Haru Mahameru

Kalimati, mendengar dan mengingatnya tidak jauh dari kata-kata pos klimaks resmi dan hawa dingin. Juga, sebuah hamparan savana luas tepat di bawah kungkungan pasir puncak Mahameru yang mentereng gagah berwarna abu-abu. Sesekali kadang tak terlihat karena terbungkus oleh kabut.

Terdapat satu bangunan usang disini, hampir di setiap ruangan pintunya hilang. Begitu juga dengan cendelanya yang entah kemana — mungkin sudah menjadi abu api unggun — sebagai penghangat saat dingin. Dindingnya banyak yang retak, warna catnya pun pudar, hangus terkena asap pembakaran api di sisi kanan-kirinya.

Pukul sebelas malam, sayup-sayup mulai terdengar kehidupan. Dimana para pendaki sedang berkemas menyiapkan apa yang perlu di bawa saat ke puncak. Ada juga yang tak mau ketinggalan, mereka berangkat lebih awal. Katanya nanti akan macet, karena saking banyaknya pendaki yang mau ke puncak. Padahal, kurasa hari ini tak seberapa ramai, bahkan bisa dibilang sepi untuk ukuran Semeru.

'Ayo masak mie instan sebentar, terus kita berangkat muncak', ucapku kepada Fikri dan Bobi. Kompor dan segala peralatan memasak sudah kusiapkan dengan gerakan yang malas, karena dingin benar-benar menggerogoti seluruh persendian tulang. Kami tidur di dalam bangunan yang tanpa pintu dan cendela ini. Sementara tubuh hanya di bungkus kantong tidur berbahan dakron. Jelas tetap kedinginan, kan? dan tetap kedua teman saya ini masih bermalas-malasan, masih meringkuk menempel dinding ruangan.

Rombongan dari Bojonegoro di sebelah ruangan kami sudah siap. Mereka berangkat berempat dengan porter. Ibu-ibu berumur enam puluh tahun yang saya temui di Ranukumbolo, anak perempuanya, dan calon menantunya laki-laki dari Banjarmasin. Saya tidak meragukan ibu-ibu ini apakah kuat sampai puncak atau tidak. Ketika perjalanan menuju Kalimati tadi pagi, beliau bercerita lama dengan saya tentang pendakianya ke Rinjani, katanya sukses sampai puncak. Berarti mungkin kuat juga untuk menggapai impianya di tanah tertinggi pulau Jawa ini, pikirku. Satu jam setelah keberangkatanya, kami bertiga menyusul perlahan dari pos Kalimati. Tanpa lupa berdoa agar di berikan keselamatan oleh-Nya selama perjalanan.

Dingin mulai mereda, bergantian, kini nafas tersengal-lah yang menjadi derita. Tapi tetap sedikit kami paksakan untuk terus berjalan menyibak belantara Kalimati hingga Arcopodo. Lagi, dengan rintangan debu-debu samar beterbangan yang semakin membuat sesak, lengkap dengan kabut tebalnya. 'Kita istirahat sebentar, aku pengen merokok' ucap Bobi. 'Sama, aku juga', tukas saya. Ya kami bertiga bersandar di pohon terakhir batas vegetasi. Untuk menyalakan rokok saja susahnya minta ampun karena angin begitu kencang merambah.

Sebenarnya kemarin saya ingin mendirikan tenda di sekitar sini — arcopodo, tapi kata porter takutnya penuh, tidak cukup, tempatnya terbatas untuk mendirikan tenda.



Hampir satu jam waktu berlalu. Masing-masing kami menikmati dua batang rokok kretek di perbatasan hutan dan pasir, tapi belum juga ada tanda-tanda langkah manusia di bawah. Hanya ada di atas sana, sesekali cahaya senternya menyorot ke bawah. Saya tiba-tiba memikirkan ibu tadi, bagaimanakah nasibnya. Sepuluh meter di depan saya ini sudah jalan berpasir, menanjak entah berapa derajat. Melihat ujung batas pandangan dengan menengadahkan kepala saja rasanya kelelahan di leher. Gelap, tapi masih bisa terlihat samar. Batu-batuan yang besarnya se pos gardu di kanan kiri jalur juga setiap saat bisa langsung meluncur ke bawah dengan cepat — siap menghantam siapa saja. Sungguh mengerikan, curam, terjal dan berdebu pula.

"Semakin banyak tahu semakin mudah orang menjadi takut. Saya pikir rasa takut memang harus ada, karena inilah yang akan membuat saya bersikap hati-hati". 

Kutipan : ~Norman Edwin~

Hari itu kondisi fisik dan mental saya lumayan baik. Walaupun lelah, tapi tak ingin cepat-cepat menyerah. 'Santai saja ya, pelan-pelan, yang penting sampai', ucap Fikri yang nafasnya mulai tak beraturan karena tanjakan demi tanjakan yang kami lalui. Begitu pula juga dengan Bobi, wajahnya mulai kusam berbedak debu, langkanya mulai gontai dan terseok-seok. Sungguh lelah, tapi tidak ada keringat yang keluar untuk mengakali udara dingin. Tidak seperti pendakian sebelumnya, walaupun berjalan dimalam hari keringat akan tetap keluar dan menghilangkan rasa dingin. Sayangnya, tidak berlaku disini, di jalur pasir menuju puncak Mahameru.

'Kamu duluan, nanti aku nyusul sama Fikri'. Kataku ke Bobi. Di bawah sana sudah ada lampu yang menyorot-nyorot ke atas, lumayan banyak. Ada yang terlihat bergerak, ada juga cahaya lampunya yang tetap diam — tanda kelelahan.

Tak disangka, beberapa meter di depan saya ada ibu yang dari Bononegoro tadi. Beliau bersandar dan terdiam lemas di balik batu. Tubuhnya di ikat dengan tali harness sepanjang dua meter yang dikaitkan dengan pinggang pak porter. Ternyata beliau berjalan naik di tarik dengan tali. Saya bisa membayangkan bagaimana perjuanganya sejauh ini. Saya merasa sangat tidak tega melihatnya. Wajahnya terlihat pucat, debu-debu terlihat menempel di kacamatanya, jilbab yang ia kenakan juga sudah lusuh terkena pasir. Antara rasa kasihan dan salut kepada beliau berkecamuk. 'Mas sama mbak (anak dan calon menantu ibu) sudah duluan, katanya nunggu di atas situ'. Pak porter menyeletuk ke saya ketika saya menghampirinya.

'Ibu masih semangat?, masih kuat kan bu?, puncak sudah dekat' Saya membuka percakapan dengan senyuman kagum. 'Ya masih dong, masih semangat ini', jawab beliau dengan memaksakan kalimat yang keluar dari mulutnya. Nafasnya masih tersengal-sengal. 'Ibu hebat ya, kuat, sepulang dari sini langsung Jaya Wijaya'. Puji saya kepada beliau.

Semakin tinggi hawa dingin semakin menggigit ke tulang. Angin pun tak mau kalah, mengobrak-abrik debu di sekujur jalur. Oksigen yang dirasakan ibu berumur enam puluh tahun di samping saya juga semakin menipis, membuat nafasnya semakin tersendat, katanya. 'Saya naik dulu mas, nanti pasti ketemu lagi', ujar ibu kepada saya. Beliau berlalu meninggalkan saya, merangkak naik dengan bantuan porter. Di bawah langit yang masih gelap, tubuhnya di tarik seolah paksa dengan tali, berjalan lambat namun pasti. Sepuluh dan kadang tak sampai enam langkah beliau berhenti, lalu berjalan lagi setelah mengeluarkan pasir yang tertimbun di dalam sepatunya.

Sudah lima belas menit saya duduk disini, berlindung di balik batuan keras dengan tubuh tertanam di pasir. Fikri belum nampak juga, sedangkan Bobi sudah tiga puluhan meter di atas saya. 'Mas, itu di bawah apa temanya? Bangunin mas, sepertinya ketiduran'. Ucap pendaki yang lewat. Saya beranjak turun sebentar, kira-kira tujuh meter. Dan ternyata benar, itu kawan saya yang tidur di balik batu. Saya membangunkan Fikri yang matanya masih terkantuk-kantuk. 'Jalur berpasir ini sungguh menguras tenaga' — katanya kelelahan.

Langit sudah tidak sepekat satu jam yang lalu, sudah terlihat berwarna ke abu-abuan. Tetapi senter di kepala masih wajib untuk kami kenakan. Ya, guratan di atas langit itu semakin menyemangati langkah kami, begitu juga dengan angin, seolah terus mendorong agar lebih cepat tiba. Kami berjalan beriringan dengan konstan, sepuluh langkah berjalan kemudian satu menit berhenti, dan seterusnya. Hingga menyalip ibu-ibu yang di tarik porter dengan tali tadi. 'Ayo bu, puncak sudah kelihatan'. Teriak saya memberi semangat. 'Sudah tidak kuat', jawabnya. Tapi porter itu terus menarik, menyeret dengan kekuatan penuh yang di miliki. 'Ayo bu, ini lho sudah dekat', teriak porter dengan di iringi gemuruh angin yang super kencang. Langkahya menyeret pasir, membuat bekas lubang panjang di jalanan. Sudah tidak menghiraukan lagi butiran pasir yang masuk di sepatunya. Tanganya memegang erat tali harness yang melilit di tubuh, dengan raut wajah yang sungguh terlihat menderita. Sungguh, saya benar-benar tidak tega melihatnya.

'Berhenti pak, saya sudah tidak kuat', teriak ibu. Tapi terus saja, pak porter masih lanjut menyeret-nyeret tubuh tua yang sudah tak berdaya itu. 'Ini lho bu, coba lihat ke atas, sebentar lagi sudah sampai'. Hibur porter itu kepada ibu. 'Sudah pak, jangan di teruskan, istirahat saja dulu, kasihan ibu', celetuk saya ke porter — akhirnya berhenti juga. Ekspresi kegembiraan di wajah ibu mulai mengembang ketika melihat gumpalan awan di bawah sana, meski rautnya ada kerutan lelah. Langit mulai menguning cerah. Sungguh indah pagi ini. Sebagian orang juga sudah tiba di puncak. Meluapkan kegembiraan mereka dengan berteriak, semakin menyemangati kami yang masih kurang beberapa langkah lagi pada tujuan.

'Kita istirahat sebentar disini, agak lama juga tidak apa-apa'. Ucap Fikri sambil merebahkan tubuhnya di tengah jalur. 'Oke, merokok dulu lah'. Sahut bobi. Saya duduk memandangi ibu yang sedang duduk selonjoran. Beliau tak berkata-kata, diam seperti malamun kagum kepada semesta. Sesekali wajahya menatap, menerawang langit-langit. Sampai terlihat sedikit ada bulir air mata yang terjatuh. Anak dan calon menantunya tak henti-henti menyemangati dengan duduk merangkul tubuh ibunya yang kelelahan. Memang puncak sudah terlihat, kurasa mungkin tak sampai sepuluh menit kami akan tiba. Pasir yang kami injak pun sudah tidak membuat kaki tenggelam. Hanya berupa batuan dengan medan zigzag, tapi masih menanjak, terjal.

Dengan sisa-sisa tenaga dan semangat, kami berjalan lagi berurutan — kadang beriring. Berbelok kanan, belok kiri dan terus menerus seperti ini. Kadang saya menyempatkan mengintip gumpalan awan yang kelihatan empuk itu, dengan menaiki batuan yang lebih tinggi dari tubuh manusia. Gunung-gunung jauh disana muncul menyembul berwarna hitam, seperti keluar dari langit. Saya tidak melihat kota-kota. Hanya ada awan dan gundukan gunung gagah di kanan-kiri Mahameru — seperti arjuno, welirang dan Lawu.



Teriakan orang di atas sudah tidak lagi terdengar bergeming, sudah jelas kalimatnya. Ada yang berteriak 'woy, puncak woy'. Rasanya itu luapan kegembiraan. Ibu juga sudah tidak lagi di seret dengan tali-tali kuat. Seperti ada energi ajaib yang menyelinap di tubuhnya. Langkahnya tidak seperti tadi saat masih gelap. Saya benar-benar kagum berada di belakangnya. Tekad dan ambisinya mengalahkan semua hal berat yang di lalui ketika melakukan perjalanan ini. Anak perempuan dan calon menantunya terus menyemangati — hingga tibalah kami bertujuh di hamparan tanah datar luas berbatu kerikil.

Ya, kami tiba di puncak Mahameru. Gunung yang berketinggian 3676 meter di atas permukaan laut, dan konon adalah puncak abadi Para Dewa. Sorak sorai semua orang yang sudah sampai  wajahnya berhias suka cita. Tapi mungkin belum untuk para orang-orang yang masih merayap seperti semut di bawah sana — memperjuangkan kakinya untuk bisa menginjak tanah tertinggi di Pulau Jawa ini.

Sekejap rasa haru datang ketika melihat ibu yang sedari tadi berbarengan dengan saya. Beliau membasuh tubuhnya dengan debu yang menempel di batuan untuk Tayammum, lalu melakukan sholat dalam pelukan dingin. Mungkin menyampaikan rasa syukurnya kepada Sang Pencipta. Selesainya, ia kemudian melangkahkan kaki menuju sang saka merah putih yang tertancap di atas puncak ini. Saya melihatnya, saya mendengar ucapanya.

'Alhamdulillah'

Kalimat itu berbisik lirih namun mengalahkan riuhnya angin dan gemuruh asap jonggring saloko. Kepalanya tertunduk syahdu, hikmat, dan matanya melelehkan butiran air mata — mengaliri gurat wajah yang kusam akibat balutan debu Mahameru.

[caption id="attachment_380" align="aligncenter" width="640"]Foto bersama dengan keluarga Bojonegoro dan Porter Foto bersama dengan keluarga Bojonegoro dan Porter[/caption]

Lumajang, 6 Juni 2014

Catatan*

~Perjalanan dari Kalimati ke Puncak Mahameru kami membutuhkan waktu lima jam.

~Pakailah gaiter untuk melindungi sepatu agar tidak kemasukan pasir.

~Bawalah air minum secukupnya.

~Jangan tinggalkan sampah :)

 

Komentar

  1. Boleh, mau di gendong apa di seret ? =D hohoho

    BalasHapus
  2. Pengalaman luar biasa. Terharu!

    BalasHapus
  3. Hey Katerine

    Iya, tak terlupakan.

    terimakasih ya sudah mampir. :)



    BalasHapus
  4. Ah hebat sekali ibu itu berani naik Mahameru. Kalau saya di kakinya saja pasti sdh nyerah..Karena berpikir itu bukan medan saya :)

    BalasHapus
  5. Hay Mbak Evi

    Hebat, semangatnya luar biasa mbak. Dicoba dulu mbak, siapa tau nyampek leher atau perut. Gak perlu sampai puncak :D

    BalasHapus
  6. Mahameru selalu punya sejuta cerita untuk dibagi

    BalasHapus
  7. Ranu Kumbolo emang ngangenin kok ya :D

    Makasih loh bang Cumik, udah mampir :)

    BalasHapus
  8. belum pernah ke semeru krn hati ini blm merasa terpanggil huehehehe

    BalasHapus
  9. Hehe semoga lekas terpanggil mas :)

    BalasHapus
  10. Wah ibu2 itu jagoan dan masha Allah, solat di puncak..

    BalasHapus
  11. gileee .. hebat bener si ibu ... ibu2 perkasa
    saya aja belum pernah kesini .. dan apa kuat ga ya ....

    BalasHapus
  12. Wah keren ya si ibu, amazing!
    Saya aja masih kalah kayaknya soal naik gunung..

    BalasHapus
  13. Pertamax ikutan naek gunung langsung nekad ikut ke Semeru. Ikut open trip yang operatornya sangat sembrono, dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo berangkat ba'da ashar lewat jalur Ayek-Ayek yang sekarang sudah ditutup katanya yah. Alhasil nyasar (kata temenku disasarin sama sesuatu ghaib) yang jelas ketemu jalan yang samaaa terus bentukannya tapi gak sampe2 Ranu Kumbolo. Karena kelelahan istirahat di lembah jam 12 malam dan kena hypotermia. Ternyata lembah itu ada di belakang persis Ranu Kumbolo. Jadilah hanya sampe Ranu Kumbolo dan turun lagi karena gak berani maksa kondisi badan gak fit. Masih pengen ngulang lagi mencapai Semeru.

    BalasHapus
  14. HALO KAK ANITA.

    wah..emang berat kalau lewat jalur ayak2. harusnya di tunda aja dulu pendakianya. Bisa naik pagi2 aja, biar nggak kemaleman di jalan. Tp alhamdulillah ya kak nggak kenpa2, yg bahaya itu kalau kena hhypo. Semeru nggak kemana2 kok. nanti bisa berkunjung lagi, dan semoga sampai puncak.

    BalasHapus

Posting Komentar