Melihat Komodo Loh Liang, dan Hampir Tenggelam di Manta Point

Suara lembut yang keluar dari sound syistem di ruang kemudi Bang Suhar perlahan menyadarkan saya dari alam mimpi. Dari balik jendela kamar kabin nampak matahari mulai bekerja sebagaimana mestinya, melambat meninggalkan peraduanya. Sinarnya masih redup, seredup mata yang masih sangat mengantuk. Kemudian masih dengan rasa malas-malasan saya menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan segera ikut nongkrong bersama keluarga Pak Azhar. Pagi ini rombongan kami akan menuju Pulau Komodo, Pantai Pink dan Manta Point.

"Wah, kayaknya nyenyak sekali tidurmu semalam Nggit". Sapa Bu Nita yang sedang duduk di teras. "Iya bu, Seperti nggak di laut, nyaman dan tenang,"Jawab saya. Pak azhar pun menyahuti percakapan, "Iya soalnya Pulau Kalong letaknya di apit-apit perbukitan, nyaris nggak ada ombak, jadi ya tenang".

Saya melihat ternyata Kanzul berada di atas dek sedang memotret sisa-sisa cahaya jingga di langit. Ombak pun bersahabat, cukup tenang untuk di lalui perahu yang mengantar kami ke Pulau Komodo. Selama perjalanan laut, sama sekali tidak pernah ada rasa bosan, pasti selalu ada hal menarik untuk di lihat. Seperti kemarin saat menuju Pulau Padar, saya melihat Ikan Lumba-lumba yang meloncat indah di samping perahu. Dan hari ini, baru saja saya melihat Ikan Manta mengapung yang jaraknya hanya dua meter dari mata saya, mungkin besarnya se meja makan. "Padahal belum di Manta point, beruntung kamu mas, bisa lihat Manta duluan". Ucap ABK yang sibuk memasak di dapur untuk makan pagi kami.

[caption id="attachment_409" align="aligncenter" width="640"]Pantai Pink Pantai Pink[/caption]

Hampir dua jam perjalanan dan tibalah kami di sebuah pulau. Kemudian Bang Suhar dengan kemudinya mengatur perahu agar terparkir rapi pada dermaga beton. Lima menit berjalan kaki di atas dermaga, sampai juga di gapura yang bertuliskan Welcolme To Komodo National Park dan terlihat dua patung hewan Komodo di atasnya. Ternyata kami sudah berada di Loh Liang. Loh Liang merupakan pintu masuk dan daerah wisata utama di Pulau Komodo. Kata Bang Suhar, aktivitas yang nantinya kami lakukan di Loh Liang adalah mengamati satwa Komodo, Rusa, Babi Hutan dan treking mengitari sebagian pulau ini.

Melihat Komodo, paket long treking

Setelah selesai mengurus administrasi ijin masuk taman nasional, pemandu memberikan sedikit informasi tentang apa yang ada di Pulau Komodo. Beliau juga menawarkan kami paket treking Long, Short apa Medium, sayangnya saya lupa berapa jarak tempuhnya. Tapi kira-kira kurang lebih berjarak 4,5 km (dua jam) untuk Long trek, 3 km (satu jam) untuk Medium trek dan 1 km (setengah jam) untuk Short trek. Kemudian Pak Azhar bertanya balik... "yang Dobel Long apa nggak ada mas, terlalu dekat buat saya kalau jaraknya cuma segitu" Aha! Kami semua tertawa mendengar ucapan Pak Azhar yang sok-sok'an. Padahal kemarin treking ke Pulau Padar saja sudah hampir menyerah. Oh iya, Di Loh Liang juga terdapat fasilitas yang tersedia bagi pengunjung yaitu pondok wisata, pusat informasi, warung, dan toilet.

Sebenarnya kedatangan kami saat ini tidak tepat karena sedang musim kawin bagi Komodo. Musim kawin komodo terjadi pada bulan juli-agustus, alhasil cuma bisa melihat dua ekor Komodo besar di samping dapur guide dan satu Komodo kecil di atas pohon. Kata pemandu, Komodo kecil yang berumur dua tahun menghabiskan waktunya di pohon untuk melindungi diri dari serangan predator besar. Dan untuk bertahan hidup, dia memakan serangga-serangga yang ada di sekitarnya. Apa nggak bosan ya, selama dua tahun di atas pohon? Si agan Komodo kecil tidak haus? Entahlah.

Dua ekor Komodo di dekat dapur terlihat seperti tertidur, sejak tadi tidak bergerak sedikitpun. Tapi tetap saja kami harus berhati-hati dan tidak boleh mendekatinya, apalagi menyentuhnya. Kalau tidak salah dengar, kata pemandu kami Komodo bisa mencium bau hingga jarak ratusan meter untuk mengintai mangsanya. Yang berbahaya dari raja di pulau ini adalah air liurnya mengandung banyak bakteri yang mematikan. Seram, kan predator satu ini.

Hampir dua jam kami berjalan kaki membelah belantara Pulau Komodo, berusaha mencari peruntungan agar bertemu lagi dengan si Komodo. Hasilnya tetap nihil, kami hanya bertemu Babi hutan, Ayam hutan, Burung Kakatua berjambul dan Rusa yang sedang kehausan. Tapi kami tetap bersyukur, bertemu tiga ekor Komodo dan hewan-hewan lainya saja sudah cukup menghibur. Flora yang saya sukai di hutan ini adalah savana yang terlihat tandus dan kering, sangat eksotis.

[caption id="attachment_410" align="aligncenter" width="640"]Dermaga Loh Liang Dermaga Loh Liang[/caption]

Menuju Pantai Pink, Snorkling, Renang gemes, dan Treking

Setelah makan siang di atas perahu, perjalanan kami selanjutnya ke Pantai Pink. Rasanya tidak sabar lagi mandi di laut yang berwarna hijau bening dan bersnorkling ria disana. Saking banyaknya biota laut, Pantai Pink inilah yang paling cocok untuk tempat Snorkeling dan Diving bagi para pecinta olah raga laut. Kenapa di juluki Pantai Pink? karena warna pasirnya merah muda. Sayangnya sewaktu saya tiba di sana, warna pasirnya tidak semerah yang biasa saya lihat di foto. Kata Bang Suhar, Mungkin karena cuaca yang terlalu panas, jadi warna merahnya samar, tidak seperti saat sore hari. Ya sudahlah, yang penting bisa melihat terumbu karang cantik dan ikan warna-warni di dalam airnya.

Baiklah, sebelum perahu sandar dan terikat sempurna di antara perahu-perahu lainya, saya pun melompat ke air. Raisa, Lompat! Rahul, Lompat! Bu Nita, jalan pelan-pelan dari tepian pantai dan semakin ke tengah :| Pak Azhar tidak ikut berenang, katanya dingin! Kanzul? tidak bisa berenang dan takut hanyut, dia hanya bermain-main di air dangkal saja sambil memakai live jacket. Akhirnya lelah juga berjam-jam saya mondar-mandir berenang di perairan Pantai Pink. Momen ini cukup saya rekam di dalam otak, karena lagi-lagi derita orang yang tak punya kamera under water, jadi tidak bisa mengabadikan suasana bawah laut dalam bingkai foto.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Manta point, saya menyempatkan dulu untuk treking sebentar ke atas bukit. Dari sini, garis pantainya terlihat lumayan agak memerah. Tak lupa juga saya mengambil beberapa foto, karena jaman sekarang selfie pada destinasi adalah hal wajib sebagai bukti macam autentik.

Manta Point tujuan terakhir, dan hampir hanyut disana

Perjalanan menuju Manta point tidaklah jauh dari Pantai Pink, kurang lebih hanya 1 jam. Bang Suhar berkata kalau sebenarnya saat ini belum musimnya Manta mengapung di perairan. Biasanya pada sekitaran bulan Desember-februari, Ikan Manta akan bisa di temui dengan mudah. Para ABK juga memantau lautan dengan teliti dan menyuruh saya agar cepat-cepat memakai mask, snorkle, dan fin.

Gelombang disini cukup besar, ombaknya menerjang perahu hingga goyah. Bagaimana saya berani melompat kalau gelombangnya sebesar ini, sangat beda saat menikmati bawah laut di Pantai Pink. Maklum, saya hanyalah perenang amatiran. Berenang di kolam yang kedalamanya diatas tiga meter saja masih was-was, apalagi di laut lepas. Di samping saya ada Raisa yang kelihatannya sangat percaya diri untuk melompat. Dari yang saya lihat di Pantai Pink tadi, Raisa memang sudah ahli berenang di laut di banding adiknya si Rahul. Sementara nyali saya semakin menciut, tapi tetep saja saya harus memberanikan diri untuk lompat kalau-kalau Manta sudah terlihat mendekat. Malu juga kan, sama si Raisa dan Rahul kalau saya kelihatan takut.

Cukup lama perahu mondar-mandir mencari keberadaan Manta. Kadang sudah terlihat, tapi secepat kilat mereka melarikan diri karena suara mesin perahu. Dari semua yang ada di atas perahu, Bang Suhar lah yang paling jeli melihat Manta walaupun samar di bawah laut biru. Pencarian ini membuat kami semakin frustasi. Hampir satu jam hanya melihat tiga ekor Manta di atas perahu. Beberapa menit kemudian Bang Suhar melihat Manta dan berteriak di samping kanan perahu, menyuruh kami agar cepat menceburkan diri ke laut sebelum Manta menjauh.

Dengan modal tekad, lompat! Satu detik pertama di dalam air, saya hanya melihat Raisa di sebelah kanan. Tiga detik kemudian saya melihat dua ekor Manta yang jaraknya sepuluh meter dari pandangan mata. Mungkin besarnya tiga kali lipat melebihi tubuh manusia. Kelihatan seperti mendekat dengan di arak ratusan ikan-ikan kecil berwarna putih keemasan. Saat itu saya benar-benar takjub dan ada rasa sedikit panik melihat keberadaan dua ekor Manta. Sungguh pengalaman pertama yang sangat mengesankan. Ketika raksasa itu semakin mendekat, saya semakin panik, dan was-was. Ratusan ikan kecil yang berarak-arakan semburat tersibak ekornya. Meskipun ikan jenis ini tidak berbahaya, tetap saja sosoknya menyeramkan. Saya melihat dengan jelas mulut dan sayapnya yang sangat lebar, kira-kira selabar awak perahu yang kami tumpangi.

Beberapa detik berlalu saya menerawang bawah laut. Kepanikan tiba-tiba terjadi karena nafas yang saya hirup dari mulut tergerojok air. Air masuk dengan derasnya melalui selang snorkle. Seketika saya gelagapan, rasanya tidak bisa bernafas lagi. Kaki yang terpasang sepatu katak juga begitu berat untuk di ayuhkan. Saya mencoba tenang, saya harus mengendalikan diri. Tetapi, lagi-lagi air laut terus menyerang hidung dan rongga mulut, semakin membuat saya memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi nantinya. Raisa dan Perahu juga terlihat jauh ketika tubuh melayang terhempas gelombang besar. Rasanya hati ingin menangis, saya tidak ingin mati dahulu. Saya mencoba tetap tenang, tenang dan harus tenang. Saya harus berfikir positif.

Secepatnya saya mengingat teori dasar berenang. Saya tidak boleh panik, saya harus berusaha mengambang, dan segera meminta pertolongan. Saya membayangkan tidak akan terjadi hal buruk kepada saya. Setalah berhasil mengambang dan mencari satu sampai tiga tarikan nafas, saya berteriak kepada orang-orang di atas perahu, tapi tak ada respon karena mungkin tidak terdengar. Teriakan yang kedua kalinya juga sama, tak ada hasilnya. Tangan saya kemudian melambai-lambai pertanda meminta pertolongan. Dan akhirnya terlihat juga oleh mereka. Melihat kondisi saya yang masih panik, secepatnya pelampung di lempar ke perairan dan saya segera mendekati pelampung itu.

Sisa-sisa tenaga dan nafas mengantarkan saya berenang menggapai tangga di samping perahu. Tubuh terasa lemas, dan kaki seperti kram. Akhirnya sampai juga di atas perahu. Kanzul pun membantu melepaskan fin di kaki dan kemudian menertawakan saya. Saya bersyukur, saya selamat. Ahh, saya tertawa lepas mengingat kejadian bebarapa detik yang lalu.

Ejekan dari Pak Azhar, Bu Nita dan Bang Suhar pun mulai datang bertubi-tubi. "Hahaha. Nggak papa mas, dapat pengalaman baru. Tenggelam dan hampir hanyut di Manta Point". Begitulah salah satu ejekan dari Bang Suhar dan teman-temam ABK.

Hari sudah semakin sore, sinar matahari bersaing dengan perahu kami. Berlomba siapa yang tercepat sampai tujuan. Hidangan nasi dan lauk pauk seafood turut mengantarkan perjalanan kembali menuju Labuan Bajo. Sebelum tiba di Pelabuhan Tilong, Bang Suhar memberikan saya sebongkah batu akik flores yang katanya sebagai kenang-kenangan. Hari ini saya mendapat pengalaman yang sungguh luar biasa. Perjalanan yang sangat mengesankan, mengenal orang-orang baik seperti keluarga Pak Azar dan Crew agen travel Bajo Dive Club. Terimakasih.

1440767931178 Catatan:

  1. Tarif perahu Bajo Dive Club 2 hari 1 malam sailing Pulau Komodo Rp 1.000.000. Sudah termasuk makan selama perjalanan dan alat snorkling. Untuk info lebih lengkapnya bisa menghubungi di nomor ini 081236112881 (Mas Nun)
  2. Tips Ranger di Loh Liang, Pulau Komodo Rp 50.000 ribu.
  3. Bawalah Sunblock.
  4. Sudah itu aja, yang penting jangan nyampah ya :D

Besok saya akan melanjutkan perjalanan ke Kampung Adat Waerebo baca juga ceritanya ya. :)    

Komentar

  1. Wuuikkk bacanya kok aq jadi ikut sesak napas yaa ckckckck
    Emang berenangnya jauh dr kapal?? Kok gk ada yg nulungin? Hahaa
    Btw kapalnya lumayan bagus yaa

    BalasHapus
  2. Ehh ada merli

    Yah nggak jauh2 bgt sih, 30 meteran lah...perahunya ke bawa arus. Sumpah, bolak-balik nelen air laut sampek kenyang ?

    BalasHapus
  3. wah .. jadi kalau ke pulau komodo jangan musim kawin ya ....
    pantai pink ... bener2 amazing ....

    BalasHapus
  4. Betul, nanti sayang kalau nggak ketemu komodonya. Pantai pink, segerrr! : ng

    BalasHapus
  5. Malem mas Inggit..
    Mas sekarang saya mau tanya kalau sailing komodo kita bisa dapet temen barengan disana ga? Waktu itu mas inggit bagaimana? Saya backpacker rencana berdua..untuk sewa kapal untuk berdua saja kan mahal.

    BalasHapus
  6. Bisa mas..nanti pasti ada barengan. Begini saja, sekarang mas hari cari-cari travel agen sailing komodo...ngomong aja kalau mas hari berdua, dan minta tolong untuk dicarikan teman share cost. Silahkan cari harga yang sesuai...

    BalasHapus

Posting Komentar