Tentang Semesta dan Kejutan

Sampai hari ini mungkin cita-cita saya masih sama seperti orang-orang, cita-cita yang hanya ingin bahagia bahagia dan bahagia, baik itu di Bumi atau Akhirat. Ketika semua orang-orang disekeliling saya membahas game online yang kini sangat buming, saya lebih berminat untuk membaca rute perjalanan destinasi wisata yang belum pernah saya kunjungi, ketika semua orang beramai-ramai berangkat ke bioskop untuk melihat tayangan film terbaru, saya lebih tertarik mengetik hastag foto-foto gunung dan laut di instagram untuk saya impikan.

IMG_20150301_114441

Kadang saya merasa sangat iri dengan mereka yang banyak uang tapi jarang sekali kemana-mana. Traveling, Hiking, Caving dan Diving memang hobby yang nggak murah, sebisa mungkin saya akan mengusahakan untuk itu semua, meskipun nggak murah minimal merasakan jadi orang kaya, dari pada hidup kaya tapi berusaha menikmati kemiskinanya. Saat saya lulus SMA hasrat untuk menemukan dunia baru sangat besar, mimpi untuk berdiri diatas puncak gunung-gunung tinggi seperti rinjani, melihat langsung apa saja yang hidup dalam dasar laut pada pulau-pulau kecil di Indonesia, dan berfoto diantara warga lokal suku Dayak dan sebaginya yang berkaitan dengan alam dan budaya.

Apa yang kita cari kadang bukan untuk yang kita butuhkan, saya mencoba meyakinkan diri, jika batin bahagia maka itulah kesuksesan. Suatu pagi diwarkop yang berdekatan dengan kampus, saya sempat mengobrol dengan sesorang yang sangat hoby sekali dengan olahraga Hiking, beliau adalah seorang pendaki gunung yang usianya kutaksir sekitar 50 tahun. Obrolan itu terbuka ketika beliau bergeming tentang pembangunan tangga menuju puncak gunung penanggungan. Dengan spontan saya bertanya, "sering kesana ya pak?" dengan tersenyum beliau menjawab "iya dik, dulu saat masih muda". Tanpa sadar obrolan kami semakin hangat, beliau antusias sekali menceritakan pengalaman-pengalaman tentang petualanganya.

Terlintas saya mengingat suatu dongeng ayah kepada anaknya saat hendak tidur yang pernah saya lihat ditelevisi, menceritakan khayalan betapa hijau dan indahnya gugusan bukit didalam suatu gunung, dan saya mencoba mengingat lukisan saya saat berusia anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar, lukisan gunung dan sawah, begitu sederhananya bahagia yang terbuat, begitu senangnya melukiskan sebuah khayalan. Alam selalu memberi apa yang kita butuhkan, kalau pikiran stres tidak perlu pergi ke apotik untuk menebus resep dokter sebagai penenang, cukup rebahkan tubuh diatas batu cadas pegunungan, lalu hirup dalam-dalam udara yang Tuhan berikan pada kita. Sekitar dua minggu yang lalu teman sekampung halaman mengajak untuk sekedar jalan-jalan sehat ke gunung penanggungan, diantara jalan setapak dibawah pohon besar sebelah kira jika dari arah pucak, tiba-tiba dengan sengaja saya mengingat seseorang, yang pasti seseorang yang mungkin membuat saya menjadi orang terbahagia diatas sini setahun yang lalu, seseorang yang kemarin hanya bisa kuamati pada display picture Blackberry, seorang yang sangat saya kagumi, terimakasih Semesta yang senantiasa memberikan kejutan.

Kemudian terpikir, saya tidak akan bahagia jika tidak kemari, saya tidak akan sebahagia ini jika mengisi hari libur hanya dengan melihat acara Ftv dirumah. Tempat indah dengan kenangan yang indah, tempat yang harus dilalui dengan proses untuk mendapat indahnya.

Menurut saya hidup bukan sekedar profesi, bukan hanya tentang apa yang dikuasai saat berkehidupan menunggu mati. Tiga bulan yang lalu saya bertemu kawan lama di sebuah acara pernikahan sahabat saya. Seperti biasa obrolan yang kami buka tentang kabar dan pekerjaan kami. Kawan saya adalah seorang Fotographer, sambil minum sirup suguhan dan nyemil santai khas kondangan dia bercerita tentang kehidupan masyarakat Kupang NTT, tentunya masalah kekeringan yang berkepanjangan, sehingga warga sangat kekurangan air bersih. Tujuan utama kawan saya ke NTT memang untuk mencari spot alam sebagai objek fotonya, karena mendengar cerita kekeringan saat perjalanan menuju NTT, dia mencari tahu lokasi mana yang terkena dampaknya. Bersemangat sekali saya mendengarkan cerita kawan saya ini, dia juga bercerita tentang setiap sudut perkampungan dengan alam yang masih sangat alami.  Yang saya dapat, setiap perjalanan selalu merangkumkan cerita, selalu menjadi sumber berita diantara orang-orang yang hanya berdiam duduk manis dirumah, tanpa tau rasanya arti pulang dalam petualangan dengan membawa seabrak cerita. Mulailah dengan angan-angan duduk diantara gelapnya belantara, dengan membuang semua kenyamanan yang ada dirumah, berdirilah ditebing sisi lautan lepas, dengan menepis manja untuk sementara waktu. Disaat apapun, dengan siapapun, alam semesta selalu memberikan kejutan yang tak mudah terlupakan.

 

Komentar