Mengenal Mbaru Niang, Bangunan Eksotis Kampung Waerebo

Tulisan ini sebenarnya lanjutan dari postingan saya sebelumnya, tentang cerita perjalanan menuju Kampung Adat Waerebo. Yang belum tahu ceritanya, sempetin baca dulu ya.

Sekarang saya akan mengulas sedikit hasil obrolan saya dengan salah satu warga Kampung Adat Waerebo, yang bersedia menjelaskan panjang lebar tentang bangunan eksotis di Pegunungan Pocoroko ini. Bang Lius, begitulah biasanya saya memanggil nama beliau.

[caption id="attachment_426" align="aligncenter" width="640"]Mbaru Niang Mbaru Niang[/caption]

Mbaru Niang, sebuah rumah adat Suku Waerebo yang terkenal unik dengan bentuknya yang mengerucut layaknya nasi tumpeng. Waerebo sendiri terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Menurut kepercayaan warga, dari awal mula berdirinya kampung adat Waerebo sampai generasi yang ke 18 ini jumlah bangunanya tidak pernah berubah, tetap tujuh buah rumah, tidak boleh di tambah ataupun di kurangi. Entah apa alasanya, yang pasti itu sudah menjadi amanah dari leluhur Suku Waerebo.

Pasti dalam hati kalian bertanya, sudah generasi yang ke 18? Lha memangnya mereka tidak melahirkan keluarga baru? Seiring waktu pasti jumlah penduduknya bertambah kan, apa cukup 7 buah rumah untuk menampung penduduk yang semakin banyak?

Pertanyaan keren!

Kita sehati. :D

Jadi, Warga disini mempunyai dua kampung. Kampung pertama yaitu Waerebo dan yang kedua Kampung Kombo. Letak kedua kampung ini saling berjauhan. Jaraknya kurang lebih 12 km dan untuk menuju kesana, warga harus berjalan kaki selama kurang lebih 6 jam. Nah, di kampung kedua inilah sebagian penduduk Waerebo bertempat tinggal. Selain itu juga untuk tempat tinggal anak-anak Waerebo yang bersekolah disana. Tetapi tetap, jika ada acara hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru Penti Suku Waerebo, mereka akan bersambang ke rumah saudara-saudaranya di kampung utama.

Sudah jelas kan? Lanjut!

Sekilas mirip seperti rumah adat Hanoi di Papua, yang membedakan adalah atap rumah ini lebih mengerucut tinggi berpanggung dan atapnya terlihat hampir menyentuh tanah. Bagian luar atap rumah ini menggunakan daun lontar yang di jepit dengan rapat, kemudian di bagian dalamnya di rangkap lagi dengan alang-alang atau ijuk agar kontruksinya lebih kuat.

Lebar diameter rumah ini mencapai sekitar 24 meter dan bisa menampung enam sampai delapan keluarga. Masing-masing rumah mempunyai dua pintu dan empat cendela kecil. Semua bangunan rumah di buat menghadap ke Compang. Compang adalah tempat paling sakral, biasanya di gunakan untuk acara-acara ritual Suku Waerebo. Bentuknya seperti gundukan pondasi batu yang melingkar. Oh iya, kalau di disana jangan coba-coba naik ke atas Compang ya, karena itu larangan keras dari warga.

[caption id="attachment_427" align="aligncenter" width="640"]Di dalam rumah Mbaru Niang Di dalam rumah Mbaru Niang[/caption]

Di dalam rumah Mbaru Niang terdapat 5 tingkat, masing-masing mempunyai nama dan fungsi yang berbeda. Berikut ini nama dan fungsinya.

  1. Lantai 1 bernama Tenda atau Lutur. Lutur juga di bagi menjadi tiga bagian, terdiri dari kamar tidur yang di sekat-sekat dengan papan, dapur dan ruang berkumpul keluarga.

  2. Lantai 2 bernama Loteng atau Lobo. Lantai Lobo di gunakan sebagai tempat menyimpan barang, bahan makanan, dan keperluan sehari-hari.

  3. Lantai 3 bernama Lentar. Tingkat ke tiga ini berfungsi sebagai tempat menyimpan benih atau bibit tanaman.

  4. Lantai 4 bernama Lempa Rae. Lempa Rae berguna untuk menyimpan cadangan makanan jika sewaktu-waktu terjadi musibah karena kekeringan atau gagal panen.

  5. Lantai 5 bernama Hekang Kode. Lantai paling atas di rumah ini berguna sebagai tempat menyimpan sesaji, khusunya persembahan untuk para leluhur Suku Waerebo.


Menurut Bang Lius, rumah ini akan semakin kuat dan terhindar dari serangan rayap jika terkena asap. Maka dari itu dapur di letakkan di tengah-tengah ruangan, agar asap dari pembakaran saat memasak bisa menyebar ke seluruh ruangan. Menariknya lagi, tidak ada paku, besi dan beton pada bangunan ini. Lantas bagaimana rumah itu berdiri? Di tanam, di ikat dan di pasak. Ya, tiang-tiang utama di tanam dahulu ke tanah, untuk kerangka atap dari bambu di ikat dengan tali rotan, kemudian penggabungannya menggunakan pasak. Keren kan? Sampai-sampai kampung ini sering di kunjungi oleh arsitek dari penjuru Indonesia dan bahkan luar negeri untuk mempelajari bagaimana konsep Rumah Mbaru Niang itu berdiri.

Nah, itu tadi sedikit ulasan saya tentang rumah Mbaru Niang di Kampung Adat Waerebo. Semoga bermanfaat. Yang belum pernah kesana, lekaslah bergegas. Keindahan Indonesia tidak hanya pada gunung dan pantainya saja kan?

Baca juga Kampung Waerebo, Pedalaman Flores Yang Mendunia

Komentar