Kenangan Dan Asa Dari Gunung Kelud



Gunung dimanapun selalu terlihat memesona. Hijau. Gumpalan awan. Berapi. Berpasir garang. Bunga-bunga abadi yang memamerkan kecantikan. Dengan lembah luas dan padang savana, siapa yang tak di buat jatuh cinta? Gunung juga kapan saja bisa menjadi pembunuh masal, menelan, meluluh lantakan tak kenal kompromi. Gunung: cantik, sekaligus mematikan.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Gunung Kelud untuk sekedar piknik. Jujur, saya penasaran bagaimana wajahnya sekarang setelah dua tahun lalu Dia marah besar, jelas berubah wajah.




[caption id="attachment_295" align="aligncenter" width="640"]Kenangan Dan Asa Dari Gunung Kelud Wajah Baru 2016[/caption]





Ingatkah tanggal 13 Februari 2014, hari pertama saat Kelud erupsi di tahun itu? Seumur hidup baru sekali ini saya melihat bencana gunung meletus begitu dahsyatnya. Malam harinya, di Kota Surabaya semua orang mengeluh karena debu. Tak disangka, ternyata abu vulkanik Kelud yang saking banyaknya terlontar ke angkasa tertiup sampai ibukota. Foto debu dan abu menjadi trending di semua beranda medsos. Debu juga menjadi media bagi semua orang untuk mencurahkan rasa keprihatinan yang mendalam bagi korban yang terdampak. Menulis dengan mencolok telunjuk tangan pada tumpukan debu di kaca-kaca mobil atau di lantai rumah misalnya, semua bertuliskan "Pray For Kelud".

Pagi ini saya mengingat kondisi Desa Laharpang saat erupsi Kelud pada hari ke enam, kebetulan waktu itu saya berkesempatan mengantar donasi bantuan dari aliansi pemuda di kota saya untuk di berikan ke warga korban bencana Kelud. Hampir dua tahun lalu, kota tempat bersemayamnya si Kelud ini banjir debu. Di radius tiga kilometer, kerikil dan batu muntahan yang besarnya hingga sekepal genggaman tangan itu menjebolkan seluruh atap-atap rumah. Genteng remuk, kaca-kaca  pecah, halaman rumah jadi kolam batu kerikil.

Ahh...begitu menyeramkan suasana sore itu. Kepulan asap yang keluar dari perut Kelud seolah menyundul-nyundul langit. Warnanya hitam pekat. Langit mendadak kelabu. Hujan mengguyur. Pemukiman seketika jadi desa mati. Hanya ada seliweran relawan dijalanan membantu bapak-bapak memunguti barang yang sekiranya berharga. Buru-buru kemudian pak polisi segera mengisolasi desa sambil setengah berteriak dengan pengeras suara megaphone.

"Banjir lahar...Banjir lahar datang". Teriaknya. Suara lahar saya dengar, dari hulu sudah bergemuruh semakin mendekat.

Di titik-titik kota yang di anggap lebih aman didirikan tenda-tenda  pengungsi. Di Masjid An Nuur Kota Pare misalnya, ratusan pengungsi akan tinggal sementara disana. Serba hiruk pikuk. Para relawan kemanusiaan sibuk dengan apa yang harus di kerjakan. Sebagian pak tentara sibuk mendirikan toilet portebel di halaman kosong belakang masjid. Pak polisi sibuk mengatur lalu lintas yang semerawut. Pengguna jalanan rata menutup hidungnya dengan masker. Para warga yang terdampak bencana? saya tidak tega melihat, hanya ada tatapan kosong yang tak bisa di sembunyikan di raut wajah. Kadang panik, ada juga yang pasrah tergeletak lemas di teras masjid. Tua, muda jadi satu.

Gunung Kelud, walau tak setenar dan setinggi tetangganya seperti Semeru, namun Dia tak pernah segan untuk melumat apapun di sekelilingnya. Dari sejarah letusan gunung-gunung di Jawa Timur, Dia lah raja dari segala letusan berapi. Letusan 2014 telah di deteksi oleh badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan di tanggapi dengan peningkatan status menjadi Waspada (Level II). Pada tanggal 10 Februari status meningkat menjadi Siaga (Level III). Semua media menyuarakan Letusan Kelud kali ini memang paling dahsyat dibanding letusan pada tahun 1990. Kelud, selalu dahsyat mencipta kemelut.

Dua tahun yang lalu adalah masa-masa kelam dan memprihatinkan bagi warga yang tinggal di lereng Gunung ini. Dampak yang luar biasa sangat dirasa, bukan hanya di Kota Kediri, Blitar, Malang dan tetangga-tetangganya. Jauh ke barat hingga ratusan kilo meter seperti Provinsi Yogyakarta, Solo, Jawa Tengah dan Jawa Barat juga kena imbas. Penerbangan batal, kesana batal, kesini batal: landasan pesawat banjir debu. Bahkan, debu mungkin mampir juga ke Bali jika angin bertiup ke timur. Kelud, tak akan pernah bisa di lupa ganasnya.

[caption id="attachment_299" align="aligncenter" width="640"]Disini dulunya adalah lokasi parkir kendaraan Disini dulunya adalah lokasi parkir kendaraan[/caption]

Kawan saya yang se kota dengan Kelud pernah bercerita. "Kalau hewan-hewan seperti Babi, celeng, Kera, dll, dari hutan Gunung Kelud turun ke pemukiman, itu  adalah pertanda Kelud akan erupsi, dan kekuatan letusanya bakal tidak main-main". Hal semacam ini sudah di percaya oleh masyarakat yang bertinggal di kawasan Kelud sejak lama. Sirine yang diciptakan sendiri oleh semesta. Ada peringatan, akan segera ada bencana yang ditimbulkan si Mahagunung Kelud.

Yang kelam sudah tekubur dalam. Kelud dan kecantikanya kini memberi cahaya asa pada setiap nafas kehidupan. Kelud, kembali bangkit menjadi primadona pariwasata Kediri. Warung-warung makan menu pecel hemat seharga lima ribuan sudah satu-persatu berbaris di depan parkiran mobil yang baru. Juru potret dan penjual kaset DVD video perubahan Gunung Kelud dari masa ke masa terus bersemangat menawarkan dagangan dan jasanya. Kunjungan wisatawan pun perlahan mulai membanjir, seolah menemukan ke eksotisan wajah baru Gunung Kelud. Pembangunan mulai berjalan. Alat-alat berat di turunkan ke lereng-lereng yang  rencananya akan di bangun jalan menuju kawah.




[caption id="attachment_300" align="aligncenter" width="640"]Kelud, 2010 Kelud, 2010[/caption]

Pagi ini begitu cerah. Lima tahun lalu saya berdiri disini. Melihat matahari pagi bergumul dengan kabut. Menikmati dingin yang selalu memikat hati si pecinta gunung. Yang paling seru juga ada, menerobos terowongan raksasa gelap yang sekarang terkubur entah dimana. Berendam di sumber air panas yang banyak sekali ularnya itu, yang kini kolamnya pun lenyap tertimbun pasir coklat. Dan yang tidak terlewatkan adalah berjalan menyusuri ratusan anak tangga demi menjejak kaki di puncak sana. Walaupun kini beda rupa, Dia yang paling terdahsyat di tanah Jawa Timur: Kelud.

Kediri, 10 Januari 2016

Komentar

  1. Tanda2 nya jelas yaaa, hampir sama di semua gunung
    kalo binatang pada turun ke perkampunganberarti mau ada bencana

    BalasHapus
  2. iya..ternyata hewan itu perasa banget ya bang hahah. udah ke Kelud bang cum?

    BalasHapus
  3. Keren mas inggit.. Segala sesuatu ciptaan YME mmg ada sisi positif maupun negatifnya.. #Mount kelud reborn

    BalasHapus
  4. terakhir ke gunung kelud tahun 2010..
    kondisinya sekarang udah beda banget ya katanya..gara2 letusan hebat tahun 2014 lalu..
    blum sempet kesana lagi :(

    BalasHapus
  5. Wah. aku 2010 malah baru pertama ke sini om. sangat beda...aku aja panggling, yang jelas makin eksotis.

    BalasHapus
  6. ah jadi tergoda untuk kesana kaaak

    BalasHapus
  7. hiiih serem banget :(
    bagian ini bikin merinding...
    Kawan saya yang se kota dengan Kelud pernah bercerita. “Kalau hewan-hewan seperti Babi, celeng, Kera, dll, dari hutan Gunung Kelud turun ke pemukiman, itu adalah pertanda Kelud akan erupsi, dan kekuatan letusanya bakal tidak main-main”

    BalasHapus
  8. ayo kak, kesana lagi...makin keren lho

    BalasHapus
  9. iya kak inggit, semua gunung pasti punya cerita sendiri yang menarik.

    BalasHapus
  10. Eh mas, terowongannya hilang tow? padahal itukan penting penghubung tempat parkir ama ke kawah dan naik ke puncak. Aku kesini sekitar tahun 2011 an mas. Waktu itu masih ada. Memang dahsyat ya letusannya, abunya aja sampai kemana - mana

    BalasHapus
  11. Halo mas anis.

    iya. tapi katanya sekarang udah ketemu sih..terpendam, ini sekarang lagi ada proyek pembangunan di kelud. wah..ayo kesana lagi. makin keren lo

    BalasHapus
  12. saya nyaksiin Kelud sejak 2007, mulai dari masih ada kawah hijaunya untuk larung sesaji, kemudian meletus jadi anak gunung kelud, sampai dia masih jadi anak anak gunung kelud, untuk yg terakhir ini belum lihat lagi, pengen segera nengok gunung kelud

    BalasHapus
  13. Wah saya belum sempat lihat dananunya...pertama kesana awal 2009 kalau nggak salah. Udah ada anak keludnya. tapi kecil, belum memunihi kawah. Ayo kesina lagi mbak evi :)

    BalasHapus
  14. Aku belum pernah ke Gunung Kelud, tapi lihat dari sini benar-benar indah.

    BalasHapus
  15. Wah, ayo bang kesana. Kelud memang indah, apalagi sekarang. Makin eksotis

    BalasHapus
  16. Halo mbak sie. Iya, kelud sudah berdamai kok. Sekarang sudah ramai pengunjung. Monggo, segera di kunjungi

    BalasHapus
  17. jadi penasaran nih pengen maen ke sana, asyik kayanya nih liburan semester

    BalasHapus
  18. Syukurlah mas kalau ketemu,,, makin keren to mas Inggit? tapi ntarlah kalau kesana lagi misal ke Malang bisa mampir ke G. Keludnya. Lumayan juga sieh jauhnya, kemarin lewat Pare soalnya, hehehe

    BalasHapus
  19. Ayo mbak intan kesini, biar gak penasaran. Lagi cantik2nya ini gunung kelud.

    BalasHapus
  20. Iya mas. makin keren. Coba lewat kandangan terus pujon mas anis. Oia, mampir2 kalau ke sby. Tak traktir kopi hahah

    BalasHapus
  21. Jadi bener-bener keinget dulu dampak gunung kelud yang sampai ke Jogja ._. untung waktu itu pas libur semesteran kampus. Soalnya emang bener-bener abunya itu parah banget, mana hujan nggak turun-turun juga :'

    Kenangan yang bakal terus diingat itu :'

    BalasHapus
  22. Iya kak..kalau di inget2 menyeramkan. aku hari kw 6 pare jalan2 ketutup semua sama abu vulkanik. Jalan naik motoran nafas sampai terasa sesak.

    BalasHapus
  23. pengen ke kelud tp gk sanggup naik gunung dah

    BalasHapus
  24. Tenang mbak winny. Naiknya nggak jauh kok, nggak seperti gunung2 lainya. 1 jam dari parkiran kendaraan sudah cukup :D

    BalasHapus
  25. Wajah baru kelud 2016.. sedih bacanya.
    tapi masih bagus kan keludnya

    BalasHapus
  26. Akan selalu bagus kak. Selalu menawan.

    BalasHapus
  27. Pendakiannnya hanya sampe pagar pembatas ya mas? Gk bisa lihat kawahnya dari dekat

    BalasHapus
  28. Kemarin kayaknnya uda boleh mas. Tapi aku nggak sampek ke kawah sih. haha. cuma sampek parkiran yang lama.

    BalasHapus
  29. wah.. saya belum pernah naik gunung nih, serinya kalo wisata nyari curug-curug gitu

    BalasHapus
  30. Wokelah Mas Inggit, siap,,, Hahaha

    BalasHapus
  31. Hai mas Inggit, salam kenal...
    Baru pertama mampir neh, baca tentang gunung kelud ini jadi tahu kondisi setelah erupsi...

    BalasHapus
  32. Hai mbak Monic. Salam kenal juga ya...
    Iya. Beginilah wajah baru gunung kelud, semakin cantik dan eksotis. Terima kasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  33. Halo mas furqon. Sebenernya nggak terlalu jauh juga sih jalan kakinya. cuma 1 jam aja cukup.

    Curug jg mantap mas. Seger adem. hehe

    BalasHapus
  34. waaah jadi inget waktu gunung kelud meletus aku lagi pendidikan di Pandaan :(

    Salam kenal btw maaaas :D

    BalasHapus
  35. aku pernah tuh merasakan abu dari gunung kelud waktu perjalanan ke Malang kelas 5 SD dulu :)

    terima kasih sudah mampir ke blog ya

    BalasHapus
  36. Halo Mbak Lidia

    Wah, itu letusan tahun 1990? saya baru lahir mbak :)

    sama-sama mbak lidya, salam kenal

    BalasHapus
  37. Di Pandaan tentu juga kena efeknya ya mbak Anggi. Sala kenal Juga mbak, terimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  38. Hal yg sama yg saya rasakan waktu di jogja saat erupsi merapi

    BalasHapus
  39. Merapi juga sangat mengerikan ya mas kalau erupsi. Ngomong2 soal merapi jadi kangen saat pendakian kesana :)

    BalasHapus
  40. oh, ini nampak dari dekat gunung yang beberapa tahun lalu abunya menyelimuti daerah saya.

    :)

    BalasHapus
  41. aku belum pernah kesana, semoga nanti pas kesana udah bagus lagi yaa

    BalasHapus
  42. Sekarang pun bagus kok, malah makin keren kalau menurut saya.

    BalasHapus
  43. Wah, dimana kah daerah mas Jarwadi? Efeknya memang luar biasa :)

    BalasHapus
  44. Kelud sekarang sering batuk batuk. mudah mudahan sarana dan prasarana makin memudahkan banyak orang untuk bisa menikmati keindahannya

    BalasHapus
  45. Semoga nggak batuk2 lagi ya mas :)
    Iya amin, Kelud wisata paling menarik untuk di kunjungi kalau kita ke Kediri.

    BalasHapus
  46. Nunggu ajakan teman, mas. Aku belum berani kalo kemping sendirian hahahah

    BalasHapus
  47. Ahah, Siap mas Nasir. :)

    BalasHapus
  48. jadi pingin kesana setelah meletus, banyak yg berubah.

    BalasHapus
  49. Monggo tindak Kediri Bu Zulfa :)

    BalasHapus
  50. Saya jadi penasaran dengan situs-situs candi yang mungkin ada di lereng Gunung Kelud #eh...
    Gunung berapi memang semestinya jadi sahabat manusia ya Mas... dan sebagaimana sahabat, kadang pasti ada masalah berupa gunung meletus. Mudah-mudahan di masa depan kita bisa makin bersahabat dengan gunung sehingga ketika sang gunung sedang batuk-batuk, kita bisa memberinya waktu dan tempat untuk memuntahkan semua yang perlu :hehe. Bukankah tanah akan jadi lebih subur setelah gunung meletus?

    BalasHapus
  51. saya sering melihat lukisan disebuah galeri atau sekedar diweb, yap lukisan manusia itu indah, tetapi tidak seindah lukisan sang maha pencipta.

    saya sering ke surabaya tapi gak pernah berkunjung nih ke gunung2nya, mudah-mudahan ada takdir bisa sempat ke gunung kelud. thx sharingnya..

    Salam kenal,
    denon

    BalasHapus
  52. Halo mas denon.

    Betul sekali. Karya Tuhan Sang Pencipta memang tak akan ada tandinganya...
    Kalau ke Surabaya mampir2 mas. Deket kok.

    Salam kenal :)

    BalasHapus
  53. Betul, seharusnya memang seperti itu...kita sebagai manusia harus selalu bersahabat dengan alam.

    Sangat subur mas, sekrang lagi hijau2nya nih. Kangen pengen kesana lagi :)

    BalasHapus
  54. Kak, yg bawah kayaknya perlu dikasih juga doc:inggit

    BalasHapus
  55. Gunung kelud termasuk gunung terkecil di indonesia, namun terdasyat no 2 setelah merapi .. ... dan mungkin sampai sekarang...

    BalasHapus
  56. Gunung kelud termasuk gunung terkecil di indonesia, namun terdahsyat no 2 setelah merapi .. ... dan mungkin sampai sekarang... di indonesia :)

    BalasHapus
  57. Betul...Sadis dia kalau marah Mas Dery. Cedak omahmu lo.

    BalasHapus
  58. keren sih gunungnya, tapi pas kesana ruame banget.

    BalasHapus
  59. Coba pas weekday mas kesana. Mungkin nggak seberapa ramai.

    BalasHapus
  60. Hewab ternyata lebih peka ya, memang dulu juga pernah diceritain sama temenku juga kaya gt, kalo hewan2 pada turun gunung berarti tandanya gunung akan erupsi.

    BalasHapus
  61. Setiap makhluk hidup punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Iya mas, memang kebanyakan tanda-tandanya seperti itu :)

    BalasHapus
  62. takut mas kalo ada gunung meletus, ngerii

    BalasHapus

Posting Komentar