Jika hanya diam, maka tidak akan pernah ada cerita!

Perjalanan jauh itu menyenangkan. Bukan tentang soal destinasi, tapi lebih kepada bagaimana kita melalui proses yang begitu panjang dan melelahkan. Tidak hanya bersenang-senang kemudian pulang tanpa memperoleh sesuatu yang bermakna. Ya, saya berpendapat seperti ini untuk mengukur keberanian dan kemandirian. juga, tentunya sebagai cerita, kenangan dan pengalaman. Karena menurut saya, mengingat suatu cerita perjalanan adalah hal yang paling menarik. Apalagi mengingat perjalanan ketika denganmu.

Ehmm!



Jadi pernah ada sedikit cerita yang menurut saya sangat berkesan, dan tentunya membuat saya semakin terbuka dengan orang baru, tidak melihat baik, buruk, kaya, miskin, pintar dan kebodohan seseorang hanya dari penampilanya.

Ketika saya ingin backapacker-an ke Flores, saya bertemu dengan kakek yang usianya mungkin sudah sekitar 60 tahun di dalam angkot dari Wiyung menuju Terminal Joyoboyo. Penampilanya mencolok dan ngejreng layaknya anak ABG yang lagi semangat-semangatnya menghias diri ketika masa puber. Wajah dan tubuhnya kurus tengil, dengan memakai celana jeans yang sedikit robek mirip musisi rock di panggung konser. Rambutnya berwarna putih rata, hampir sudah tidak ada yang hitam. Namun beliau kelihatan masih sehat dan bersemangat. Tentunya membuat pandangan saya selalu terfokus ke arahnya.

Kondisi dalam angkutan tersebut ketika itu sedang penuh-penuhnya. Sampai-sampai saya tak enak hati dengan penumpang lain, karena saya membawa tas carier sebesar kulkas. Membuat ruangan sesak dan kian memanas. Tidak ada satupun obrolan antara penumpang. Hanya suara bising mesin yang mencoba memecah keheningan kala siang itu.

Kakek tua yang menjadi topik sedang memandangi keadaan kanan, kiri, depan dan termasuk ke arah saya. Beberapa kali juga terlihat menyeka keringatnya yang bercucuran dengan sapu tangan yang ia genggam. Kemudian ucapan pertamanya keluar dan di tujukan kepada orang di sampingnya.

'Mau kemana mas?'

Kata kakek dengan senyuman yang menurut saya rada aneh. Anehnya mencurigakan, semacam kurang waras. Ingah-ingih begitu lah! Tanganya memeluk tas ransel, jari-jarinya di penuhi batu-batu akik sebesar biji salak.

'Kenapa tanya-tanya? Saya mau ke Wonokromo.'

Wajah orang itu tampak cuek dan sengak ketika menjawab pertanyaan kakek. Juga, tanpa menoleh sedikitpun ke arah kakek dan asik bersandar pada cendela mobil. Dia memakai topi merah dan sedikit di tenggelamkan ke depan, sehingga menutupi sebagian wajahnya. Wow, Sadis jawabanya!

'Ya santai saja lah mas, saya ini kan tanya enak-enak. Kok jawabanya seperti itu.'

Jawab kakek yang malah sambil senyum-senyum nyengirseperti sengaja ngece orang disebelahnya, seperti tak punya rasa sakit hati sedikitpun. Semua orang di dalam mobil sontak menatap mereka berdua, karena terlihat ada perdebatan singkat.

Aha! Saya dalam hati pun heran, orang ini beres tidak ya. Beberepa detik kemudian, ucapan itu berganti di lontarkan ke saya.

'Kalau kamu mau kemana dik?'

Kemudian saya menjawab. 'Mau ke Terminal Joyoboyo Pak.'

'Mau camping di Terminal ya, kok bawa tas segitu besarnya. Pasti isinya tenda dan alat masak.' Begitu imbuhan kalimat dari kakek.

Saya pun tertawa setelah mendengarnya. Kocak bin konyol juga ini orang. Imbuhannya yang singkat, tapi memaksa saya untuk terus berinteraksi denganya.

'Ya tidak lah Pak, saya mau jalan-jalan ke Flores, mau turun Joyoboyo terus lanjut ke Terminal Bungurasih, dan masih banyak oper-oper transportasi umum lagi pak'. Nama Bapak siapa?' Jawab saya agar ia puas dan mencoba berkenalan.

'Panggil saja Om Kepeng, jangan panggil Pak, saya masih muda. Umur saya 17, tapi di balik. Jadi berapa hayo?' Saya tanya malah balik tanya. Sejujurnya saya tidak percaya jika umurnya 71, karena wajahnya tampak sangar dan masih kelihatan produktif. tetapi beliau berkata lagi.

'Tak lihatin KTP ku ya, biar kamu percaya'. Ucapnya.

'Wah, umur Om Kepeng sudah 71 tahun ya? Hebat Om, umur segitu masih saja wira-wiri dijalanan.' Tukas saya.

Kemudian beliu bercerita tentang dirinya yang dulunya adalah seorang wartawan, entah wartawan apa. Dan sekarang menjadi pembimbing. Dari masa mudanya sampai sekarang, beliau masih sering kesana-kemari. 'Saya nggak bisa diam dik, meskipun sudah berumur, saya selalu haus akan informasi, entah itu hanya sekadar nongkrong di kantor tempat kerja saya dulu, yang penting nggak di rumah. 'Seharusnya kamu juga begitu, kayak Om gini lho, sama orang itu harus supel, ramah, dan grapyak, kamu kan suka jalan-jalan to? Harus banyak teman dimana-mana, biar kalau ada apa-apa enak'.



Begitu ucapnya, Kemudian orang sebelah Om Kepeng merasa tersindir, dan langsung mengernyitkan dahinya. Wajahnya makin sengak melihat kami berdua.

Selera humor Om Kepeng sangat tinggi. Dengan leluconya, beberapa menit saja banyak yang kami bicarakan. Setiap topik yang di bahas selalu di selingi dengan kidungan logat Suroboyo. Ahh, pokoknya kocak. Saya tertawa lapas hingga saya lupa jika sedang berada di transportasi umum. Sajauh yang saya amati, Om Kepeng memang berwawasan luas. Ilmu Seni tradisi, dan Sejarah nampak sekali ia Kuasai. Apalagi sejarahnya Surabaya tentang Raja Jayengrana dan Putranya Sawunggaling itu.

Sebelum berpisah saya sempat bertanya lagi ke Om Kepeng.

'Om Kepeng, itu jenis batu apa yang ada di tangan Om?'.

'Saya sendiri juga tidak tahu dik, ini kawan saya yang memberi'.

Begitu jawaban yang dilontarkan Om Kepeng sembari keluar angkot karena sudah sampai di terminal Joyoboyo.

Setelah agak jauh, Om Kepeng sedikit berteriak.

'ini batu akik jenis TD, apa kamu tahu TD dik?'

Saya jawab 'nggak tahu Om, emang apa itu?'.

'TD itu tundung bawok lesobo embong (baca : sering dijalan) kok nggak ngerti tundung bawok'.

Saya tertawa hingga terpingkal-pingkal mendengarnya.

Padahal Perjalanan baru saja dimulai beberapa menit yang lalu. Dari Om Kepeng, saya semakin mengerti tentang pentingnya sebuah interaksi ketika melakukan perjalanan panjang. Karena jika saya hanya diam saja, mungkin saya tidak akan bisa mendapatkan banyak cerita dan kenangan yang mengesankan.

Inilah salah satu cerita dan keseruan yang akan selalu saya ingat. Sungguh, perjalanan itu tidak melulu tentang sebuah destinasi.

Komentar

  1. Lama gak baca2 udh banyak postingan ajaa.
    Bacanya serasa liat dewe. Bisa bayangin batu akik sebesar biji salak x_x ahh seremm.
    Btw tundung bawok apaan??

    BalasHapus
  2. Liat apa? Akik kah? Atau om kepeng? Hahaha

    Jangan tanya, itu jorok. Aku nggak bisa njelasin. Hahaha

    BalasHapus
  3. setuju mas.. klo kita hanya diam, maka tak pernah ada cerita. beberapa minggu yang lalu, saya juga melakukan yang hampir mirip. hanya saja masih di aceh. ketemulah dengan seorang kakek2 tua di pasar. pas di ajak2 ngobrol, eeeh si kakek itu hapal sejarah dengan luar biasanya! :D

    BalasHapus
  4. Hei Mas Yuda

    Iya, dengan tidak sengaja pengetahuan kita jadi bertambah. Setelah ketemu kakek itu saya jadi penasaran cari buku sejarahnya kisah Sawunggaling.

    Terimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  5. Duh, nggak ngerti istilah Suroboyoan >.<

    Tapi emang bener, seringnya lebih seru kisah perjalanannya daripada kesan di tujuannya XD

    BalasHapus
  6. Haha, ayo belajar istilah Suroboyoan bang :D

    Yap, Proses memang lebih berkesan dan lebih mudah di ingat.

    BalasHapus
  7. Bener banget judulnya, setuju banget...

    Best regard,
    Adi Pradana

    BalasHapus
  8. Hahahaha.... memang kalau di angkutan kota banyak cerita unik dan menarik yang bisa kita ambil. hehehe.. Salam kenal mas

    BalasHapus
  9. Aku kok jadi penasaran tundung bawok itu artinya apa

    BalasHapus
  10. Ish satu lagi cerita ya. Kita mungkin bisa pergi kemana saja, melihat apapun dan hanya sekedar melihat. Tanpa berinteraksi, perjalanan memang terasa ada yang kurang. Yang selalu seru dalam perjalanan ya ketika kita bisa berinteraksi dengan siapapun :)

    BalasHapus
  11. Betul, aku pernah jalan kayak gitu. Dan rasanya kurang berkesan banget. Kalau cuma pergi, lalu pulang cuma bawa foto2, Nggak akan pernah ada cerita yang menarik :)

    BalasHapus
  12. wkwkwkwk TD, kirain jenis akik model gimana gitu, ternyata..... hasyemmmmmmm :))))

    BalasHapus
  13. Ahahaa, ngerti akik TD juga mbaknya :D

    BalasHapus

Posting Komentar