Ke'te Kesu', Wisata Kampung Budaya di Tana Toraja

Setelah hampir sembilan jam perjalanan dari Makasar, tepat jam enam pagi saya tiba di perwakilan Bus Batutumonga, Rantepao. Jalanan masih lengang. Orang-orang masih sibuk lari kecil mencari keringat di pagi buta. Sebagian ada yang membersihkan halaman toko kelontongnya di pinggir jalan poros.

Memang betul apa yang dikatakan seseorang tadi malam di dalam bus, di Toraja sejuk, tidak seperti Makasar yang panasnya luar biasa. Kota Rantepao di kelilingi pegunungan. Di utara sana ada Gunung Sesean yang menjadi latar belakang kota, kira-kira tingginya di atas dua ribuan meter dari permukaan laut. Cukup untuk menebar hawa dingin di kota budaya ini.



Baru saja turun dari bus dan berjalan sekitar seratus meter, saya sudah di hampiri oleh seseorang. Dia mengulurkan tangan — menjabat dan memperkenalkan dirinya. Beliau bernama Pak Imanuel.

"Mau kemana kita mas?, jalan-jalan pagi apa mau cari penginapan?, kalau butuh penginapan ada itu saya punya saudara", nanti kalau mas butuh pemandu wisata saya juga bisa mengantar".

Langsung saja saya setuju dengan penawaran Pak Imanuel, mungkin karena lelah dan sudah dua hari badan belum tersiram air, Gerah dan lengket, pengen cepat-cepat mandi. Beliau meninggalkan begitu saja motor matic miliknya di pinggir jalan poros Rantepao dan menemani saya jalan kaki. Cukup di kunci stang, tanpa di titipkan!

"Apa tidak hilang nanti motornya pak?" Tanya saya. "Kalau di Toraja sini aman mas, tidak ada itu maling, tidak ada yang berani mencuri". Begitulah jawabnya. Saya percaya, karena di sepanjang perjalanan keliling makasar saya sering bertemu dengan orang-orang asli Toraja. Seperti saat saya naik becak dari Pantai Losari ke Central. Kebetulan tukang becaknya orang Makale. Sambil mengayuh pedalnya dengan nafas yang ngos-ngosan, beliau juga bercerita tentang hal yang sama. Iya, tentunya soal keamanan disini. Di Tana Toraja.

"Hari ini rencana saya mau ke Ke'te Kesu', kira-kira jauh apa tidak dari sini?". Tanya saya ke Pak Imanuel.

"Tidak jauh, hanya sekitar enam kilo meter. Dua puluh menit juga sampai dari sini kalau tidak tersesat. Bawa saja itu motor saya (maksudnya disewakan), nanti saya kasih juga peta wisata Toraja. Lanjut Pak Imanuel sambil menggiring saya ke penginapan milik kerabatnya.

Mandi sudah, sarapan sudah. Rasa ngantuk pun lenyap di makan semangat. Saatnya menuju Ke'te Kesu' dengan bermodal peta yang diberikan Pak Imanuel. Untungnya beberapa hari yang lalu saya sudah sempat mencari info dan menghafal rute tempat wisata. Jadi tinggal butuh penuntun Google Map dari telepon pintar saya agar lebih akurat.

Butuh lima belas menit saja untuk tiba di Ke'te Kesu'. Dengan jalanan yang berkelok-kelok. Kanan kiri terhampar sawah yang sudah mengering berwarna kecoklatan. Di batas pandangan antara langit sebuah pegunungan terlihat tertidur, memanjang saling sambung dan menghijau.

Ke'te Kesu' merupakan desa adat yang masih mempertahankan adat istiadatnya. Terdapat deretan Rumah Tongkonan dan Lumbung di dalam komplek. Bangunan tersebut atapnya berbentuk mirip perahu, menjulang di bagian depan dan belakang. Di tiang utama depan, serentetan tanduk kerbau menghias ke atas. Lengkap dengan belulangnya di bagian kanan dan kiri, membuat bangunan ini terlihat eksotis dan semakin tinggi nilai sejarahnya.



Ada satu lagi yang membuat saya penasaran, yaitu petunjuk arah yang bertuliskan "kuburan". Ya, tentu saja penasaran. Selain Rumah Tongkonan, yang terkenal di Tana Toraja adalah tempat pemakamannya. Maka tidak lama-lama, setelah selesai mengamati dan mendokumentasikan Rumah Tongkonan, saya menuju pemakaman yang berada di belakang komplek.

Satu-persatu tangga saya lalui. Tapi tetap, pandangan saya tak lepas menengok ke kiri. Tempurung kepala atau tengkorak manusia berjejer rapi di atas peti yang sudah tua. Mungkin sudah berumur ratusan tahun. Ukirannya bermacam-macam, tetapi yang paling dominan adalah bentuk kepala kerbau. Di atas tebing pun juga begitu, peti-peti di gantung — tertahan kayu balok. Menariknya lagi, ada sebuah patung miniatur orang meninggal (Tau-tau) yang di letakan di dalam lubang tebing. Patung-patung tersebut dipagari jeruji besi dan di gembok. Sungguh, terkesan sangat menyeramkan.

"Kakak mau masuk goa? saya ada lampu penerangan, barangkali kakak mau saya antar lihat-lihat ke dalam". Bocah asli Tana Toraja menyeletuk, sambil tanganya menggenggam beberapa senter. Namanya Sandi dan Temu. Mereka seorang guide di kawasan pemakaman ini.

"Kalau kakak punya pertanyaan seputar budaya Toraja, sebisa mungkin saya akan menjawab pertanyaan kakak", lanjut celetuk si Temu dengan percaya diri.

"Baiklah, tolong antar saya ke dalam goa". Mereka membagi tugas, Sandi yang menuntun jalan, dan Temu menjawab seputar pertanyaan yang saya lontarkan.

Gelap sudah pasti, karena kedalamanya juga lumayan, kurang lebih sekitar dua puluh meter. Sesekali kami harus merunduk dan merapat memeluk batuan goa. Temu menunjukan beberapa keunikan yang nampak pada dinding batuan. Batu yang menyerupai hidung, telapak tangan, dan batu berbentuk seokor buaya.

Menurut saya yang paling mirip adalah batu yang berbentuk buaya, menempel timbul di dinding bawah. Mulutnya terkatup, cukup mendukung suasana seram di ujung goa yang gelap, pekat dan pengap.

"Yang ini peti dan tengkorak tertua di Ke'te Kesu', petinya sudah rapuh di makan rayap", ujar Sandi. Peti yang berisi tulang belulang itu letaknya menjorok ke dalam goa yang sempit. Lalu bagaimana orang-orang membawa peti ini masuk, di lewati tubuh manusia saja susah. "Batu dalam goa ini hidup, semakin lama semakin menyempit", lanjut Sandi menjawab.

Sambil berjalan keluar goa, Temu menjelaskan tata cara pemakaman masyarakat Toraja.

"Jadi begini kak,

Dalam kepercayaan orang Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan (atas tebing) maka semakin cepat rohnya itu sampai pada tujuan akhirnya — menuju nirwana. Biasanya kalau ada orang meninggal dan belum bisa mengadakan upacara Rambu Solo, jenasahnya akan di simpan dahulu di dalam rumah, belum di anggap meninggal — Masih di anggap sakit dan perlu di rawat. Barang-barang kesayangan orang yang meninggal nantinya juga akan di bawa ke pemakaman, seperti perhiasan dan yang lainya. Maka dari itu kenapa patung-patung di depan tadi di kurung dalam jeruji besi dan di gembok, supaya perhiasanya tidak di curi orang!

Kalau orang-orang kalangan bangsawan yang meninggal, maka mereka akan memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga sampai 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong)."

"Kerbau belang yang harganya sampai milyaran juga kah temu?" Tanya saya

"iya kak!", jawab si Temu.

Bayangkan saja, biaya untuk orang meninggal disini tidak sedikit, bahkan sampai milyaran rupiah. Satu ekor kerbau yang paling murah saja disini harganya tujuh puluh juta rupiah. Jadi, semakin banyak hewan yang di korbankan dalam upacara kematian, maka akan di anggap semakin tinggi derajat orang yang meninggal tersebut.



Tana Toraja, 29 Oktober 2015

*Catatan

~Transportasi Bus (PO. Batutumonga) Makasar - Rantepao, Toraja Utara Rp. 130.000.

~Sewa motor perhari Rp. 100.000 (bahan bakar sudah di isi)

~HTM desa wisata Ke'te kesu' Rp. 10.000.

~Tips Guide / sewa alat penerangan Rp. — Seikhlasnya.

~Penginapan perhari Rp. 100.000, "Pondok Nilam", Jl. W. Monginsidi No. 013, Rantepao - Toraja Utara, Phone (0423 23583).

Komentar

  1. Hidup bangsawan memang mahal ya. Bahkan setelah mereka meninggal dunia :)

    BalasHapus
  2. Iya mbak, Upacara kedukaan lebih mahal dari pada pesta pernikahan. :)

    BalasHapus
  3. Sekarang baca ini dulu, semoga nanti bisa kesana. Sip, meski rada horror keliatannya ;)

    BalasHapus
  4. Wah perlu di coba tempat ini kayaknya,,,,, bisa buat uji nyali kalau datang kesini sendiri,,,, Btw, itu foto penutupannya kok agak gimana gitu mas? :-)

    BalasHapus
  5. Wajib, kalau datang ke sulawesi selatan harus ke Toraja!

    Haha, cuma selingan aja. Biar ndak serem :p

    BalasHapus
  6. mengerikan ya ,,, di toraja ini rumahnya jadi tempat penyimpanan mayat

    BalasHapus
  7. Iyah, untuk sementara kok. Tapi tetep ngeri juga sih kalau di bayangkan hahah

    BalasHapus
  8. Iye bang, katanya sih kalau bulan2 desember banyak di adakan upacara rambu solo.

    BalasHapus
  9. Namanya keren ya Kete Kesu. Itu batu beneran terlihat seperti buaya ya.

    BalasHapus
  10. Wah tripnya udah kemana-mana nih, seru ya kyaknya tapi agak horor juga lihat tengkoraknya itu hihhhhhi

    BalasHapus
  11. Lumayan hororr sih, lebih seru lagi kalau kesininya malam hari kali ya. :D

    Terimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  12. waktu ke makassar belum sempat mampir ke sini, karena gak cukup waktu, nyesel juga padahal udah ke makassar

    BalasHapus
  13. Wah sayang banget ya, padahal kurang 8 jam lagi perjalanan daray. Atau bisa terbang biar lebih cepet lagi. Kapan2 harus mampir mbak :)

    BalasHapus
  14. Yuhuu welcome to kamapung halaman.
    Gmn? Org toraja ramah2 kan??
    Sejuk? Kayak malang yaa
    Btw sana emang gak perlu takut motor digondol orang, parkir sembarang aza..
    Hahahaa
    Ahh baca ini jadi pengen segera pulangg

    BalasHapus
  15. Yes ramah dan sejuk mer, aman pula ya disana hahaha.

    Buruan sana pulang kampung, nanti ajak2 aku ya kalau pulang :D

    BalasHapus
  16. salah satu tempat yang pengen saya kunjungi..
    entah kapan bisa sampai disini..
    hmm untung ada guide..masuk sendiri saya masih mikir2 juga hihihihi

    BalasHapus
  17. Wah sudah sampai sana berarti ya? Toraja emang keren. Saya juga pengen kesana lagi kapan2.

    BalasHapus
  18. Saya baru saja selesai membaca novel ttg Tana Toraja dan itu membuat saya tergoda utk pergi kesana. Tulisan di blog ini semakin membuat saya tambah ingin mengunjungi Tana Toraja.

    BalasHapus
  19. Semoga secepatnya bisa kesana ya.. Toraja istimewa :)

    BalasHapus

Posting Komentar