Menengok Pedalaman Flores di Kampung Waerebo Yang Mendunia

Kalian pernah mendengar Mbaru Niang? Sebuah rumah adat yang terisolasi oleh pegunungan, sebuah kampung adat yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari UNESCO karena keunikan bentuk dan fungsinya. Selain itu kampung Waerebo juga masih mempertahankan adat budaya dan kearifan lokal yang mulai terserang moderenitas. Kampung adat ini kemudian mendunia, bahkan pengunjungnya sebagian besar adalah warga negara asing. Sayang sekali bukan, kalau orang Indonesia sendiri tidak mengenalnya. Padahal ini adalah salah satu kekayaan Indonesia, kekayaan ragam budaya yang tidak di miliki negara lain.


Kampung Adat Waerebo letaknya berada di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk sampai kesana waktu yang di tempuh dengan menggunakan motor kurang lebih tujuh jam dari Labuan bajo, Manggari Barat. Itupun hanya sampai di Desa Denge, selanjutnya harus treking jalan kaki menaiki gunung selama kurang lebih empat jam. Letak Kampung Waerebo berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.




[caption id="attachment_432" align="aligncenter" width="640"]Rumah Mbaru Niang Rumah Mbaru Niang[/caption]

Bongkahan batu akik dipinggir jalan


Motor matic yang saya sewa dari Bang Andi dengan tarif Rp 75.000 ribu/ hari sudah siap untuk mengantar perjalanan ke Desa Denge. Karena jam setengah tujuh baru terbangun, tanpa sarapan langsung saja saya berangkat menelusuri jalan aspal lintas Flores. Oh iya, selama di Flores saya menginap di depan Pelabuan Labuan Bajo. Harganya cukup rekomendasi buat para Backpacker. satu malam cukup membayar Rp 35.000 ribu. Namanya "Penginapan Nelayan". Jangan tanyakan kondisi kamarnya, kalau saya sih, yang penting ada colokan listrik, kasur sama kamar mandi, itu sudah lebih dari cukup.


Jalanan Labuhan Bajo ke arah Kota Ruteng terus berkelok-kelok mirip sirkuit Moto Gp. Saya jadi teringat perjalanan naik bus dari Sumbawa Besar menuju Dompu dan Bima. Perut rasanya seperti di kocok lalu ingin muntah ketika melewati jalanan naik turun dan berkelok yang tiada ujungnya. Di seberang kanan jalan menuju Lembor, bongkahan batu bahan cincin akik di pajang di atas papan kayu. Sebenarnya saya bukan penggila batu-batuan semacam ini. Berhubung teman-teman di Surabaya pada hobi mainan batu, akhirnya tertarik juga membelinya untuk sekedar oleh-oleh. Saya tidak mengerti jenis batu yang bagus, dan begitu pula dengan penjualnya. Tawar menawar pun di mulai. Pak frans si penjual batu menawarkan harga rata-rata Rp 20.000-200.000 ribu. Tawaran pertama separuh harga, dan langsung saja beliau menyetujuinya. Apa saya kurang murah menawarnya ya? Ahh, sudahlah. Saya pun membawa beberapa bongkah batu dan kembali melanjutkan perjalanan.


Setengah jam berlalu meninggalkan Pak Frans dan daganganya. Yang di tunggu-tunggu pun datang, dialah yang ku sebut variasi jalanan. Kanan kiri berupa savana ilalang kering dan tandus khas timur. Kontras dengan beberapa jam lalu. Lurus, bagus dan sepi, sangat cocok buat yang hobi balap liar semacam drag bike. Bisa buat tiduran atau loncat sambil selfie di garis putih tengahnya.



Angkutan umum suara musiknya keras, seperti orang punya hajatan


[caption id="attachment_433" align="aligncenter" width="640"]Anak-anak flores Anak-anak flores[/caption]

Sepanjang perjalanan saya sering menemui angkutan umum seperti Bus dan Bemo mirip mobil Carry, miripnya hanya bagian depan saja, bagian belakangnya entah di modif lagi atau bagaimana. Yang jelas di dalam angkutan tersebut terdengar suara musik yang kerasnya mirip orang lagi punya hajatan. Dari jarak 500 meter saja masih terdengar jelas suara lagu-lagu daerah Flores. Asik bukan. Sebenarnya ingin sekali menjajal bagaimana rasanya di angkut kendaraan itu. Namun setelah hitung-hitungan, biaya transportnya lebih mahal jika di banding naik motor. Terlebih juga angkutan umum disini sangat terbatas, hanya ada di jam-jam tertentu pula. Dan pastinya akan lebih banyak memakan waktu.


Empat puluh menit sebelum menuju Kota Ruteng terdapat plakat petunjuk arah jika belok kanan akan ke Waerebo. Namun jalan ke kanan tampak kecil dan beraspal rusak, mungkin lebarnya hanya sekitar 2,5 meter. Keraguan memaksa saya untuk bertanya pada seseorang yang berada di depan kios pertigaan jalan. Ternyata benar, dari sini perjalanan masih kurang tiga jam. Dengan medan seperti ini pula, dan nantinya akan menemui jalanan yang lebih parah lagi, kata bapak paruh baya yang saya tanyai setelah berjabat tangan. Beliau memperkenalkan diri, namanya pak Muat pelah. Pak Muat Pelah sedikit menjelaskan rute ke Denge. Dengan berbaik hati pula beliau menawarkan, jika nanti ada apa-apa semisal ban bocor, saya bisa menghubungi beliau di nomor teleponya. Terimakasih bapak, saya pamit lanjut jalan dulu. Begitu ucap saya kepada Bapak Muat Pelah.


Kali ini laju motor tidak secepat tiga jam yang lalu. Kerikil tajam dan aspal rusak mengharuskan saya lebih berhati-hati, repot juga kalau sampai ban bocor. Pemukiman warga Desa Todo mulai terlihat, mama-mama sedang asik berdiskusi di teras-teras rumahnya, dan ada juga yang sedang sibuk menjemur pinang. disini rasanya saya seperti turis asing. Pandangan mereka tampak menyelidik, saya langsung melempar senyum, dan mereka pun membalasnya. Bahkan senyumnya lebih ikhlas dari senyum saya. Begitupula dengan anak-anak ketika berjalan sepulang dari sekolah, sebagian memakai sandal, sesekali meneriaki dengan ucapan " Halo mister" dan selalu melambaikan tanganya. Sungguh, tempat ini membuat saya menjadi seseorang yang baru, saya jatuh cinta dengan keramahanya.


Indikator bensin sudah terlihat menipis, waktunya mengisi bahan bakar motor. Saya pun sebenarnya sudah sangat lapar dan lelah, kanan kiri jalan sering saya tengok namun tak juga menemukan warung makan. Hanya ada kios-kios kecil yang menjual bahan-bahan pokok dan bensin. Bensin di hargai Rp 15.000-20.000 ribu perbotol. Cukup mahal, karena untuk mendapat pasokan bahan bakar minyak sangat susah dan jauh. Perlu di ketahui, Pom bensin hanya ada di Labuan Bajo atau mungkin ada di Kota Ruteng.


Meskipun aspal semakin meringis tajam, selalu saja ada variasi di setiap kilo meternya. Saya terkagum-kagum melihat jajaran sawah di Satarmese Barat. Jika di lihat dari atas perbukitan, sawah ini menyerupai roti lapis kesukaan saya. Setiap petak memiliki warna yang berbeda, ada yang kuning, hijau, hitam, coklat dan ada yang berwarna kemerahan. Rasanya sayang sekali kalau momen ini tidak di abadikan. Kamera di tangan sudah siap mengambil beberapa gambar dan video sebagai dokumentasi. Sungguh, sesuatu yang tidak pernah saya temui ketika berada di Pulau Jawa. Mengingat sawah yang mirip roti, perut makin keroncongan seakan meminta untuk segera di isi. Persediaan Air mineral juga sudah mulai menipis.



Ketemu kenal dengan warga Desa Bea Kondo, dapat makan gratis


[caption id="attachment_434" align="aligncenter" width="640"]Sawah Satarmese Sawah Satarmese[/caption]

Saat melintasi jembatan sungai di Desa Bea Kondo, saya terfikir untuk memasak mie instan disana. Lokasinya pas, sepi dan teduh, airnya pun sangat jernih. Nampak seseorang sedang duduk di balik bebatuan sungai sambil menyelipkan parang di pinggang. Saya mengahampirinya untuk ijin mengambil air dan memasak. Sedikit singkat obrolan saya dengan beliau, selabihnya mencari tau maksud saya belusukan di sungai ini. Setelah tanya jawab, beliau ingin saya agar mampir kerumahnya untuk sekedar singgah dan makan. "Tidak usah masak mas, nanti malah repot", ucap beliau. Namun saya menolak dengan halus, takutnya malah merepotkan. Tapi beliau tetap memaksa, dan saya juga ingat betul apa yang di katakan.


"Kita punya adat manggarai, harus saling tolong-menolong, jangan di kira mas suruh bayar makan nantinya, kita orang manggarai ikhlas. Ayo ikut ke rumah saja, kalau lapar masuk saja ke rumah orang-orang sini, bilang saja ke mama-mama saya lapar, pasti mereka kasih itu makan, tidak usahlah masak-masak, nanti malah repot kamu mas"


Begitulah yang beliau ucapkan dengan logat Manggarai. Merasa tidak enak kalau menolak, akhirnya saya mengikuti beliau kerumahnya yang tak jauh dari sungai. Ahh, Dapat makan gratis.


Sambutan hangat dari keluarganya terasa betul di ruang tamu. Kami berjabat tangan dan berkenalan, nama beliau adalah Bapak Alosio Dalut, istrinya Mama Elisabeth, kemudian kedua anaknya kak Encik dan adik Rendi yang masih bersekolah SD. Suguhan kopi Flores semakin mengakrabkan kami dengan cerita kehidupan keluarga pak Alosio. Kak Encik juga bercerita kalau dirinya pernah merantau di Sumatra sebagai pembantu rumah tangga. Sedangkan Mama Elisabeth keseharianya menenun kain sarung. Nasi hangat pun di suguhkan dengan kolaborasi sayur singkong masakan khas Flores.


"Tak usah sungkan-sungkan, tambah saja itu nasi biar kenyang, makan saja apa adanya ya, nanti di jalan ke Waerebo masih jauh itu, biar kuat jalan kaki". Celetuk Mama Elisabeth.


Kata Pak Alosio, dari sini ke Desa Denge kurang lebih dua jam lagi. Sepuntung rokok dan segelas kopi Flores sudah lenyap dimakan obrolan. Waktunya berpamitan kepada keluarga Papa Alosio dan berterimakasih sebesar-besarnya atas semua kebaikan beliau.


Ternyata benar, saya sering mendengar cerita keramahan dan kebaikan orang Manggarai. Saya membuktikanya sendiri disini.



Lagi-lagi musik yang keras itu berasal dari angkutan umum, namanya Oto Kayu


[caption id="attachment_435" align="aligncenter" width="640"]ini dia, Oto kayu! ini dia, Oto kayu![/caption]

Masih dengan jalanan yang berkelok seolah tak ada habisnya. Matahari  juga tepat berada di atas kepala yang kadang terhalang pepohonan lebat. Perjalanan dari Narang menuju Dintor lebih berwarna lagi. Kiri jalan terdapat pantai berbatu. Batuan kokoh yang terus-menerus di hantam gelombang seperti pertunjukan seni yang tak pernah selesai. Rumah-rumah kecil di tepi Pulau Mules seakan membujuk kaki untuk menghampirinya. Ahh, kapan-kapan saya harus kesana. Saya juga sempat bertemu Oto Kayu dengan penumpang yang berjubel hingga duduk di papan pembatas. Lagi-lagi bunyi musiknya sangat keras seperti orang yang lagi punya hajatan. Oto Kayu adalah transportasi antar Desa dan Kota di Manggarai. Oto Kayu sendiri merupakan Truck yang di modifikasi. Bak belakang di ganti dengan tempat duduk yang juga terbuat dari kayu. Bayangin kalau duduk di situ berjam-jam dengan jalanan yang rusak, kira-kira pantat mau jadi apa?



Anak-anak kecil di Flores suka di ajak Tosh


Sesampainya Dintor, kembali lagi mendengar sapaan oleh rombongan anak-anak sepulang dari sekolah. Dengan berteriak dan melambai mereka berkata "Halo mister". Tak hanya itu, anak-anak disini suka di ajakin tosh, mereka berlari mengejar dan kemudian melemparkan tanganya ke telapak tangan saya. Seru bukan?


Sangat terasa lelahnya, jam tiga kurang seperempat saya tiba di Desa Denge. Tepatnya di rumah Pak Blasius Monta, orang yang berjasa mengenalkan Waerebo sampai mendunia. Di rumahnya juga tersedia Home stay yang di beri nama "Wejang Asih". Teruntuk tamu-tamu yang ingin bermalam dan menikmati segarnya udara di Desa Denge. Hari itu beliau sedang tidak di rumah. Kata anaknya, beliau sedang ke kota karena ada urusan. Dengan berbekal informasi dari internet tentang tata cara ke Waerebo, saya memberanikan diri berangkat treking tanpa menggunakan jasa guide. Jarak tempuh dari Desa Denge ke Waerebo sepanjang 9 km. Cukup jauh bukan? Dan itu dengan jalan kaki. Jalur awal berbatu sepanjang 4 km sampai menemukan sungai. Kemudian di lanjutkan jalur setapak.


Pengalaman seringnya naik gunung, tidak membuat saya begitu heran dengan medan menanjak seperti ini. Satu jam terlalui selangkah demi selangkah dan tiba juga pada sungai yang membentang jernih. Segarnya air sungai Wae Lomba sedikit merampas lelah dan mengobati kering tenggorokan. Saya harus terus berjalan agar tidak terlalu malam tiba disana.


"Selamat sore"


Ucapan itu terdengar di telinga saya, nampak seseorang menggendong plastik dan tas kecil. Wajahnya khas orang Flores. Kami berjabat tangan dan berkenalan. Namanya pak Yos, beliau mau pergi ke pasar untuk menjual buah jeruk yang di petik dari kebun miliknya. Kata beliau, jeruk itu akan di tukar dengan beras untuk memenuhi makan keluarganya sehari-hari. Bayangkan, untuk mendapatkan beras saja beliau harus turun dari kampung Waerebo yang memakan waktu berjam-jam untuk sampai ke pasar. Pak Yos menawarkan jeruk yang dibawa, katanya Rp 10.000 ribu dapat enam buah. Tanpa pikir panjang saya langsung membelinya, kapan lagi bisa makan jeruk flores yang baru di petik. Sari-sari jeruk yang tertelan semakin menambah semangat untuk berjalan. Ucapan hati-hati dan selamat jalan menutup perjumpaan saya dengan Pak Yos.


Delapan ratus meter meter sebelum tiba di lokasi, sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing. Saya menebak mungkin ini rombongan keluarga Pak Azhar. Ternyata benar, yang muncul Pak Azhar, Bu Nita dan di susul kedua anaknya. Beliau ini keluarga dari Bekasi yang mengajak saya sharing cost ke Pulau Komodo beberapa hari yang lalu. Sebelumnya beliau juga berkata jika ingin mengunjungi kampung adat Waerebo, namun tidak menginap. Obrolan antara kami hanya berlangsung beberapa menit. Pak Azhar berpesan agar kami tetap berkomunikasi setelah ini, siapa tau nanti bisa ngetrip bareng. Hehehe. Kemudian Bu Nita menyuruh saya untuk segara berjalan lagi agar tidak tiba terlalu gelap. Ucapan hati-hati dan selamat jalan kembali menjadi penutup antara saya dan keluarga Pak Azhar.



Fungsi kentongan di pos sebelum  tiba di kampung Waerebo, dan upacara itu disebut Waelu'u


Tepat Jam enam sore saya tiba di pos sebelum gerbang kampung. Sudah temaram, tapi tak mengubah kecantikan tujuh buah rumah kerucut yang berlatar belakang pegunungan Pocoroko. Mereka biasa menyebutnya dengan Rumah Mbaru Niang. Kentongan yang menggantung saya pukul sekeras-kerasnya. Fungsi bunyi kentongan ini menandakan bahwa akan ada tamu yang berkunjung. Dan ketua adat akan bersiap menyambut kedatangan para tamu.


Cerita senyum ramah masyarkat Waerebo kini tidak lagi dalam bayangan, tapi nyata adanya. Beberapa orang yang sedang sibuk menggotong karung kopi pun menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat datang dan selamat sore kepada saya. Seorang kakak pria muda memepersilahkan saya masuk ke dalam rumah kerucut yang paling tinggi dan besar, atas atapanya terdapat lambang seperti kepala kerbau. Disitu Pak Rofinus sang tetua adat sedang duduk di atas bantal yang di anyam mirip tikar, sudah siap memulai upacara penyambutan. Upacara Waelu'u dilakukan untuk meminta perlindungan kepada leluhur agar tamu yang datang diberi keselamatan selama di Waerebo sampai pulang ke rumah, sekaligus menerima tamu sebagai anggota keluarga baru Suku Waerebo. Mantra yang di bacakan dengan bahasa Suku Waerebo terdengar syahdu, di tambah suasana remang-remang ruang tamu Mbaru Gendang.


Upacara sudah selesai, Pak tetua adat menyuruh saya untuk istirahat ke kantor. Kebingungan saya tentang "kantor" terjawab oleh Bang Lius, ternyata yang di maksud kantor adalah rumah singgah khusus untuk pengunjung. Kopi Arabica dan sebungkus rokok menjadi teman obrolan saya dengan Bang Lius. Bang Lius yang asli putra Waerebo bercerita banyak hal tentang sejarah, budaya, kesenian dan kegiatan sehari-hari penduduk Waerebo. Rumah Mbaru Niang ini mempunyai 5 tingkat, lantai pertama disebut Lutur, lantai kedua berupa Loteng atau disebut Lobo, lantai ketiga disebut Lentar, lantai keempat Lempa, dan lantai yang kelima disebut Hekang Kode. Semua tingkat mempunyai fungsi yang berbeda-beda.


Mau tau fungsinya? Tunggu di postingan saya selanjutnya.


Penduduk Kampung Waerebo mayoritas adalah petani kopi. Di tanah kampung ini terdapat beberapa jenis kopi, di antaranya jenis kopi, Arabica, Robusta dan Kolombia. Satu jam lebih tak membuat saya bosan mendengar cerita di kampung ini, mulai dari kesenian Tari Cachi sampai Upacara tahun baru Waerebo yang biasa di sebut Penti.


Malam sepenuhnya sudah menjadi malam. Para tamu asing dan tamu dari Jakarta sibuk membuka lipatan selimut yang telah di sediakan. Tikar dan bantal yang di anyam menjadi alas untuk merebahkan badan setelah berjam-jam menyusuri belantara Pocoroko. Bahagia sekali malam ini, saya bisa tidur di rumah adat Mbaru Niang yang namanya telah mendunia, berbaur dengan penduduk lokal dan menjumpai orang-orang baru.


Entah berapa derajat celsius suhu dingin malam ini, yang pasti semakin menjadi-jadi. Sekarang waktunya memejamkan mata dan kembali mengumpulkan mimpi-mimpi.



Walaupun tidak bertemu sang surya pagi, ritual wajib saat itu adalah naik ke atas bukit, bersanding dengan kopi asli Waerebo dan sebatang rokok


[caption id="attachment_436" align="aligncenter" width="640"]Kopi Waerebo asli Kopi Waerebo asli[/caption]

"Good Morning”


Ucap Bule Rusia, ketika selonjoran di samping saya yang sudah terbangun terlebih dahulu. Dengan senyum pertama di pagi itu kubalas juga ucapanya. Jam tangan menunjukan pukul enam lima belas. Sial, saya kesiangan. Keinginan menyambut sang surya di balik bukit lenyap sudah. Ruangan juga sepi, hanya terlihat Mama Elok yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk tamu. Beberapa guyuran air saja sudah membuat saya segar kembali. Saatnya menyapa pagi kampung Waerebo.


Sekembalinya saya dari kamar mandi, hidangan makanan di ruang Lutur sudah tersaji. Nasi goreng lauk telur dan kerupuk menjadi santapan istimewa bagi para tamu. Tak lupa juga Mama Elok mengusung teko dari dapur yang berisi teh hangat dan kopi. Istimewa bukan? Pastinya. Bunyi piring dan sendok kian beradu cepat sesudah terdengar ucapan selamat makan, dengan lima menit saja tak tersisa satupun biji nasi di piring saya. Mungkin karena saking laparnya.


Hal asik yang harus saya lakukan pagi ini adalah minum kopi di luar dan sedikit naik ke bukit, agar bisa melihat aktivitas warga yang sedang sibuk menjemur kopi mentah. Pengunjung lain sedang asik bercengkrama dengan mama-mama yang sedang menenun, ada juga yang sibuk mengabadikan foto dengan smartphone nya. Anak-anak berlarian, entah apa yang mereka perebutkan. Tawa mereka hanyut dalam lamunan saya bersama kopi dan sebatang rokok. Kemandirian dan tekad belajar mereka patut saya acungi jempol. Bayangkan saja, untuk pergi ke sekolah mereka harus naik turun gunung sepanjang 9 km. Tentu sesuatu yang sangat berat jika di lakukan oleh bocah seusia mereka. Perenungan di atas sini membuat saya lebih banyak mensyukuri hidup.


Matahari sudah menghangat di sembilan puluh menit yang lalu. Saya mengampiri kakak yang sedang menjemur kopi untuk sekedar mengobrol dan mengajak anak-anak bernyanyi lagu-lagu nasional. Suara serempak mereka begitu harmoni, ayam-ayam yang berkokok dan suara hewan hutan menjadi musik pengiringnya. Tidak perlu dengan mimik atau ekspresi yang di buat-buat seperti penyanyi idola cilik, jika untuk jatuh cinta pada mereka. Terutama kepada Allin dan Afro, bocah paling aktif selama bernyanyi dengan saya. Mungkin inilah salah satu alasan Kampung Waerebo selalu di datangi pengunjung dari berbagai penjuru dunia.


Sebelum pulang, saya pun menyempatkan untuk berkunjung kerumah warga, melihat mama-mama sedang memasak di tengah ruangan berlantai kayu. Perlu diketahui, dalam satu rumah Mbaru Niang bisa di isi untuk 8 kepala keluarga. Hal ini baru saya ketahui dari percakapan saya dengan Mama Bertha yang sedang serius menenun Kain Songke di samping tangga rumah.



Ucapan selamat jalan dan kemudian berpisah, adalah hal terberat


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih, Puluhan foto juga sudah tersimpan dalam memory kamera. saya harus berkemas dan meninggalkan kampung Waerebo. Berjabat tangan dan mendengar ucapan selamat jalan adalah sesuatu yang sangat berat pada pagi ini. Saya pun melangkah pulang sambil melambaikan tangan dan merekam senyum ramah mereka dalam ingatan. Kemudian ber'doa, berharap bisa kembali mengunjungi Kampung Adat Waerebo.


Dari perjalanan ini saya sungguh bersyukur, banyak hal-hal baru yang saya temukan. Mengenal orang-orang baru, mendengar bahasa dari setiap daerah, melihat alam flores yang luar biasa cantik, mengenal banyak perbedaan suku, adat, budaya membuat saya semakin bangga menjadi warga negara Indonesia.



Renungan 


Kita tidak harus mengikuti apa yang jadi pemikiran mereka, cukup hormati apapun yang sudah terlahir dan lestari, terutama pada tempat-tempat baru yang kita pijak. Bukankah perbedaan itu indah?




[caption id="attachment_437" align="aligncenter" width="640"]Kampung yang mendunia Kampung yang mendunia[/caption]

Komentar

  1. Hai Marliana, trimakasih sudah mampir ke blogku :D

    Kelamaan kalau ngumpulin keberanian dulu. Langsung packing aja. Orang fores baik dan sangat ramah, bikin betah nggak mau pulang.

    Aku bawa carrier, nesting ma kompor, tapi yang di masak nggak ada. hahah. Trik aja, pasang muka memelas biar di kasih makan. :p

    BalasHapus
  2. Blognya bagus bnget gan, cukup menjelaskan bagaimana bisa sampai ke kampung waerebu yg mendunia, sudah cukup menceritakan bagaimana perasaan disana dan membuat pembaca sudah merasa disana dan berkeinginan menemui kampus waerebu secara langsung, kapan2 ajakin dong bang inggit, kalo perlu di jadwalkan jauh2 bulan jd bisa sambil nabung, salam Sena....

    BalasHapus
  3. Hey Sena

    Makasih loh sudah mau baca tulisan yang acakadut ini. Oke siap gan, atur tanggal!

    BalasHapus
  4. Isi ceritanya menarik sekali mas,,,, Serasa merasakan sendiri ketika membacanya,,,,, Salam kenal mas

    BalasHapus
  5. Ah ini... Sukaaa! Gue follow deh blognya biar dapet update terbarunya terus :D
    Selamat berpetualang jangan lupa sharing terus yaa! :)

    BalasHapus
  6. Siapp, makasih ya :)

    Udah aku follback juga blogmu. Tak tunggu tulisanmu selanjutnya

    BalasHapus
  7. yaampun ngeliat foto - foto wae rebo, saya jadi kangen untuk kembali kesanaaa.
    Anak waerebo yang merindukan kampungnya.

    BalasHapus
  8. Emang ngangenin ya mbak, bawaanya pengen balik sana lagi. Suasana dan udaranya sangat sejuk.

    BalasHapus
  9. Terimakasih Mbak Een, masih belajar ngeblog ini :)

    BalasHapus
  10. Wooow.. Tak woco kuwabeh mas tulisanmu haha. Apik! Koyok Novel. Sampe terbius aku mocone hahaa

    Btw, kuwi fotone gak kurnag gedhe to mas? Keciliken kui... Opo emang disengojo? :(

    BalasHapus
  11. hahah aku masih belajar masalah tulis menulis mas. iya nih mau aku atur lagi tak gedein. Makasih lo sudah mampir ke blogku

    BalasHapus
  12. Yaaatuhan, tambah pingin ke waerebo hufff

    BalasHapus
  13. Monggo, di segerakan :)

    BalasHapus
  14. Salam kenal Mas Inggit..blog nya membuat saya semakin yakin untuk bertamu Waerebo. Kebetulan bulan Juli setelah lebaran saya bersama teman saya berencana kesana. Berniat memakai kendaraan motor juga seperti Mas. Perjalanan kesana kalau naik motor dari labuan bajo aman kah Mas?..

    BalasHapus
  15. Halo mas hari, salam kenal juga. wah semoga lancar ya tripnya. Kalau perjalanan aman mas di Flores..tapi sebaiknya bberangkat pagi dari l bajo...antisipasi aja kalau2 ada ban bocor atau apa. Soalnya saya dulu pulangnya ban bocor dan harus jalan kaki dorong motor sejauh 2 km.

    BalasHapus

Posting Komentar