampu senter kepala menembak-nembak bukit diatas sana, dan dengan sisa-sisa tenaga kaki kami bergerak seakan memaksa, oksigen semakin menipis, tanjakan berpasir semakin naik dengan konstan, lelah sekali dini hari ini, ditambah dingin yang menusuk tulang.

Langit mulai meninggalkan gelapnya, akan tetapi jalan ke puncak masih sangatlah panjang, entah berapa kali kami berhenti untuk sekedar minum dan merokok. Cuaca Alhamdulillah, hanya sedikit kabut yang menutupi Segara Anak, kadang bergerak cepat kadang juga enggan, nampak exotic sekali pagi ini Segara Anak dilihat dari jalur menuju puncak.Pukul 05.30 sedikit terlihat puncak rinjani, dengan sorot lampu senter pendaki yang sudah tiba disana. Semakin mendekati puncak, rombongan kami berlima makin jauh terpisah satu sama lain. Langkah sengaja saya perlambat, kenapa? Takut diatas kepagian dan kedinginin pastinya, karena saya memang nggak ngejar sunrise, yang penting sampai puncak aja uda bersyukur.

Pukul 06.25 sampailah kami dipuncak rinjani, yang biasa disebut juga dengan puncak anjani. Terimakasih Tuhan, telah kau berikan kekuatan makhluk kecilmu ini untuk menggapai tanah tertinggi Lombok Nusa Tenggara Barat, gunung berapi tertinggi kedua setelah gunung Kerinci di Indonesia. Rasanya ingin meneteskan air mata haru, dan sangat terharu karena kami berhasil menggapai puncak.

Bersyukur dan bersyukur, terkagum kagum dan sangat kagum, tanah Rinjani benar-benar memanjakan mata, melihat gugusan bukit yang indah dan Segara anak yang terlihat dengan gagahnya didepan mata.

Tidak terlalu banyak yang berada dipuncak saat ini, mungkin kurang lebih 30an orang. Puncak rinjani berupa bebatuan dan tidak terlalu lebar seperti Semeru.

Cukup 1 jam lebih kami berada dipuncak, cuaca yang lumayan tidak terlalu berkabut memaksa kami untuk mengabadikan momen ini dengan berfoto sebanyak-banyaknya. Setelah puas berfoto dan mengobrol sana-sini dengan orang-orang yang berada dipuncak kami putuskan untuk kembali ke plawangan sembalun. Pukul 08.00 kami berjalan menuruni setapak dari puncak, jalan berpasir disini tidak setebal semeru, jadi agak was-was untuk berlarian hehe.

Jalan cepat tapi. Santai, cuaca cerah memancing saya untuk berfoto dengan latar belakang Segara anak dan gunung baru jari. Gunung Baru jari ini terletak didalam segara anak, dengan bentuknya yang berpasir dan selalu mengeluarkan asap, nampak exotic sekali. Danau Segara anak sendiri berada diketinggian 2100 Mdpl.

Pukul 11.00 Siang sampailah saya dan kawan-kawan di Plawangan sembalun dengan tenaga yang hampir habis, sangat lelah dan pastinya ngantuk banget! Dan kami nggak boleh tidur, karena setelah ini kami harus melanjutkan perjalanan menuju Segara anak, rencananya kami akan bermalam disana.

Setibanya kami langsung memasak untuk mengisi tenaga, tentunya dengan menu yang sama, Mie Instan dan nasi, tapi agak istimewa karena ada kacang ijo pada hidangan kali ini, itupun didapat dari pendaki asal bandung, mereka memberikanya kepada kami karena meraka akan pulang melewati jalur sembalun, biar ngurangin beban katanya, Yaudah rejeki nggak boleh ditolak, makasih ya bang hehe.

Setalah sarapan siang, kami berencana untuk packing mengemas barang, tapi apa daya hujan tiba-tiba mengguyur dengan derasnya, maklum cuaca digunung memang cepat berubah-ubah. Akhirnya kami pun menunda perjalanan, menunggu hujan reda sambil bercerita biar nggak ketiduran.

Pukul 14.30 hujan nampaknya sudah reda, dan kami beranjak untuk packing dan membongkar tenda. Selesai sudah packing, let's go. Kami bergerak cepat menuruni sisi kanan punggungan. Jalan menurun sangat curam dan berbatu sehingga langkah kami agak terhambat karena track yang licin. Perjalanan makin melelahkan ditambah kabut yang sangat pekat, langkah demi langkah terus kami ayunkan berharap segera sampai.

Menurut Info dari pendaki yang berpapasan dengan kami, jarak dari plawangan sembalun ke Segara anak kurang lebih memakan waktu 3 jam, lumayan lah. Hari sudah mulai gelap tiba saatnya membutuhkan penerangan, sambil istirahat kami mempersiapkan headlamp dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Pukul 19.00 kami tiba disegara anak, hari yang melahkan. Suasana malam  sangat ramai disini, karena memang kurang afdol aja kalau ke rinjani nggak turun ke Segara anak hehe. Tidak banyak yang kami lakukan malam ini, nggak buang-buang waktu buat istirahat, kami langsung bagi tugas, mengambil air dan mendirikan tenda. Selesainya kami langsung beristirahat, yang sebelumnya tanpa makan malam, hanya membuat secangkir teh hangat dan kopi sebagai penghangat tubuh. Sampai jumpa besok pagi.

Hari 7

Rabu, 31-12-2015

inggitguitara_2015-01-04_18-23-44

Pagi yang tidak terlalu dingin, tidak seperti di Plawangan Sembalun atau pun dipos 3. Nyaman sekali, dan rasanya membuat malas membuka mata, namun teringat tujuan saya, yaitu menikmati keindahan alam rinjani, sayang kan kalau hanya tidur-tiduran aja disini. Seperti biasa, saya selalu bangun tidur paling akhir.

Segar sekali udara yang masuk setelah kubuka pintu tenda, dan serunya melihat teman saya yang memancing ikan dengan sangat mudahnya, kayak dikolam pemancingan, baru naruh umpan langsung disambar! Entah berapa ikan yang mereka dapatkan, yang pasti banyak sekali, sampai nggak habis untuk dimakan, sehingga kami membagikan hasil pancingan itu ke teman pendaki dari lombok yaitu bang bogar dan kawan-kawan.

Sarapan pagi dengan menu yang sangat-sangat special menurut saya, ikan mujair dan tombro yang lumayan gede-gede, tentunya dengan bumbu seadanya, tapi tidak mengurangi kenikmatanya. Sedikit info, air di segara anak ini tidak dapat diminum karena airnya mengandung belerang, kalau kalian sakti diminum aja hehe. Untuk mencari sumber air membutuhkan waktu sekitar 30 menit PP, di deket sumber air itu ada sungai yang mengeluarkan belerang, jadi airnya hangat, lumayan buat berendam.

Setelah memasak, sarapan, nyeruput kopi, ngeteh, mandi kucing, sikat gigi dll, saatnya packing. Kami akan turun pulang lewat jalur senaru, tentunya akan naik lagi melawati tebing-tebing curam kemudian turun setelah sampai plawangan senaru.

Pukul 11.00 siang kami melangkah pergi meninggalkan camp ground dan berpisah dengan pendaki asal lombok yang sangat baik hati, tak lupa juga kami berfoto bersama. Perpisahan yang menyedihkan, sampai jumpa lagi kawan-kawan pendaki dari lombok.

Masih penuh semangat, karena kondisi tubuh yang lumayan fit setelah beristirahat semalaman. Langkah demi langkah menyusuri pinggir danau dan sesekali harus merunduk karena terhalang oleh pohon-pohon yang tumbang, dan pastinya kami tak akan lupa mengabadikan moment dengan berfoto hehe. View dari sini tidak berbeda jauh dengan danau ranu kumbolo yang ada digunung Semeru.

Perjalanan sedikit menanjak namun terus-terusan, nggak ada bonus ditrack ini. Tebing curam dan berbatu berdiri didepan mata, sehingga melewatinya harus berputar-putar layaknya track pegunungan pada umumnya. Wisatawan dari penjuru dunia banyak sekali yang berdatangan kesini, wajar saja rinjani sangatlah indah.

Dijalur Senaru kami lebih seering berpapasan dengan pendaki dari luar negeri, dan saling bertegur sapa, mereka cinta Indonesia, katanya selain keindahan alamnya, orangnya juga ramah-ramah, begitulah kata temen saya si kanzul yang sering mengobrol dengan seorang bule, saya nggak lancar berbahasa inggris, jadi saya memilih untuk diam saja dan cukup senyum pepsodent.

Lanjut kecerita, sudah 2 jam lebih kami berjalan naik, terus naik, nggak ada bonus, ditambah hujan yang terus mengguyur tanpa ampun, jika berdiam sebentar saja, tubuh rasaya beku, sangat dingin. Jalur masih sama jenisnya, yaitu berbatu dan sangat melelahkan, dan lagi-lagi dibikin frustasi. kebayang kan capeknya?

Sampai di plawangan senaru kira-kira pukul 15.00, masih hujan dan semakin deras. Karena perjalanan masih sangat jauh, kami mumutuskan untuk beristirahat untuk sekedar makan roti dan membuat teh hangat. Sujan sangat deras, sehingga kami nggak sempet mendirikan tenda, yang ada malah basah semua, Akhirnya kami hanya membuka flysheet dan menahanya dengan kepala dan tas carrier, lumayan buat berteduh sementara.

Dingin mulai menyerang kabut semakin tebal dan hujan tak kunjung reda, hampir satu jam kami berteduh. Alhamdulillah hujan udah mulai reda, agak grimis, tapi kami akan tetap melanjutkan perjalanan turun. Di plawangan senaru tidak seramai plawangan sembalun, hanya beberapa tenda, jalur favorit untuk ke rinjani memang via sembalun, selain lebih pendek tracknya juga nggak terlalu payah jika ingin lanjut ke puncak. Jalan menuju pos 3 dari plawangan senaru tidak terlalu curam, yang pasti banyak bonus dan sangat menghibur.

Track di dominasi bebatuan besar, sangat indah, sayangnya disini saya nggak sempet mengambil foto lokasinya karena kamera hape sudah kehabisan baterei. Kurang lebih pukul 18.00 kami tiba dipos 3, terang mulai samar tentunya akan tiba gelap. Sebatang rokok menemani 15 menit waktu peristirahatan kami. Oke, kita lanjut, diperjalanan turun kami jarang berhenti, terus berjalan, berhenti kalau ada pos aja, maklum kuat karena turun dan tracknya tanah empuk hehe, kalau nanjak pasti 5 menit sekali berhenti.

Oh ya, kami nanti juga akan berencana menikmati pergantian tahun 2015 di gili trawangan (kalau sempat), itu yang membuat kami bersemangat. Jalur dari pos 3 menuju pos 2 banyak pohon-pohon yang sangat lebat dan pastinya masih jauh bangat, perlu kira-kira 3 jam perjalanan. Pukul 22.00 kami tiba dipos 2, lumayan banyak pendaki yang beristirahat, tapi nggak ada yang ngecamp.

Sambil menunggu Udin, rizky, dan kanzul mencari air karena persediaan air sudah menipis saya ngobrol sana-sini dan bertanya apa ke pos 1 masih jauh, ternyata jawabanya bikin frustasi, beliau bilang kira-kira jam 1 mas sampai di desa terkhir, yang saya tanya kebetulan seorang porter, langsung saja semangat mendadak hilang, nggak jadi tahun baruan deh! Lemes.

Pukul 22.30 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1, hening hutan dan aroma belukar mengiringi setiap langkah yang cepat dan berharap tiba didesa terakhir pukul 00.00, mengharap ada pesta tahun baruan disana, berangan-angan kami dapat makan dan minum brem gratisan.

Setalah berjalan 30 menit tanpa henti, tiba-tiba kanzul mendadak berhenti seperti ada yang tertinggal, bener saja! Tas slempang berisikan dompet, 2 handphone, powerbank dll tertinggal dipos 2, saling pandang terlihat muka datar dari raut wajah mereka, oh Tuhan cobaan apalagi ini, setelah sepatu milik kanzul yang tertinggal di bus saat diterminal mandalika sekarang ganti tas slempang! Sory, nggak saya ceritakan tentang kisah sepatu yang tertinggal dibus pada awal cerita.

Masa iya tas berisikan barang berharga gitu di ikhlaskan, sebelum di ikhlaskan kanzul berencana balik ke pos 2 dengan ditemeni udin, usaha dulu, kalau nggak ketemu baru di ikhlaskan. Baru saja 15 menit kami bertiga menunggu, kanzul dan udin datang dengan wajah sumringah, kok cepet banget batinku, ternyata belum sampai tengah perjalanan tas kanzul dibawa turun oleh pendaki dari Bandung, dan dikembalikanlah tas itu, Alhamdulillah ya Allah, oke kita lanjut jalan.

Pukul 11.15 kami tiba dipos 1, jarak pos 2 ke pos 1 tidak terlalu jauh, kira-kira 1-2 jam jika berjalan santai. Setibanya kami langsung menggelar lapak untuk memasak, perut udah keroncongan banget tentunya dengan menu yang sama, Mie Instan yang tersisa 3 bungkus buat berlima, tetap Alhamdulillah, ini semacam nikmat, kalau nggak percaya coba aja buat kamu yang sukanya dirumah aja, yang nggak pernah nikmatin berpetualang di alam bebas kayak gini, apapun makananya pasti bahagia haha. Setelah lumayan membasahi perut dengan mie instan berkuah, kami melanjutkan perjalanan ke pintu hutan dengan semangat karena udah dekat.

Diperjalanan menuju pintu hutan kami sering bercanda untuk mengusir lelah, serasa tidak percaya kami telah melakukan perjalanan begitu panjang yang melelahkan dan terbayar oleh isi keindahan gunung rinjani ini, Trimakasih Tuhan.

Hari 8

Kamis, 01-01-2015

11044627_771645579571047_1537066042389783314_n

Happy New Year, selamat tahun baru 2015, begitulah teriakan kami di perjalanan menuju pintu hutan, saling peluk satu sama lain, saat terdengar dering alarm dari jam tangan saya hahaha. Alhamdulillah lagi, semoga ditahun 2015 ini kami dapat menikmati ciptaanMu dilain waktu dan dilain tempat, begitu do'a kami berlima saat beristirahat merayakan pergantian tahun dipintu hutan gunung rinjani.

Buat pembaca banyak-banyaklah bersyukur, nikmati apa yang menjadi hak bahagiamu, berpetualanglah, Tuhan senantiasa bersama pecinta ciptaaNYA, hehe sory jadi kebanyakan ceramah. Pukul 00.45 kami sudah sampai di desa terakhir, dan bermalam diwarung mamak, entah nama mamak itu siapa tapi orang-orang manggilnya mamak, jadinya saya ikut-ikutan manggil mamak.

Sesampainya, kami langsung makan sepuasnya, karena jujur mie instan yang terakhir kami makan dipos 1 sangat tidak membantu jeritan perut kami, harga nasi Rp 10.000 lauk telur dengan sambel super pedas, silahkan dicoba rasa pedasnya ya. Rencana besok kami akan mampir ke Gili trawangan, karena rasanya kurang lengkap kalau ke lombok nggak ke gili-gili di lombok.

Mobil carter sudah kami pesan untuk mengantar ke bangsal (pelabuhan menuju gili trawangan) dengan tarif   Rp 50.000 per orang, pinter-pinter nawar ya. Pagi-pagi sekali sudah terbangun karena mobil carter udah nunggu diwarung mamak, jam 7 kami berangkat dan tak lupa kami mampir sebentar ke suku sasa dikaki gunung rinjaniPukul 09.00 kami tiba di pelabuhan bangsal untuk menyebrang ke gili trawangan, cerita digili ditunggu aja, akan saya tulis di blog saya nantinya.

Jam 17.00 kami tiba di pool Damri, terminal bus Damri mataram, dengan menaiki angkutan dari lombok utara ke mataram (tarif Rp 20.000). Dari sini kami berpisah dengan rizky, karena dia mau melanjutkan perjalanan pulang ke tarakan dengan transportasi darat. Sedih sekali rasanya jika ada perpisahan, sampai jumpa lagi ris, kalau ke jawa mampirlah, nanti kuajak naik gunung-gunung dijawa, begitu kataku memberi salam perpisahan kepadanya.

Pukul 18.00 kami tiba di bandara internasional lombok (BIL) dengan memakai transportasi bus Damri, tarif Rp 30.000. Kami akan berencana menginap disini, entah dimana pokoknya beratap haha. Sesampainya, seperti biasa kami memasak, memasak? Ya memasak dengan menu yang sama, Mie instan! Ngirit coyyyyy hahaha.

Besok pesawat kami berangkat pukul  08.00 WITA, karena sangat lelahnya kami langsung tertidur dihalaman bandara beralaskan matras, yah terlihat nelangsa banget ya? Hahaha yang penting asik lah.

Hari 9

Jumat, 02-01-2015

IMG-20150105-WA0025

Tibalah kami pukul 09.00 WIB dibandara juanda surabaya, perasaan bahagia tiada tara dengan lelah yang terbayar indah. Terimakasih untuk pembaca, sudah mampir ke blog saya, sudah berkenan membaca cerita perjalanan saya ke gunung Rinjani. Dan saya minta maaf sebesar-besarnya jika ada kata yang kurang sopan untuk dibaca, maklum gan, masih newbie hehe. Sampai jumpa dicerita-cerita saya selanjutnya, semoga menghibur dan bermanfaat.

Salam lestari bumiku Indonesia...

 

Biaya transportasi

*Wiyung-joyoboyo (angkot)  Rp 4.000

*Stasiun-terminal (angkot) Rp 7.000

*Surabaya-mataram (bus) Rp 280.000

*Mandalika-Rumah singgah (carter) Rp 15.000

*Sewa motor 80.000+bensin

*Rumah singgah-mandalika (taxi) Rp 30.000

*Mandalika-sembalun (pickup) Rp 50.000

*Senaru-bangsal (carter) Rp 50.000

*Bangsal-mataram (angkot) Rp 20.000

*Mataram-bandara BIL (bus damri) Rp 30.000

*Bandara BIL-juanda (pesawat) Rp 600.000 (citylink)

Biaya hidup selama dilombok

*Makan rata-rata 10.000+minum selama sebelum dan sesudah pendakian. 9x makan

*Iuran logistik untuk kelompok Rp 100.000+tiket perijinan pendakian

Total budget keluar

Transportasi 1.166.000+biaya hidup 190.000= Rp 1.356.000 juta.

 

 

Komentar

  1. Rinjani akan selalu dirindukan banyak orang

    Trimakasih mas Wisnu Yuwandono, sudah mampir :)

    BalasHapus
  2. Serasa kembali ke pendakian itu mas ;(( Luar Biasa! terimakasih telah sudih saya repotkan. Ada tiga kalimat sakti kalian yang masih saya ingat

    1. Betapa Indahnya duduk diantara awan yang berada dibawah kita
    2. Kamu harus minum air gunung, kesegarannya tak tertandingi
    3. Ada Indomaret diatas, ayo semangat ngopi-ngopi diatas

    Tiga kalimat ini menjadi penyemangat, terimakasih telah menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan semoga suatu saat kita bisa bertemu digunung-gunung yang lain. Bila selama bersama saya ada salah mohon tegur dan maafkan :D

    tapi kejadian yang masih bikin merinding adalah ikan yang aku bawa di ranselku sampai senaru aseli aku masih takut diikuti penunggu hahahha ... nice trip ... nice people .. nice experince :D

    BalasHapus
  3. Huaaaa :'( kereen euyyy
    Bikin ngiler aja bang.
    Semoga taun ini mimpi ke rinjani jd kenyataan juga.
    Btw two thumb semangatnya setelah ditinggal kereta.
    Masa iyaa gak pernah naik kereta. Xkckcxk

    BalasHapus
  4. Amiiiin, semogacepatc kesampaian.

    Pernah sih, wakti kecil dulu. Aku kalau mau naik kereta mesti gagal. Kehabisan tiket lah, apalah..akhirnya berakhir ke bus deh. :(

    BalasHapus
  5. Kalian kayak sinetron2 yaaa ketinggalan kereta hahaha

    BalasHapus
  6. Kalian kayak sinetron yaaa ketinggalan kereta

    BalasHapus
  7. Ya dong...sayangnya ini nggak ada adegan kejar2anya wkwkwk

    BalasHapus
  8. Sekalian dong Bang, minta link Blog nya... Catatan pas di Gili... Butuh tambahan referensi... Hihi

    BalasHapus
  9. Coba baca2 ini...siapa tahu membantu.
    http://www.lajurpejalan.com/2015/08/jalan-jalan-murah-ke-lombok-bisa.html

    BalasHapus

Posting Komentar