Tentang Mahapatih dan Gunung Ratu Lamongan

Senyum renyah dari kakek juru kunci yang ramah, menyambut kedatangan iseng saya di sebuah pendopo ujung bukit. Bukit tersebut dijuluki Gunung Ratu, berlokasi di Desa Cancing, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Letaknya sekitar 2 km di timur desa. Untuk menuju pendopo harus naik melewati puluhan anak tangga. Ada mitos yang pernah saya dengar tentang tangga ini, jika menghitung anak tangga saat naik maka banyak anak tangga tersebut hasilnya akan berbeda ketika turun. Percaya atau tidak, silahkan buktikan sendiri.

Sedikit tanya jawab dengan Kakek juru kunci yang sudah puluhan tahun menjaga tempat ini, mengundang rasa ingin tahu saya tentang sejarah gunung Ratu. Tak lepas dari tawa ringan dan asap rokok kretek yang dikepulkanya, Beliau juga bercerita panjang lebar tentang profesinya sebagai juru kunci.

[caption id="attachment_469" align="aligncenter" width="576"]Anak tangga Gunung Ratu Anak tangga Gunung Ratu[/caption]

Nama dan fungsi gunung Ratu tidak asing lagi bagi warga sekitar kecamatan Ngimbang, bahkan orang-orang dari luar kota pun banyak yang berdatangan kemari. Tujuanya tak lain untuk meminta memudahkan segala urusanya, tentunya meminta kepada Allah, "disini hanya perantara", ujar kakek juru kunci dengan sedikit mengerutkan dahi dan berakhir dengan tawa ringan khasnya. Kebetulan saat itu saya juga bertemu dengan beberapa orang dari luar kota, yang katanya kakek sudah hampir satu minggu tamu-tamu tersebut bermalam, dengan tidur seadanya beralaskan tikar disebuah pendopo. Entah apa tujuan mereka, sampai harus berhari-hari disini.

Kakek juru kunci berkata, ditanah inilah pesarean (makam) ibunda Mahapatih Gajah Mada yang bernama Dewi Andong Sari dan kucingnya Condromowo. Menurut cerita rakyat, dahulu Dewi Andong Sari di asingkan di tengah hutan bukit ini oleh prajurit kerajaan Majapahit, karena terjadi pertengkaran antar selir raja, dan kemudian meninggal dunia. Tentu semua orang juga pasti tahu tentang nama dan kesaktian patih kerajaan Majapahit yang tersohor se nusantara bahkan mendunia.

Setalah puas mengobrol dengan kakek, saya pun turun menuju warung kopi tak jauh dari pintu anak tangga. Siang hari itu penuh kesejukan, cahaya matahari tak sempat menyelinap lebar karena terhalang oleh lebatnya pepohonan yang rapat dan besar. Benar-benar tempat yang hening dan jauh dari bising. Segera saya memesan segelas kopi pahit sambil memakan pisang goreng hangat.

Sedikit saja pertanyaan yang saya lontarkan untuk ibu penjaga warung, yaitu tentang misi orang-orang yang datang ke gunung Ratu, kemudian dengan labarya lagi saya mendengar cerita dari ibu ini. Katanya, Jika tamu yang berziarah meminta do'a kesini kemudian hajatnya terkabul, maka mereka pasti akan kembali lagi kemari mengadakan syukuran. Rata-rata dari mereka adalah orang kaya. Biasanya mendatangkan hiburan wayang kulit, hal ini agar warga desa setempat juga bisa menikmati keberhasilan orang-orang yang berziarah ke gunung Ratu.

Percaya atau tidak tentang apa yang tersaji di gunung Ratu, kunjungi saja tempat ini untuk mendengarkan langsung cerita dari kakek sang juru kunci.

P_20150407_161836

 

Komentar

Posting Komentar