Sepercik Cerita Dari Pawitra

Dia berada di sebelah kiri jalur waktu itu. Jalur turun. Duduk kelelahan di atas sepetak tanah yang cukup lebar, di bawah pohon besar yang tak lebat daunya. Tanganya masih memegang botol air mineral. Duduk berdua dengan seorang lelaki, dan saya menduga yang disampingnya itu kekasihnya. Bukan tidak mungkin, kan?

10958713_1572206992995884_1468103484_n

Butiran keringatnya membintik di gurat wajah. Saya ingat, Dia memakai jilbab warna coklat muda dan jaketan tebal warna krem. Sepatunya biru. Kalau tidak salah Dia memakai celana warna hitam, bagian belakangnya kotor kena bekas tanah yang didudukinya sepanjang jalur pendakian.

Langkah kaki saya hentikan, dan kupandang lekat-lekat lagi wajah itu. Kali ini dari jarak dua meter (sebelumnya agak jauh dibawah).

Dia menoleh, menatap saya juga.

Cuma butuh waktu tiga detik untuk saling mengeja. Maksudnya, saya dan Dia sama-sama mengingat. Dimana wajahnya yang tak asing bagiku, wajahku tak asing baginya. Ya, cukup dengan tiga detik. Kemudian kami saling menyebut nama. Kusapa namanya, disapa juga namaku.

Dia ini, yang di depanku adalah kawan sejak lama di list kontak blackberry. Dua tahunan kami saling chating, saling sapa. Sekalipun tak pernah bertemu langsung, tak pernah bertatap, dan tak pernah saling mengenal suara. Yang kuketahui tentang dirinya, wajahnya, keluh kesahnya, cuma dari display picture BBM dan dari personal massage.

Kami berjabat. Seolah bertahun-tahun tak bertemu kawan lama. Saya menjabat lelaki di sampingnya juga, terkesan cuek, tapi biarlah. Kami saling memberi senyum. Aduh, senyumnya...yang ku maksud bukan lelaki itu ya, tapi senyum seorang perempuan yang baru ku jabat tadi, yang hanya bisa ku kagumi lewat foto-foto keseharianya.

Ada satu lagi yang membuatku selalu terbayang: Alis matanya yang tebal.

Benar. Saya cukup kagum melihat Dia, walaupun cuma dari foto. Apalagi melihat fotonya yang memakai topi merah lebar, berkacamata hitam, duduk di bibir pantai mengenakan baju coklat tua. Entah perasaan kagum yang bagaimana ini. Wajahnya itu menyenangkan. Riang ikhlas seperti kaum sanguinis populer yang selalu terlihat memesona. Daya tarik yang penuh pertanyaan dari mana datangnya. Dan sekarang Dia ada di hadapanku, baru saja ku sentuh jemari lembut itu disini. Di rimba Pawitra. Sungguh, kebetulan yang menyenangkan!

Teringat lagu dari Band Indonesia yang cukup terkenal. Judulnya: "Pandangan Pertama".

Selanjutnya, tidak ada obrolan yang bararti di tengah rimba ini. Agak canggung memang, selain masih baru pertama kali bertemu, juga karena ada lelaki lain di sampingnya. Oh, barangkali bukan lelaki "lain". Saya coba mengoreksi asumsi yang tiba-tiba bergelanyut di pikiran. Kemudian kami berpisah, tapi saling susul, saling menyalip. Di iringi senyum ketika Dia duduk istirahat, dan saya lewat. Juga sebaliknya, senyuman itu di tebar lagi ketika saya duduk istirahat, dan Dia lewat. Seterusnya. Sampai senyum itu benar-benar hilang di ujung kaki Pawitra.

Saya terkesan. Rasa lelah rontok seketika.

Pawitra: Sebutan lain dari Gunung Penanggungan, selalu memberi kejutan. Gunung pelarian saat penat melanda. Gunung yang juga di sebut-sebut sebagai miniaturnya Semeru. Atau gunung yang berjuluk seribu candi itu. Pawitra, selalu melahirkan banyak cerita.

Terlepas dari pertemuan ini, saya punya cerita lain sekitaran tiga tahun lalu. Di Pawitra. Setahun sebelum pertemuan ini. Dan ceritanya begitu kontras, bisa di bilang menjengkelkan. Tapi ada sisi baiknya: Melatih sabar.

Akan saya ceritakan juga.

Tiga tahun lalu. Jadi pernah saat itu badai di Puncak Bayangan. Pandangan hanya sekitar dua meter. Berkabut. Hujan turun deras. Hari itu tiga tenda saja yang berdiri disana, termasuk tenda saya. Angin berhembus kencang, frame tenda sampai retak dan akhirnya patah. Berdua dengan kawan, lekas-lakas kami perbaiki dengan tali seadanya, yang penting, setidaknya aman untuk bermalam dihari ini.

Dua orang datang. Suara "permisi" yang sedikit kabur terlontar dari luar tenda. Mungkin ini "pendaki", pikirku. Tapi bukankah orang yang naik gunung memang di sebut dengan "pendaki", kan? Pendaki yang mau repot menggendong tas raksasa, dengan peralatanya, pengetahuannya tentang navigasi, survival, membawa resiko besar, dan segala macam tetek mbengeknya. Ya, ini pendaki yang datang!

"Mas, pinjam selimut ada? kita nggak bawa tenda, teman saya sakit, sekarang lagi tiduran disana" Celetuk pendaki dari luar sambil tanganya menunjuk arah puncak. Hujan deras. Berkabut, pandangan hanya berkisar dua meter. Badai angin menggelegar menabraki tenda. Petir di luar juga menyambar-nyambar, mengkilat putih di langit gelap. Saya menyangga tiang frame sebelah kiri, khawatir roboh lagi.

Seperti ini kondisinya, mereka tidak bawa tenda? Belakangan saya tahu, mereka juga tidak membawa logistik. Jangan tanya soal tas ransel raksasa, mereka kesini: naik gunung, hanya bawa karpet seperti yang di pakai saat pengajian, di panggul bergantian diatas kepala. Dan yang buat saya geli ada lagi, mereka "berdelapan" membawa helm! Mungkin barangkali disini: diatas gunung ini ada razia kelengkapan berlalu lintas, ya?

"Suruh masuk sini saja temanmu yang sakit, tapi kalau berdelapan masuk semua tidak cukup" Jawabku. Semoga dia paham kalau tenda ini berkapasitas empat. Kalau tidak paham, berarti ada kemungkinan mereka menginginkan semuanya masuk.

Saya terheran, tak bawa apa-apa para pendaki ini. Mungkin yang dibawa cuma satu: Nyali! Yang lain? tidak penting barangkali.

Yang sakit masuk bersama dua pendaki lain dengan keadaan basah kuyup. Teh hangat saya hidangkan, roti juga. Di dalam tenda ada lima orang termasuk saya dan kawan saya, berarti yang di depan lima orang. Tidur beratap langit hujan, di hempas-hempas angin badai, beralas karpet pengajian yang pastinya sudah basah dan kumal kena tanah.

Tersiksa? Saya bisa bayangkan bagaimana penderitaan delapan "pendaki" ini. Terutama yang di luar. Sebenarnya tadi sudah saya sarankan supaya mereka yang berlima ikut gabung dengan dua tenda di sebelah, lumayan, kan? barangkali tenda sebelah berbaik hati bisa menolong. "Katanya sudah penuh mas di tenda sebelah". Ujar salah satu dari mereka.

Hmm...Sungguh malang nasibmu, rek!

Ternyata mereka punya solusi untuk sedikit mengurangi penderitaan di luar sana. Mereka buat kesepakatan. Mereka bergantian, keluar masuk tenda. Yang di dalam di beri waktu setengah jam, lalu yang di luar ganti masuk tidur sebentar. Terus menerus bergantian seperti itu selama hampir tiga jam. Melompati tubuh saya yang berbaring sadar tanpa permisi. Perlakuan macam apa ini? Saya cuma bisa mengumpat kesal dalam hati.

Sekarang sudah jam satu pagi. Bagaimana keadaan dalam tenda? Tidak karuan! Semuanya basah. Sleeping bag basah. Baju ganti kering basah! Saya menggeram, meledak-ledak ingin berteriak meluapkan emosi. Dan tahu emosi saya bagaimana? Saya menyuruh mereka: Berdelapan masuk semua ke tenda. Semata-mata biar tidak bolak-balik keluar masuk tenda, yang malah bikin tenda banjir kana tetesan air dari delapan pendaki ini.

Duduk merapat kaki terlipat, terjaga menjaga delapan pendaki, dengan total di dalam tenda sepuluh orang. Sudah pasti bakal sesak tak bisa gerak! Dan dengan senang hati, tak keberatan sama sekali mereka mengiyakan kemauan emosi saya ini. Dengan senang hati. Tanpa sungkan, sedikitpun!

"Helmnya letakkan diluar saja mas. Jangan di masukin tenda. Tidak cukup!" Saya berkata sambil hati tersulut-sulut. Kapan mereka kapok? Kapan mereka berhenti meremehkan cuaca gunung?

Saya terkesan. Saya tak henti-henti menyebut Nama Tuhan.

[caption id="attachment_671" align="alignnone" width="640"]11250157_1630898123856168_1090763068_n Foto by Tachul[/caption]

***

Perjumpaan melahirkan kenangan. Kenangan dengan rupa kesan masing-masing. Entah itu kesan indah atau pahit sekalipun. Entah perjumpaan itu berakhir baik, atau biasa-biasa saja. Tapi, setiap orang pasti mempunyai keinginan dan harapan baik, bahkan istimewa setelah perjumpaan terjadi, bukan?

Seperti pertemuan saya dengan Dia disini. Dengan perempuan Istimewa beralis tebal itu. Di Gunung Penanggungan. Yang setelahnya menjanjikan mimpi-mimpi tentang kebahagiaan, romantisme, petualangan bersama, dan apapun lainya tentang kebersamaan. Bersama Dia.

Hampir tiga tahun kurang tiga bulan ini, sesudah pertemuan di belantara Pawitra itu saya sukses menjadi pengecut yang merahasiakan rasa dalam-dalam. Pengecut yang hanya bisa membahagiakan hatinya sendiri dari gambar-gambar, dari pertemuan-pertemuan singkat. Kesempatan seperti datang tapi tidak pernah datang. Keadaan mengkamuflasekan segalanya. Kurasa Dia dan semua orang juga tidak perlu tahu apa yang terjadi. ya, biar Pawitra saja yang menjadi saksi awal. Yang lainya tak perlu tahu tentang alasan-alasan sebenarnya. Betapa kuat alasan itu!

Saya bersyukur, pernah merasakan indahnya proses ini. Proses menjalani kisah ini. Tentang Dia. Pertemuan dua tahun yang lalu itu mengajari merelakan, adanya perasaan yang memang benar-benar suci, mengikhlaskan, tak memiliki seperti memiliki, dan memiliki tapi tak memiliki. Menggantung tak jelas berasama proses yang mengindahkan hidup. Menggantung tak pernah tau isi hati yang porak-poranda.

Tidak pernah memiliki.

12105035_1705333776362610_44962391_n

Petualangan menyiapkan kejutan untuk para pejalan. Dimanapun itu. Mau tak mau, tertarik atau tidak tertarik, tetap wajib kita melaluinya. Merangkumnya menjadi sebuah catatan hidup, untuk di kenang dan untuk di renungkan.

Komentar

  1. Jadi pertemuan dengan 'Dia' ini semacam love at first sight, Mas?
    Ceritanya apik, bagus :)

    etapi itu soal 8 orang naik gunung tanpa persiapan apa-apa bikin ikutan gemes juga ya, hmm.

    BalasHapus
  2. Wah itu pendaki ceroboh banget mas,,, harusnya jangan meremehkan alam, sependek apapun gunung itu seharusnya tidak diremehkan,,,, itu kalau tega - tegaan ya mas, yang sakit aja yang boleh di dalam tenda. terus yang lainnya tidak boleh masuk mas, maksudnya buat pelajaran. Aku bacanya bukan merasa kasihan mas, tapi agak marah juga, kok bisa naik gunung nggak bawa apa - apa, la kok malah bawa helm, buat apa coba,,,? Btw baru tahu aku kalau Pawitra itu adalah Gunung Penanggungan,,, :-)

    BalasHapus
  3. Duh Mas, sampean romantis gini sih kalau cerita :D

    Btw, foto-fotonya bagus-bagus :)

    BalasHapus
  4. Bisa dibilang gitu, aduh jadi malu :D
    Makasih mbak anggi.
    Iya bikin gemes, yang bikin kesel dia malah bawa helm. ahahah

    BalasHapus
  5. Iya...aku maklumi kalau yang sakit. Kasihan mas. Lah yang lain itu yang gemesin.
    Entahlah, aku tanya kenapa kok bawa helm? katanya takut hilang, helmnya bagus-bagus wkwkwk. Emang waktu itu sepi sih pendakian, di parkiran cuma ada 2-4 motor. Tapi kan bisa dititipin warung ya. Ealah-alah embuhlah...

    BalasHapus
  6. Saking senengnya paling mas, jadi maksa-maksain romantis. :D
    Fotone Sampean lebih bagus, aku suka :)

    BalasHapus
  7. miftachul djamil14 Maret 2016 23.54

    Oalah.. curhat toh iki :)
    Pawitra? Pelarian? Setuju.

    BalasHapus
  8. Iya cul, Pelarian...ayolah nek moleh kesini lagi. Sauwe nggak naik Gunung :D
    Tempat curhat wkwkwk

    BalasHapus
  9. Keren mas Inggit, sampai serius gini saya bacanya dari kata pertama hingga terakhir, ga ada yang terlewat, menarik sekali...cerita si "dia" apalagi, he he he...
    foto2 mas Inggit juga keren, bagus banget..

    BalasHapus
  10. Iya mas setuju,,,, lah mikirnya gimana ya mas mereka? mungkin lebih baik dia kenapa - napa di atas daripada helmnya hilang kalau begitu,,,, nggak penting banget,,, siplah mas, mas Inggit ngangkat tema ini, secara nggak langsung ada pesan tersurat di dalam ceritane mas Inggit,,, keren :-)

    BalasHapus
  11. foto-fotonya luar biasa Mas, keren banget*jempol* :)

    BalasHapus
  12. Lengkap yaa kamu mengingat nya, mulai dari jilbab biru, celana hitam dll. Jadi ini yg mau di halalin hahahaha

    BalasHapus
  13. Salam kenal Mas Inggit, saya suka sekali tulisannya. Andaikan saya bisa nulis seromantis ini:)

    BalasHapus
  14. Salam kenal juga Mbak Tesya :)
    Terimakasih, Mungkin lagi bahagia mengingat...jadi kebawa romantis :D
    Terimakasih jug sudah singgah kesini.

    BalasHapus
  15. Maunya sih ini yang aku halalin Mas Cum...tapi, ah sudahlah... :(

    BalasHapus
  16. Silahkan gan :)

    BalasHapus
  17. Terimakasih Mbak Ira, masih belajar ngeFoto yang bagus ini :)

    BalasHapus
  18. Nah iya, malah sebenernya bawa parang/ pedang kok. Kirain buat survive, aku tes tanya..."buat apa itu mas bawa-bawa parang?" Buat jaga-jaga kalau ada penjahat di hutan katanya....wes pokoke bikin perut kaku....wkwkwkwk

    BalasHapus
  19. Terimakasih Mbak Monic, mungkin hanya dari tulisan ini saya bisa menyampaikan perasaan ke "DIA" #alay wkwkwk :D

    BalasHapus
  20. pawitra ini memberikan kesan suka duka mendalam ya ...
    keteledoran 8 orang dan romansa .. uhuyyy

    BalasHapus
  21. keren banget foto siluetnya mas
    pernah ketemu pendaki mcam gitu mas, dan hampir persis yg kemudian numpang tenda

    BalasHapus
  22. Terima kasih mas :)
    Mereka terlalu meremahkan mas. Semoga dengan kejadian itu mereka bisa sadar.

    BalasHapus
  23. Cerita tentang pendakian ini mengingatkan masa 15 tahun atau mungkin 16 tahun ke belakang, ketika masih sering berkumpul dengan anak2 gunung di kampus. Cerita tentang mendaki tanpa persiapan pun pernah saya alami, malah saya sendiri pelakunya. Haha. Gara2 keputusan ikut mendaki datang di detik2 terakhir. Jadilah saya mendaki Ciremai dengan hanya beralaskan sepatu pantofel dan tas kuliah seadanya. Kenangan yg tak terlupakan. Salam kenal, kisah perjalanan yang menarik.

    BalasHapus
  24. Selagi masih salah satu yang berpengalaman saya kira nggak masalah kok bu...lha ini cuman modal nekat. heheh
    Wah, saya pengen sekali itu ke ciremai bu...semoga bisa kesampaian mendaki gunung tersebut.
    Salam kenal :)

    BalasHapus
  25. Saya cuma heran sama delapan pendaki yang mas Inggit ceritakan, membawa yang tidak perlu dan tidak membawa yang perlu *Sigh*
    Ya ini jadinya kalau niatannya cuma sekedar mendapatkan Pride dan Selfie :(

    BalasHapus
  26. Wuaahh..betah baca tulisan disini. Selalu ada cerita dari parwitra jadi penasaran, kayanya kece banget tuh panoramanya. Itu 8 pendaki nekat banget mau bermalam kaga bawa tenda/logistik, keperluan lainnya. haduuuhhh

    BalasHapus
  27. Pertemuan dengan dia begitu mempesona, sampai detail baju dan sepatu nya masih keingat dengan jelas hehehe.. rombongan pendaki urakan itu koq ngerepotin orang lain bangat yach?

    BalasHapus
  28. serunya camping itu pas dapet pemandangan sunrise

    BalasHapus
  29. Mungkin sepulang dari situ mereka akan sadar mas, bahwa sependek apapun jalur gunung itu tidak bisa di remehkan :)

    BalasHapus
  30. Terimakasih mbak she :)
    Maklum mereka baru pertama kali, tapi setidaknya cari tau dulu kondisinya gunung atau melengkapi peralatan pendakianya, kan ya? :)

    BalasHapus
  31. Nggak akan bisa di lupakan memang mbak...karena begitu berkesan :)
    Semoga sepulang dari situ mereka sadar.

    BalasHapus
  32. Sunset juga, dan masih banyak yg lainya :)

    BalasHapus
  33. Gak nyangka ya pertemuan BBM akhirnya di dsratkan di gunung. Walaunpertemuan pertama kali tapi secara emosi sdh dekat ya padti layaknya pertemuan sahabat lama. Dan duh itu pendaki yg tak bermodal mudah2an habis kejadian ini kapok. Pendakian berikut mereka lebih menyiapkan diri

    BalasHapus
  34. jadi kangen sama gunung T_T udah lama nih gak naik gunung soalnya masih hujan mulu

    BalasHapus
  35. Iya Mbak, mending nunggu musim kemarau dulu ya. :)

    BalasHapus
  36. Betul bu Evi, berkesan sekali buat saya pertemuan itu :)

    Mudah-mudahan, semoga kejadian itu menjadi pelajaran buat mereka.

    BalasHapus
  37. awalnya juga bingung kenapa itu para pendaki bawa helm ;p.. pikiran pertama krn mereka takut kena longsoran batu ato apa gitu ;p... tapi ternyata baca komen2 di atas krn helmnya mahal???? wuahahahahaha... lgs ngakak ;p.. mereka pasti pendaki pemula ;D

    BalasHapus
  38. pendaki yang cuma ikut-ikutan tren aja mungkin itu.
    tanpa persiapan apa apa kemudian naik gunung..

    jadi penasaran siapa tokoh si dia yang beralis tebal itu mas..
    hehehehe

    BalasHapus
  39. Cerita nyata??
    Bisa gitu pertemuan teman Chatting BBM secara tdak sengaja.
    Coba kalo cewe'a gak bareng cowo'a bisa jadi kalian .......

    BalasHapus
  40. Iya waktu itu berani berangkat juga karena teman2 bawa perlengkapan cukup. Kalau modal nekat saya juga ga berani. Ciremai cakep. yang saya ingat rasanya berada di atas awan. Awan2 putih ada di bawah saya.

    BalasHapus
  41. Sedap rasanya bu, kalau di atas awan...uda lama juga saya ndak naik gunung :)

    BalasHapus
  42. Iya cerita nyata :)

    Andai saja ya ahahaha

    BalasHapus
  43. Iya mungkin mas...Semoga tidak di ulangi lagi :)

    Semoga bisa melanjutkan nulis "Dia" lagi mas...doakan saja ya.

    BalasHapus
  44. Mereka sangat hati-hati mbak, mengantisipasi kehilangan...tapi ya gitu :D

    BalasHapus
  45. wah kacau mas kacau...

    bawa helm, ga bawa sliping bag

    untung situ baek mas, kalo saya sih mungkin udh ngomong kasar hahaha

    BalasHapus
  46. Cuma modal karpet + helm..?? Jangan-jangan itu permadani terbang ya? :D

    BalasHapus
  47. Saya bukan pendaki gunung, tapi pernah sekali mendaki Gunung Merbabu; waktu rombonganku pakai peralatan lengkap, pakaian yang safety, malah diketawain sama gerombolan anak-anak (remaja) yang hanya pakai tas kecil dengan pakaian kayak mau senam dan nenteng boneka besar :-(

    Entahlah, aku tak pernah tahu apa yang ada dibenak mereka.

    BalasHapus
  48. Aaah, kata-katanya manis banget Mas :D jadi ngalir dan terasa romantis gitu dibaca :D

    tapi agak kesel ya sama delapan orang yang nggak ada persiapan apa-apa dan pake helm -_- mau numpang ngehits doang kali itu ah -_-

    BalasHapus
  49. Aaaih...kayak baca novel ya baca kalimat -kalimat di paragraf awal. Hihi...cowok bisa nulis romantis juga ya mas Inggit. Btw baik juga ya berbagi tenda dengan 10 orang umpel-umplean sesak

    BalasHapus
  50. Kita haram dek ... lupakan aku, kembalilah kejalan yg benar hahaha

    BalasHapus
  51. para pendaki memang punya cerita menggigit hati mas.., pantaslah nikmatnya menjulang tinggi... keren mas inggit terbawa suasana untuk sadar kita harus siap" merelakan siapapun kapan saja..., halah... hehe

    BalasHapus
  52. Benar sekali mas angki...merelakan ya. hehe

    BalasHapus
  53. Hmmm...tapi sudah terlanjur e bang wkwkwk #ambigu

    BalasHapus
  54. Iya bu Nunung, umpel-umpelan...kaki nggak bisa selonjoran sampai pagi :D

    BalasHapus
  55. Makasih mas febri.
    Mungkin gitu mas...semoga mereka cepat sadar :)

    BalasHapus
  56. wkwkwkwk. Wah ini parah lagi nih,...malah di ketawain. Aku juga nggak bisa bayangin, sebenarnya apa yang di bnak mereka ya mas. :D

    BalasHapus
  57. Wah, bisa jadi itu ya...jangan-jangan emang permadani terbang, makanya mereka bawa helm. :D

    BalasHapus
  58. ahahah, sabar ngempet mas...aslinya ya kudu marah. Tapi harus tak tahan :)

    BalasHapus
  59. Mas iki romantissss tenannnn #jempollsepuluh wkwkwk

    BalasHapus
  60. itu langitnya kaya begitu beneran mas? yakampun,.. jadi pengen kesanaaaaa >_<

    PS: kata -katanya romantis banget !



    http://blog.benyricardo.com/

    BalasHapus
  61. Naik gunung seru kayanya ya? blm pernah naik gunung hiks :(

    BalasHapus
  62. Seru mas. Cobain lah ya :)

    BalasHapus
  63. Iya mas Beny.. Beneran itu waktu sunrise. Cobain ke Penanggungan.
    Makasih mas beny :)

    BalasHapus
  64. Sekali-kali lah ya...tapi sayangnya belum bisa mesrah kayak kalian :D

    BalasHapus
  65. pemandangannya sungguh indah, ceritanya sungguh menarik sampai saya terbawa untuk membacanya dari awal hingga akhir. keren sekali

    BalasHapus
  66. Salam kenal, mas Inggit :)

    1. Foto-fotonya bagus
    2. Penuturannya bagus
    3. Delapan orang yang bikin ikutan emosi, arrrrgh!

    BalasHapus
  67. Gambar2 nya juara mas keren

    BalasHapus
  68. Terima kasihh Mas Rico :)

    BalasHapus
  69. Hallo mas gio, salam kenal ya.

    Terima kasih Mas. Masih belajar menulis yang lebih baik lagi. :)

    BalasHapus
  70. Hallo Mas dodon jerry. Sekali-sekali cobalah naik gunung ini ya...keren pemandanganya. Terimakasih :)

    BalasHapus

Posting Komentar