Puncak yang tertunda di Gunung Merapi

Perjalanan menuju basecamp gunung Merapi ini mengingatkan saya ketika melakukan pendakian ke gunung Merbabu. Suasana pagi dalam angkutan menuju pasar Cepogo dan dilanjutkan ke Selo tak banyak yang berubah. Obrolan hangat dengan para penumpang angkutan tersebut membayar rindu persis seperti satu tahun yang lalu.

Pagi sekitar pukul 09.00 saya dan kedua kawan saya tachul dan kanzul tiba di pertigaan arah menuju basecamp. Untuk ke basecamp masih lumayan jauh jika di tempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya ada jasa ojek, tapi kami memilih jalan kaki, hitung-hitung sebagai pemanasan. Logistik sudah terbeli, tinggal packing sambil menunggu nasi uduk yang kami pesan di warung sekitar pertigaan jalan.

Setelah semua perlengkapan sudah masuk ke dalam carrier, kami melanjutkan berjalan kaki menuju basecamp Barameru dengan waktu tempuh 20 menit. Selesai mengurus perijinan dan mengisi beberapa botol air kami melanjutkan ke titik awal pendakian di New Selo. Perlu di ingat, Gunung Merapi tidak ada sumber mata air, jadi kita harus membawa persediaan air yang cukup sebelum memulai pendakian.

IMG_20150516_234041

Sepanjang jalan sangat ramai para pendaki yang hendak naik dan turun. maklum karena sekarang tanggal merah, jadi mustahil kalau jalur pendakian sepi. Rasa lelah dan kantuk dari kami bertiga seringkali memaksa untuk berhenti beristirahat, karena semalam kami terus terjaga dalam bus dari Surabaya menuju Solo. Baru berjalan 30 menit, akhirnya kami putuskan untuk tidur sebentar di tepi jalur yang agak luas.

Cahaya matahari menerobos ke celah pohon yang menyilaukan mata membuat saya terbangun. Tampak matahari sudah tegak di atas kepala, kami menyempatkan untuk makan siang dengan sesobek roti dan kemudian melanjutkan perjalanan. Rasanya tenaga sudah terkumpul kembali, sedikit demi sedikit semangat mulai menggugah untuk mengantar kaki pada tujuanya.

Langkah demi langkah mengayun perlahan namun pasti. Beberapa menit kemudian terlihat pos 1, saking semangatnya kami tidak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan. Matahari di siang itu sangat bersahabat, begitu pula dengan kabut yang kadang datang dan pergi dengan cepat. Menuju pos 2 ini sesekali kami mengabadikan moment lewat smartphone masing-masing. Menangkap siluet yang berlatar belakang gunung Merbabu di seberang sana.

Meskipun pendakian gunung merapi tidak memerlukan waktu berhari-hari, tapi tracknya cukup menguras tenaga. Dari titik awal pendakian sampai sekarang ini hampir tidak ada bonus. Jalur terus menanjak sampai-sampai kadang dengkul ketemu dahi ketika melewati medan berbatu. Entah pukul berapa tiba di pos 2. Kami bertemu pendaki asal Surabaya, namanya mas Hendra. Mereka berangkat 8 orang, tapi yang lainya masih tertinggal di belakang. Sambil istirahat, cukup lama kami dan mas Hendra saling bercerita tentang pengalaman mendaki gunung-gunung di Jawa Timur.

Rencana malam ini saya dan kedua kawan saya akan bermalam di Pasar bubrah. Tapi rencana tidak selalu berjalan seperti adanya, mungkin terlalu lama beristirahat, jadilah malas menghampiri. Akhirnya kami memutuskan untuk buka tenda di pos 2 saja, toh nanti bisa lanjut ke puncak ketika pagi hari. Dari informasi yang saya peroleh, pos 2 ke pasar bubrah memakan waktu 45 menit. Dan dari pasar bubrah ke puncak membutuhkan kurang lebih satu jam.

Matahari sore perlahan mulai menggelapkan bumi. Seperti biasa, hal yang paling saya sukai di gunung itu ketika menunggu sunset dalam dekapan dingin. Warna jingganya yang selalu membuat saya jatuh cinta. Apalagi berlatar belakang gunung-gunung lainya, terlihat gunung Sindoro dan Sumbing yang bersebelahan di ujung barat sana.

IMG_20150523_081053

Dan sore ini adalah sore yang paling istimewa ketika mata melihat ke timur, di atas puncak gunung Lawu tampak cahaya berwarna merah jambu membentuk sorotan ke langit. Sungguh sangat beruntung orang-orang yang melihat keindahan sore ini. Terimakasih Tuhan.

Kolaborasi mie instan dan sayur sawi siap untuk menjadi hidangan malam ini. Tak lupa secangkir kopi hangat sebagai penutup makan malam kami bertiga. Bercerita di dalam tenda adalah hal yang paling menyenangkan, sambil membuka pintu dan disuguhi panorama gemerlap lampu dibawah sana. Jam tangan sudah menunjukan pukul 22.00.

Malam semakin larut, dingin pun mulai menusuk. Namun pendaki samakin ramai berdatangan, terdengar suara langkah kaki dari luar tenda dan terlihat sorot lampu peneranganya yang sedang mencari lokasi untuk bermalam. Dingin malam ini semakin menjadi-jadi, dingin yang tak seperti biasanya. Membuat saya menggigil hebat dan terus membuat mata saya terjaga sampai dini hari.

IMG_20150518_113946

Entah kenapa malam itu saya begitu tersiksa oleh dingin. Oh Tuhan, Mataku ingin terpejam sebentar saja, ingin seperti kedua kawan saya yang sudah tertidur pulas.

Alarm berbunyi dengan lantang pukul 04.00. Syukurlah beberapa jam saya sempat terpejam, namun sama sekali tak ada semangat untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Rasannya saya ingin tinggal di tenda saja, dan menyuruh kedua teman saya pergi ke puncak. Tapi mereka berdua berkata tidak akan ke puncak jika saya tidak ikut. Mereka terus memberi semangat, karena kondisi saya saat itu benar-benar drop. Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya saya memutuskan untuk ikut saja dengan mereka, dengan mayakinkan diri sendiri, berjalan pelan-pelan asalkan sampai puncak.

Berbekal beberapa bungkus roti dan 2 botol air mineral, kami berjalan menuju pasar bubrah. Tentu masih dengan dekapan dingin yang belum mau pergi. Setelah berjalan beberapa menit sampai di ujung pos 2, kami di kagetkan oleh seseorang yang melarang kami untuk melanjutkan ke puncak. Saya menanyakan apa alasan beliau melarang, beliau menjawab bahwa nanti pagi akan ada evakuasi korban yang terjatuh ke kawah kemarin siang.

Jadi semua pendaki dilarang melanjutkan pendakian ke puncak, dan kabarnya hari ini pendakian gunung merapi akan ditutup sementara untuk memudahkan evakuasi. Setelah bertanya bagaimana kronologi insiden tersebut, kami pun beranjak kembali ke tenda harus dengan lapang dada. Dan berdo'a agar survivor cepat ditemukan. Dalam hati berkata, puncak tidak akan kemana-mana. Mungkin belum waktunya menginjakan kaki di puncak merapi. Mungkin suatu saat.

Kejadian ini merupakan pelajaran bagi kita semua, terutama pecinta kegiatan di alam bebas. Kita harus berhati-hati dalam bersikap dan tentunya tidak boleh ceroboh dalam suatu tindakan. Butuh persiapan yang matang pula untuk memulai sebuah petualangan di alam bebas.

Sesampainya di tenda, kami pun begegas segera memasak untuk sarapan dan packing lalu turun menuju basecamp barameru.

IMG_20150520_160110

 

Komentar

  1. gapernah liat matahari terbit di gunung .. pernahnya dipantai :( mau juga liat di gunung :D

    BalasHapus
  2. Hallo Nabil

    Sekali-kali kamu harus nyobain nungguin matahari terbit dan tenggelam di atas gunung...rasain sensasi dinginya :D

    Terimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  3. itu janggal gak sih cahaya merah nyorot ke atas ? kadang warnanya biru.

    BalasHapus
  4. Hai Danung

    Janggalnya tentang apa ya?

    Kemaren ada temenku yang naik gunung Andong di hari yang sama. Dia juga ngelihat warna merah yang nyorot ke atas seperti foto di artikel ini :)

    BalasHapus
  5. Terimakasih mbak Ayuri :)

    Iya sih, tapi ini ambilnya pake kamera smartphone...kalau terlalu gede pecah gambarnya :)

    BalasHapus

Posting Komentar