Cikasur, di pegunungan Hyang Argopuro

Jika mendengar kata Cikasur, pasti banyak yang mengira tempat ini di daerah Jawa Barat. Mulanya saya juga begitu, ketika belum tahu banyak info tentang gunung Argopuro. Mungkin juga karena kebanyakan nama daerah di Jawa Barat berawalan kata Ci seperti, ci Cimahi, ci Cirebon, ci Cibodas dan banyak lagi yang lainya.

Cikasur merupakan pos dimana pendaki biasanya bermalam setelah melewati pos mata air 1 dan pos mata air 2. Tempatnya sangat luas karena berada di padang sabana, bisa untuk mendirikan puluhan tenda. Sebelum saya melakukan pendakian ini, saya sedikit bertanya tentang Cikasur ke bapak penjaga di kantor BKSDA. Cikasur dahulunya adalah sebuah lapangan udara milik Belanda, entah apa alasanya membuat landasan kapal udara ditengah hutan seperti ini. Jika di lihat dari atas bukit, akan terlihat jelas seperti pondasi memanjang yang tertutup rumput ilalang.

[caption id="attachment_479" align="aligncenter" width="720"]Sunrise Cikasur Sunrise Cikasur[/caption]

Diperjalanan saya tidak pernah menghitung jam, yang pasti jalan terus pagi sore-pagi sore, malamnya baru istirahat total. Pernah ketika siang saat sampai sabana terakhir hendak menuju Cikasur, saya dikejutkan pendaki yang di bonceng naik motor. Kenapa terkejut? Bayangkan saja, untuk sampai ke Cikasur butuh waktu 2 hari 1 malam dengan jalan kaki. Tapi kalau dengan naik motor, mungkin hanya beberapa jam saja. Baru tahu saat itu juga, ternyata ada jasa ojek sampai ke Cikasur. Untuk tarifnya saya kurang tahu, yang pasti ratusan ribu. Dari desa ke Cikasur biasanya warga mengambil selada air menggunakan motor. Tentunya dengan ban yang tak biasa, ban motor harus di lilit dengan rantai besi agar ketika jalan menanjak ban bisa mencengkram tanah. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto motor tersebut.

Argopuro merupakan gunung dengan jalur terpanjang di pulau jawa. Sepanjang jalur Baderan menuju Cikasur, jalan setapak cukup jelas. Untuk lintas jalur Baderan-Bremi butuh waktu 4-5 malam. Begitu tiba di Cikasur, pastinya tak akan melewatkan untuk menceburkan diri ke sungai. Memandang segar selada air yang siap di masak, bisingnya burung merak ketika senja meredup, Rasanya hilang semua kelelahan yang menimpa saya.

Suara lantang burung merak bersahut-sahutan bukan sesuatu yang asing ketika di Cikasur. Ahh, se istimewa ini gunung Argopuro, jika beruntung pendaki juga akan bertemu dengan babi hutan dan kambing gunung. Malam ini saya dan rombongan akan memasak cah selada air dan oseng-oseng tempe, sungguh istimewa kan? Dan perjalanan menuju Cisentor, Rawa embik dan Alun-alun lonceng akan dilanjutkan besok pagi. Selamat malam para petualang.

Baca juga tulisan lainya tentang pendakian Gunung Argopuro : Menggapai istana Dewi Rengganis

Komentar