Ranukumbolo yang Selalu Bikin Kangen

Dinginnya desa Ranu Pani di pagi buta membuat saya tak henti terjaga. Setibanya disana pukul 04.00 pagi dengan menggunakan kendaraan roda 2 dari Surabaya. Masih bersama kedua travelmate saya, yaitu Kanzul dan Boby. Kami akan melakukan pendakian ini bertiga, dan Tujunya adalah puncak Mahameru. Meskipun ini bukan kali pertama ke Semeru, tetapi entah kenapa gunung ini selalu menghadirkan kerinduan. Tentang sunrise Ranukumbolo, bunga bertabur ungu menyerupai lavender di oro-oro ombo, anjing porter di Cemoro kandang, dinginya suhu di Kalimati dan banyak lagi yang tak akan terlupa.

Pukul 08.00 kami mengurus surat  Perijinan di pos perijinan Ranu Pane dan melanjutkan sarapan didekat lokasi perijinan. Suasana tidak begitu ramai, mungkin karena 4 hari lagi akan tiba bulan puasa, bahkan bisa dibilang sangat sepi, mengingat besarnya antusias pendaki seluruh Indonesia untuk menjajaki tanah tertinggi dipulau Jawa ini. Perut pun sudah kenyang namun tak bersinergi dengan perihnya mata yang kian meredup, maklum dari kemarin belum sempat memejamkannya.

DSCN1315_1

Kami sempat berkenalan diwarung makan dengan pendaki asal banjarmasin dan ibu-ibu berusia 62 tahun yang berasal dari Bojonegoro. singkatnya disitu kami bercerita pengalaman tentang pendakian dan melanjutkan tracking menuju setapak. Hebat, umur beliau sudah lebih dari setengah abad tapi semangatnya luar biasa untuk bersilaturahmi dengan tanah-tanah tertinggi Indonesia.

Matahari sedang berdamai, tak ada mendung dilangit-langit, hanya terkadang kabut yang tak tenang berlalu lalang pergi menemani langkah. Setapak kami lewati dengan cepat menuju pos satu, sampai kemudian di suguhi semangka segar disana. Lumayan untuk menyegarkan tenggorokan dan sedikit mengusir rasa kantuk yang semakin menjalar. Semangka ini dihargai Rp 2.500 perpotong, cukup mahal namun sebanding dengan perjalanan beliu yang membawa semangka dari desa ke pos satu ini.

Menuju pos 2 pun kami jarang berhenti, karena pengen cepet-cepet sampai di Ranukumbolo untuk tidur sebentar dan kemudian lanjut Kalimati. Jalur menuju Ranukumbolo menurut saya sangat bervariasi, kadang menurun, kadang menanjak, kadang datar, inilah asyiknya, tidak terlalu menguras tenaga dan cenderung banyak track bonus. Sampai juga dipos 2, saya mengeluarkan sebungkus biskuit dari tas carier untuk cemilan, dan pastinya dengan sebatang nikotin merek Selera Pemberani. 15 menit berlalu dan melanjutkan perjalanan menuju pos 3.

Kabut datang perlahan penuh mesrah siang itu, aroma hutan yang menyeruak segar kedalam pernafasan sebagai obat rindu pada tanah Mahameru. Kadang bertemu sebungkus sampah, segerombol botol air mineral yang terbuang bukan pada tempatnya. Saya heran kenapa masih ada pendaki yang meninggalkan bungkus sisa makanan dan minuman mereka, kenapa tak dibawa turun, sedangkan dimana letak kesadaranya? Mungkin di dengkul.

DSCN1312_1

Setidaknya bawalah sampah pribadi, saya kira tidak terlalu berat jika hanya membawa beberapa sisa bungkus makanan dan botol plastik air mineral. Naik gunung memang berat, selain menguras fisik tenaga kita juga dituntut menjaga kebersihan dan kelangsungan ekosistem dihutan. Butuh sadar, disini bukan perkotaan yang terdapat tukang sapu untuk membersihkan sudut-sudut jalan, kalau bukan kita sendiri yang membawa sampah kita, lalu mau menyuruh siapa?

 

Tak terasa sudah sampai dipos 3, dan tak seberapa lama kami beristirahat kemudian melanjutkan ke pos 4. Dari sini nantinya akan menemui tanjakan yang lumayan terjal untuk menuju pos 4, pastinya bikin nafas ngos-ngosan. Dipos 3 banyak ditemui sejenis burung, Entah burung apa yang mendekat, kadang takut lalu berlarian jika para manusia membingkai mereka dalam sebuah foto. Pos 4 berada di atas danau Ranukumbolo, layaknya pos gardu pandang. Jalur menuju camping ground cukup santai karena menurun.

Dari sini kita bisa melihat bukit-bukit savana yang mengarah ke Jalur ayak-ayak. Apalagi ketika datang kesini bulan mei, pasti akan melihat hamparan bunga Verbena Brasilliensis Vell berwarna ungu cerah. Lengkap sudah keindahan danau ini. Dari pos perijinan sampai Ranukumbolo kami berjalan memakan waktu 4 jam. Dan berencana istirahat 2 jam lalu melanjutkan tracking menuju Kalimati, pos terakhir untuk Summit Mahameru.

Kadang rencana tidak selalu sejalan dengan keinginan, Ranukumbolo memberikan jutaan magnet sehingga kami enggan meninggalkanya hari ini. Kabut samar yang tenang menghiasi permukaan air danau memberikan daya tarik yang luar biasa, ditambah kayu-kayu tua yang roboh membentang ke tepi danau, Tuhan, Kau luar biasa tentang sengajamu membuat istimewa tempat ini. Akhirnya kami pun menunda perjalanan ke Kalimati, dan segera mendirikan tenda.

Satu persatu logistik keluar, seperti biasa hidangan pertama yaitu mie instan Indomie yang mengisi perut kami. Setelah kenyang, apa lagi yang kita lakukan kalau tidak tidur, karena memang 2 hari tubuh terjaga ditambah perjalanan kaki selama 4 jam. Sebelum tidur saya sempat bertemu dan mengobrol dengan ibu dari Bojonegoro yang saya temui di warung makan sebelum pendakian tadi pagi. Beliau tiba di Ranukumbolo 2 jam sesudah kedatangan kami. Beliau berkata kepada saya...

"mumpung masih muda mas, jangan dirumah saja, main-main sana keliling indonesia, kalau bisa ya sekalian keliling dunia datangilah tempat-tempat baru, biar tidak menyesal seperti saya"

Beliau menceritakan kisahnya sewaktu muda yang hanya menyibukan diri dengan kerja, kerja, dan kerja, namun tak bisa menikmati hasilnya. Di dalam hatinya sebenarnya ada keingininan besar untuk mengenal lebih dalam tentang Indonesia, dan ketika ingin merealisasikanya, lagi-lagi terpikirkan kalau kegiatan seperti travelling, hiking, dll cuma buang-buang uang. Namun di akuinya, opini tersebut mengundang sesal di usia beliau yang sudah tidak muda lagi. Saya menatap beliau dengan senyum, beliau juga bercerita panjang lebar tentang pendakian tahun lalu ke Rinjani, dan setelah ini akan melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi Sumatra yaitu Gunung Kerinci, Hebat Bu.

Bahagianya bisa berbagi cerita disini,  di Danau yang memiliki jutaan magnet untuk selalu menarik setiap pengunjungnya kembali.

Dari obrolan tadi, saya merangkumnya bahwa apapun pekerjaanya, sesibuk apapun itu, waktu bukanlah menjadi alasan utama. Pandai-pandainya kita saja yang harus memenegement waktu. Soal buang-buang uang, kembali lagi ke masing-masing personal. Memang Setiap orang mempunyai taraf kebahagiaan sendiri. Kalau saya pribadi lebih suka membeli kenangan ditempat seperti ini. Percayalah, hal semacam ini tidak akan sempat terlupakan sepanjang hidup. Dan mari berfoto-foto sejenak, kemudian lanjut tidur.

Indonesia itu negara yang memiliki ribuan pulau, luas lautnya luar biasa lebar nan indah, pesona bawah lautnya, ratusan gunung berapi, ratusan bahasa dan budaya, Semua itu tidak dimiliki oleh negara-negara lain, kenali lebih dalam tempat dimana kita dilahirkan.

DSCN1415_1

Jadi, kalian masih mau foto selfie di toilet mall, di cermin, atau di kamar sambil memeluk guling dan dengan lebar memperlihatkan behel gigimu???

Oh, Tuhan

Komentar

Posting Komentar