Bisa! Mendaki Gunung Sambil Wisata Candi di Mojokerto

Ingin mendaki gunung dan bertemu situs-situs purbakala? datanglah ke gunung Penanggungan via Jolotundo, Mojokerto. Jalur Jolotundo memang tak sepopuler jalur Tamiajeng. Namun jika melewati jalur Jolotundo, kita akan menemukan peninggalan kerajaan berupa candi-candi yang tercecer dari kaki hingga leher gunung. Saya pernah mendengar di media bahwa banyak para Arkeolog meneliti peninggalan situs ini, bahkan gunung penanggung akan diusulkan menjadi situs warisan dunia.

Di jalur Jolotundo terdapat beberapa percabangan, maka perlu dengan cermat mengamati setapak kalau tidak ingin bolak-balik nyasar seperti saya dan kedua teman saya. Dari pos Jolutundo kita harus membayar tiket masuk wisata, kemudian bisa langsung memulai pendakian yang di awali dengan menaiki beberapa anak tangga. Letak tangga tersebut berada di samping kiri pintu masuk wisata pemandian.

[caption id="attachment_503" align="aligncenter" width="640"]Sunrise Puncak Penanggungan Sunrise Puncak Penanggungan[/caption]

Saya berangkat bertiga bersama kedua teman saya Kanzul dan Astry. Setapak kami lewati dengan santai sambil mengantar matahari ke balik bumi yang lain. Suasana semakin meredup, tak ada satupun rombongan yang kami jumpai ketika perjalanan. Sekitar 40 menit berjalan,  tibalah di persimpangan, lurus dan ke kiri. Karena tak ada petunjuk arah kami pun mengambil arah lurus dengan pertimbangan jalan lebih lebar dan jelas.

Bulan sedang terang-terangnya saat itu, pengganti cahaya bumi walau tak seterang matahari. Semakin jauh semakin ragu, karena jalan sedikit menurun, kami terlihat hanya berjalan mengitari punggungan gunung. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti dan kembali ke titik semula persimpangan. Berbekal senter kepala saya melihat jalur ke kiri, pintu persimpangan jalur sedikit tertutup semak-semak.

"Mungin lewat jalur itu mas", ujar Astry sambil sedikit berteriak dari kejauhan. Kanzul menyusul, untuk membantu mengecek jalur. Keraguan masih tak mau pergi, saya berfikir mungkin jalan lurus tadi kurang jauh untuk dilewati. Sepakat kami kembali ke jalur yang sudah kami lewati tadi dan berharap tidak salah jalan. Lama berjalan tanpa menghiraukan lelah dan perut lapar, keraguan datang lagi. Bagaimana tidak frustasi, sudah jalan jauh mengitari punggungan kemudian kami melihat beberapa cahaya rumah warga yang semakin mendekat dari pandangan mata.

Sempat terfikir untuk tidak melanjutkan perjalanan ini. Dari kami bertiga memang sudah sering ke Penanggungan, namun belum ada yang pernah lewat jalur Jolotundo. Alhasil nyasar-nyasar seperti ini. Berhenti, berdiam, makan sebungkus roti, lalu membakar nikotin. Setelah itu, semangat kembali datang merayu langkah kami bertiga untuk melanjutkan perjalanan.

Baiklah, mari kita jalan. Kembali ke persimpangan, dan ambil jalur yang agak tertutup semak-semak tadi. Kami terus bergerak dan sesekali membelah ilalang yang menghalangi langkah. Puji syukur ketika sudah berjalan 30 menit menyusuri setapak, kami menemukan ceceran batu bata khas bangunan candi. Semakin yakin dan sangat yakin jika jalur yang kami lewati benar. Betul sekali apa yang dikatakan Astry 3 jam yang lalu, ini jalur yang benar. Mungkin insting wanita calon-calon ibu lebih tajam kali ya. Hahaha

Sekitar 20 menit berjalan lagi, akhirnya kami tiba di suatu bangunan tumpukan bata dan bertemu rombongan bapak-bapak yang bermalam disini. Beliau berkata sudah hampir satu minggu berada di halaman candi ini. Berteduh dengan membentangkan terpal di desain layaknya tenda pleton dan beralaskan tikar. Saya tidak bertanya kenapa mereka datang kesini, yang pasti mereka punya misi tersendiri. Mungkin juga mencari kesaktian. Mungkin. Hahaha

Lanjut perjalanan, lagi-lagi kami bertemu candi di batas vegetasi. Sepanjang perjalanan menuju puncak Penanggungan kami bertemu 5 bangunan candi, 1. Candi Bayi, 2. Candi puri, 3. Candi Pura,  4. Candi Gentong, 5. Candi Sinta. Dan mungkin masih banyak lagi yang masih tersembunyi. Jarak antara candi yang satu dengan yang lain saling berdekatan. Jalur semakin menanjak dan terjal, tidak ada pepohonan, hanya berupa ilalang dan bebatuan. Dehidrasi pun tak mengenal malam hari. Rasa haus tidak pernah puas terobati dengan seteguk air. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya tiba juga dipuncak pukul 23.00.

Walaupun gunung ini tingginya 1.653 meter dari permukaan laut, namun tracknya cukup melelahkan dan menyakitkan dengkul. Sesampainya, saya dan kawan-kawan mendirikan tenda tepat dihadapan siluet gunung Arjuno Welirang yang gagah menjulang tinggi. Berharap besok pagi dapat view secantik mungkin dan bisa menemeni mentari menampakan wujudnya perlahan ketika fajar.

inggitguitara_2014-12-06_07-35-27

Selamat pagi, Puncak Pawitra!

 

Komentar