Menggapai Istana Dewi Rengganis

Matahari sore sudah menghilang di balik lebatnya pepohonan beberapa menit yang lalu. Pandangan sedikit mengabur. Di tambah lagi kabut tipis mulai membungkus Rawa Embik. Hening, menjelaskan suara gemericik aliran sungai kecil di samping lembah. Sepi. Sunyi.

Betapa gagahnya gunung ini. Beberapa jam kami menyelinap masuk hutan, beberapa jam lagi padang menyambut. Seterusnya. Puluhan savana bagai permadani raksasa, Burung Merak saling sahut berteriak tanpa menampakan wujud. Kegagahanya adalah bukti mahakarya Tuhan yang Maha Agung.

tes pain

Argopuro. Sudah dua hari dua malam ini saya menapaki gunung yang menyandang gelar jalur terpanjang di tanah Jawa. Masih butuh dua malam lagi untuk sampai ke puncak dan kembali ke basecamp. Setidaknya lima hari, para pendaki harus bergumul dengan belantara Argapura. Butuh tenaga ekstra untuk bisa menjejak kaki di istana Putri Dewi Rengganis itu. Pendakian yang begitu panjang. Begitu melelahkan.

Jalur pendakian ini melintasi dua Kabupaten. Di mulai dari Desa Baderan, Situbondo dan berakhir di Desa Bremi, Probolinggo. Sebenarnya bisa saja pergi-pulang lewat jalur Bremi. Jaraknya pun lebih dekat. Tapi karena sensasilah kami memilih jalur ini. Belum merasakan jalur pendakian gunung terpanjang se Jawa kalau belum lintas Baderan-Bremi.

Arloji sudah menunjuk pada angka pukul enam petang. Saya dan rombongan bergegas melanjutkan perjalanan setelah mengambil persediaan air pada aliran sungai kecil di Rawa Embik. Target selanjutnya adalah Alun-alun Lonceng dan akan bermalam disana. Perkiraan, jam delapan malam kami sudah tiba.

Rawa Embik adalah pos terakhir kedua sebelum Alun-alun Lonceng. Savana datar dan luas, beberapa sudutnya di tumbuhi bunga-bunga abadi. Walaupun sungainya kecil, tapi airnya segar, tak kalah dengan sungai di Cisentor dan Cikasur. Dan entah kenapa disini saya merasakan dingin yang luar biasa. Semakin menggigit saja, menggerogoti persendian rasanya. Dingin dan sapuan angin yang tiba-tiba menyergap secara mendadak.

Memang benar yang dikata orang, Argopuro istimewa.

Derap langkah beriringan. Lima anak manusia terus merayapi tanah menanjak untuk sampai tujuan. Lampu penerang terus menyoroti setapak yang penuh liku. Jaket polar terbalut lekat di tubuh, tapi tetap saja keringat tak mengucur. Saya mendengus pelan, apakah ini masih jauh? Sementara kaki sudah tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Sudah menyeret-nyeret. Sempoyongan.

Kami terus melangkah. Dua puluh menit berjalan, tiga menit berhenti. Seterusnya. Karena jika lama-lama berhenti, dingin malah akan lebih menyiksa.

Saya paling belakang. Di depan ada Encing, disusul Gimb, Tachul, kemudian Kanzul. Dari kelima orang ini, termasuk saya, mungkin Encinglah yang paling kuat fisiknya. Langkahnya jarang sekali terlihat loyo. Dan dia juga yang paling bersemangat kalau mengambil air ke sungai atau memasak bekal logistik. Saya? Yang paling lemah diantara mereka.

Soal logistik, disini bisa memanfaatkan Selada Air yang melimpah ruah di Sungai Cikasur. Masing-masing dari kami membawa sebungkus untuk di masak di tiap-tiap pos ketika dirasa perut harus diisi. Cukup ditumis dengan bumbu kecap, garam, dan cabai saja rasanya nikmat tak terhingga.

Lezat, untuk makan-makan di gunung, kan?

Malam sudah sempurna. Hampir mendekati pukul delapan malam. Tanda-tanda akan sampai di Alun-alun Lonceng sepertinya, terlihat dari jalur yang kami lewati sudah datar dan landai. Tapi, siapa yang tahu kalau sudah dekat? Saya hanya menebak, kami berlima juga baru pertama kali mendaki Argopuro. Beruntung, langit cerah. Bulan dan bintang bersinergi, serasa memapah langkah ditengah jerit nafas yang semakin tersengal.

Di jalur savana seperti ini, kalau mata tidak jeli, bisa-bisa nyasar kemana-mana. Jalur setapak selebar sepatu dipadang savana yang tinggi rumputnya tak sampai selutut itu kadang-kadang tertutup. Perlu mengibas, menendang dan menyibaknya. Dan sesekali mata harus memelototi sekitar, mencari-cari tanda jejak yang dipasang oleh pendaki sebelumnya.

Hmm...Salah selangkah, Tersesat!

Sepanjang perjalanan dari awal, mungkin hanya sepuluhan rombongan yang kami temui. Itupun pada jeda yang sangat lama. Pagi misalnya, bertemu tujuh pendaki dari Yogjakarta. Dan hampir sore harinya baru bertemu lagi dengan beberapa rombongan dari Jakarta dan Malang. Selebihnya, kehidupan alam dari gunung Argopuro yang menjumpai.

Dari Rawa Embik, dua jam sudah kami berjalan disamping bayangan pohon-pohon pinus tinggi perkasa.

"Wes teko, rek" (baca : sudah sampai) Teriak Encing yang posisinya dua puluhan meter di depan saya. Tampak cahaya api unggun berkobar di depan tenda. Ada yang bermalam disini ternyata, batin saya. Dua tenda. Seketika penampakan api itu melenyapkan rasa lelah, rasa dingin yang menggigit. Sambil setengah berlari, kami segera mengahampiri kehangatan dan kehidupan itu : Api dan pendaki dari Tegal, Jawa Tengah.

"Akhirnya sampai juga" Kanzul bergumam lirih. Suhu di Alun-alun Lonceng  ternyata tidak sedingin di Rawa Embik. Bukan karena api unggun itu, tapi mungkin karena lokasinya berada di lembah dibawah bukit yang dikurung pohon-pohon tinggi, sehingga cukup bisa menghalau laju angin. "Lumayan, tidak seberapa dingin, bisa tidur nyenyak" Ucap saya ke Kanzul.

Tenda selesai kami dirikan. Peralatan tidur sudah masuk didalamnya. Cukup teh hangat dan sereal saja sebagai pengganjal perut malam ini. "Besok sebelum ke puncak, kita masak besar" Ucap Encing. Maksudnya masak besar ialah : Besok kami akan menumis selada air, menggoreng krupuk, ikan asin, membuat telur dadar, memanasi sarden, dan tidak ketinggalan juga menanak nasi. Cara umum untuk mengembalikan stamina yang hampir terkuras habis.

Perjalanan kurang dua malam lagi.

IMG_20140812_103049

***

Pagi datang.

Pletok...pletik...Suara percikan sisa api unggun yang menyapa pertama di pagi itu. Belum ada yang bangun rupanya. Kalaupun ada, mereka mungkin masih meringkuk menggigil dibalik bungkusan sleeping bag. Saya melangkah malas keluar tenda. Masih lengkap mengenakan atribut tidur seperti kupluk, buff, sarung tangan polar, dan kaos kaki.

Tak saya sangka, begitu indah pemandangan pagi di Alun-alun Lonceng. Savana kecil, dengan rerumputan menyembul. Ada bunga-bunga mengatup kecil berwarna putih. Tinggi pohonya rata-rata sepinggang sampai sedada. Saya ikut-ikutan manamainya sebagai bunga Edelweis. Ini taman bunga abadi!

Gunung Argopuro menurut saya sangat istimewa. Bagaimana tidak, kau akan di suguhi bermacam-macam jenis hutan. Bermacam-macam bentuk jalur. Mulai yang berbatu, bertanah basah, sampai yang berdebu. Hewan-hewan seperti Burung Merak, kucing Hutan, bila beruntung bisa kau jumpai mereka. Ada lagi : Ojek. Ya, jangan heran setelah capek-capek berjalan kaki kurang lebih dua hari satu malam, kau akan bertemu ojek melenggang di jalur setapak. Biasanya membonceng pendaki yang kelelahan, atau pendaki yang tak mau repot-repot jalan kaki sampai Cikasur. Kalau tidak salah, tarifnya antara 300-400 ribu.

Jasa ojek bisa kita manfaatkan dari pos awal pendakian, melewati Pos mata air 1, Pos mata air 2, dan berakhir di Cikasur. Itu adalah rute harian para petani Selada air. Mereka mengangkut selada air dari Sungai Cikasur kemudian dibawa ke Desa. Tentu ban motornya harus di modifikasi dulu, dengan melilitkan rantai besi ke Ban dan velg supaya bisa mencengkram tanah di medan gunung. Motor bebek akhirnya disulap jadi tunggangan yang tangguh! Jadi, lebih baik mereka menyambi sebegai ojek gunung, kan?

Pendakian yang menarik (bagi saya).

"Ayo rek, ndang masak, ndang muncak" (baca : ayo kita masak, terus ke puncak) Teriak Encing dari dalam tenda. Rupanya dia sudah bangun. Seperti yang saya katakan, dialah yang paling bersemangat, paling sering lapar, paling banyak makan juga. Biasanya, kalau ada sisa nasi gosong yang berkerak menempel di nesting, dia paling doyan membersihkan, kemudian dimakan.

Sesuai kesepakatan tadi malam. Pagi ini kami akan masak besar. Bungkusan logistik mulai digelar satu persatu di atas matras. Siap diracik menjadi asupan energi pagi ini. Ah, perut sudah keroncongan.

Saya ingat-ingat, ternyata selama saya mendaki gunung, di Gunung Argopuro inilah saya makan dengan menu paling enak. Sebelumnya, paling banter tempe goreng dan abon, atau kolaborasi mie instan dengan sawi. Hari ini? Spesial!

***

Jam delapan pagi. Artinya pendakian menggapai Rengganis akan segera di lanjutkan. Peralatan masak dan lainya yang tidak perlu dibawa kami tinggal di tenda. Lumayan, berat dipunggung sekarang terasa ringan karena ransel besar sudah berganti dengan tas merah kecil. Isinya 2 botol air minum.

"Alun-alun Lonceng ke Puncak Rengganis hanya butuh waktu setengah jam, Bahkan bisa lebih cepat lagi" Gimb menginfomasi. Mendengarnya, semangat saya semakin terbakar. Walaupun kondisi fisik sudah mulai lemah.

Gunung Argopuro mempunyai tiga puncak utama. Yaitu, Puncak Argopuro (3.088 Mdpl), Puncak Arca, dan Puncak Rengganis. Untuk menuju ketiga puncak tersebut dari Alun-alun Lonceng akan membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Naik-turun.

Sebelum mengayunkan langkah pertama menuju puncak, kami melakukan ritual wajib : Berdo'a. Dan perjalanan pun dimulai. Langkah demi langkah perlahan mendekati puncak Sang Dewi. Tidak terlalu was-was seperti tadi malam. Jalur terlihat cukup jelas dan banyak plang panah bertuliskan "puncak". Tanahnya pun empuk, tidak berdebu. Tanjakan? tidak seberapa menyiksa juga.

Pepohonan dikanan kiri semakin naik semakin kecil ukuranya. Ini tanaman khas area puncak gunung, saya lupa namanya. Daunya kecil-kecil berbunga merah. Dan ini artinya tidak lama lagi kami akan tiba. Langit sudah terlihat jelas, begitu juga dengan awan yang menggumpal-nggumpal bak lautan kapas dibawah sana. Di sebelah kiri terdapat tumpukan-tumpukan batu bata lawas menyerupai kolam belerang yang sudah rusak, tapi masih tertata. Inikah Kerajaan Dewi Rengganis?

Kisah Dewi Rengganis sangat melekat di kehidupan masyarakat setempat, terutama di daerah Situbondo dan Probolinggo. Keangkeranya pun begitu tenar di kalangan pendaki, serasa punya magnet kuat untuk minta di datangi. Entah, saya juga kurang tahu angker seperti apa yang dimaksud.

Sebuah alkisah :

"Dewi Rengganis adalah seorang putri jelita yang bersemayam di Gunung Argapura. Ia dulunya adalah putri dari Prabu Brawijaya. Dewi rengganis lahir dari salah satu selir. Namun, keberadaanya tidak di akui. Kemudian Dewi Rengganis pergi mengembara melarikan diri menuju hutan di Gunung Argapura bersama dayang-dayangnya.

Suatu hari Dewi Rengganis di temukan oleh pertapa di Puncak Argapura. Pertapa tersebut merawatnya dan mengajari berbagai macam ilmu kesaktian. Kemudian ia membangun kerajaan di atas puncak. Sejak saat itulah Sang Dewi menjadi penguasa belantara Hyang Argapura.

Sebagai putri gunung, Rengganis tumbuh mekar bagaikan bunga. Konon dara jelita ini dibesarkan dari sari berjuta bunga di pegunungan Hyang. Cantik, begitu menawan. Sampai-sampai kecantikanya membuat salah satu putra mahkota raja dari negeri Mekah yang bernama Repatmaja itu jatuh cinta."


Kerajaan inilah yang saat ini di juluki Puncak Rengganis. Kerajaan diatas ketinggian 3.000 meter diatas permukaan laut. Bahkan disebut-sebut juga sebagai keraton tertinggi di Pulau Jawa.

Banyak versi yang menceritakan legenda Dewi Rengganis. Kisah di atas juga tidak bisa di yakini kebenaranya karena sampai saat ini pun belum ada yang membuktikan secara ilmiah. Legenda tetap legenda, semua punya maknanya masing-masing.

***

Dua puluh menit saja waktu yang kami butuhkan untuk sampai dipuncak berbatu ini : Puncak Rengganis. Plang kuning tak bertiang yang saya angkat tinggi-tinggi, bertuliskan "Rengganis" adalah bukti hasil perjuangan yang begitu melelahkan. Kalimat apalagi yang keluar dari mulut jika bukan ungkapan rasa syukur?

"Alhamdulillah" Saya mengucap syukur dari dan dalam hati.

IMG_20140813_074515

Tidak terasa, disini, di atas puncak ini, darah mengalir deras dari kedua lubang hidung. Saya sembunyikan dan menutupinya rapat-rapat dengan buff agar tak seorang pun melihat. Saya lelah.

Perjalanan kurang satu malam lagi.

Bersambung...

Probolinggo, 2014

Komentar

  1. Argopuro ini yg banyak cerita mistis kan yaaa ????

    BalasHapus
  2. Iya, sepertinya aku juga mengalami mistisnya bang, di Danau Taman Hidup.

    BalasHapus
  3. Pendakian yang melelahkan ya Mas Inggit. Aku ngeei membayangkan jalan malam-malam di savanah. Terus kenapa hidung sampai berdarah ya? Suhu ekstrim atau lelah ekstrim saja?

    BalasHapus
  4. Kak Inggit mungkin kalau aku mendaki gunung bakalan lelah duluan di perjalanan haha emang cemen sih kalau naik pegunungan xD

    BalasHapus
  5. Wah ga sabar nunggu cerita selanjutnya...

    BalasHapus
  6. gunung argopuro keren benerr ...
    kalau mau petualang sekali jalan sudah dapat beberapa ke-eksotis-an alam disana

    BalasHapus
  7. Catatan perjalanannya keren. Jelas mendaki gunung itu butuh persiapan ekstra, tenaga ekstra, dan pastinya kepekaan kita dalam melawan egois. Pemandangannya pun benar-benar indah.

    BalasHapus
  8. Duuh mas inggit keren abis dah. Klo sy dah gak kuat kayaknya... tapi jadi mau nyoba lagi nih naik gunung :)

    BalasHapus
  9. Saya baru benar-benar sadar betapa melelahkannya menyusuri Argopuro, ketika darah keluar dari lubang hidungmu Mas.

    Tapi, itu tak boleh membuat saya takut atau ragu untuk pergi ke Argopuro. Walau entah kapan, saya harus mengikuti jejakmu Mas. Bukan untuk "mengeluarkan" darah dari hidung, tapi mendakinya dari Baderan ke Bremi hehehe :D

    Cikasur... Selada air... Alun-alun Lonceng... Puncak Rengganis... Ah, terlalu banyak yang membayang :)

    BalasHapus
  10. Melelahkan, tapi beneran nggak terasa mas. Ahh, aku bingung ngungkapinya gimana. Yang pasti dari semua pendakian di Gunung Argopuro yang ngaak pernah ada bosan-bosanya. :D

    Amin, semoga Mas Rifqy secepatnya bisa mendaki Argopuro. :)

    BalasHapus
  11. Pasti kuat koki, di argopuro nggak terus2an nanjak treknya...banyakan naik turun lembah. Tapi panjangnya yang nggak ketulungan heheh.

    Terimakasih sudah mampir ya :)

    BalasHapus
  12. Brtul sekali mas Nasir, kalau kurang persiapan mungkin baru sampai di Cikasur saja akan menyerah.

    BalasHapus
  13. Betul banget mas, penuh kejutan...keluar masuk savana, naik turun lembah :D

    BalasHapus
  14. Semoga secepatnya bisa nerusin ceritanya.

    Terimakasih sudah mampir Mas Budi :)

    BalasHapus
  15. sekali kali harus nyoba Mbak Wida, tapi jangan lupa persiapan :)

    BalasHapus
  16. Melelahkan sekaligus menggembirakan Bu Evi. Itu mungkin saking capeknya dan kena hawa dingin, udah bawaan dari kecil, kalau capek pasti mimisan :D heheh.
    Tapi beneran nggak kerasa meskipun jalan jauh. Kalau camp gitu baru terasa pegal_pegal :)

    BalasHapus
  17. wihh, melelahkan sepetinya ya mas, hehe. Ditunggu cerita selanjutnya mas. :)

    BalasHapus
  18. Lumayan melelahkan Mbak :)

    BalasHapus
  19. ini tempatnya ngga angker ya mas? aku ngeri hehehehe

    BalasHapus
  20. Ini gunung yang tingkat kesulitannya tinggi Mas. :) Nice story Mas.

    BalasHapus
  21. Cerita tentang Dewi Rengganisnya bikin penasaran Mas. Saya seneng niy cerita perjalanan yang dibumbui legenda atau sejarah. Serasa ikut menelusurinya di zaman itu. xixixixi.

    BalasHapus
  22. Itu yang membuat aku kadang menolak mendaki gunung; takut tidak kuat an mending jujur dari awal.

    BalasHapus
  23. Arhhhh jd terpacu ingin naik Gunung.... Tp memang musti well prepared yah biar aman sentosa pergi dan kembali.

    BalasHapus
  24. Hmm seram juga ya mas tempatnya masih terjaga banget.

    BalasHapus
  25. wihh keren bang..terus tulisannya juga enak dibaca..mantap dah pokoknya

    BalasHapus
  26. Betul, masih sepi. Tapi nggak tau kalau sekarang :D

    BalasHapus
  27. Persiapan adalah hal utama dan sangat penting untuk pendakian mas :)

    BalasHapus
  28. sekali-kali yang jalur pendek di coba gpp mas :)

    BalasHapus
  29. Saya juga penasaran, tiap malam di camp di datangin terus dalam mimpi malah :D

    BalasHapus
  30. Iya Mas Farchan, jalurnya panjang :)

    BalasHapus
  31. Lumayan, banyak yang denger suara derap tentara di cikasur katanya :D

    BalasHapus
  32. Eh trus rengganis jadi nya menikah ama siapa ???

    Gw baca tulisan lw yg "Ndang Masak ndak muncak" jadi keingetan emak gw di kampung yg suka bilang "NDANG"

    BalasHapus
  33. Akhirnya menjomblo lagi Bang. hahaha

    Yah, pulanglah emakmu mungkin merindukanmu bang. Ayo ketemu kalau kau pulang

    BalasHapus
  34. Wah, udah mendaki G. Argopuro aja nieh mas Inggit,,,,
    Aku juga punya impian buat mendaki ini lho mas, tapi belum kesampaian, :-)
    postingannya Mas Inggit benar - benar membawaku seperti mendaki mas, hehehe
    *kangen mendaki* ,,, mas inggit tanggung jawab

    BalasHapus
  35. Itu udah lama kok mas anis, pertengahan 2014...cuma baru sempet nulis lanjutanya. Sebelumnya uda pernah aku tulis juga cerita di taman hidup sama cikasur. Ayo, segera agendakan ke argopuro mas :)

    BalasHapus
  36. mbayangin perjalanannya ke argopuro yang panjang, pasti melelahkan.
    tapi sangat asyik dan menantang, ingin rasanya bisa kesana

    BalasHapus
  37. Benar, begitu panjang dan melelahkan...tapi terbayar semua :)

    Agendakan mas.

    BalasHapus
  38. Aku pengen banget lo kesini, tapi belum ada kesempatan mulu.

    sediih

    BalasHapus
  39. padahal udah di rencanain bulan lalu, ternyata g jadi..hadehh semoga kapan2 jadi deh amiinnn
    argopuroooo

    BalasHapus
  40. Rencanain lagi mas. Ditungguin Gunung Argopuro lo :)

    BalasHapus
  41. Wah mas inggit rek..
    Bikin baper... membuka ingatan argopuro.
    Keren mas. Lanjut tulisannya bagus.

    BalasHapus
  42. Ehh, ada Astri...siap, ditunggu lanjutanya ya. Oia, baca juga dong yang ini http://www.lajurpejalan.com/2015/04/istimewanya-dia-danau-taman-hidup.html :)

    BalasHapus
  43. argopuro sungguh melelahkan hiks hiks *butuhpijatan*

    BalasHapus
  44. beberapa kali diajakin kesini, tapi belum sempet juga. Makin bikin penasaran argopuro
    ceritanya keren mas.

    BalasHapus
  45. Wiuh hebat suka dengan petualangan rupanya mas ini, ingat saya waktu masih muda petulanagan-nya suka merantau ke kalimantan - sarawak dengan paspor ilegal. Jalan setapak jalur tikus, menyusuri parit menjadi tantangan yang tak terlupakan, salah belok dipastikan gak bisa pulang

    BalasHapus
  46. Wah serawak ya mas...impiam banget bisa bertualang seperti anda. Pasti tidak akan terlupakan.

    Terimakasih sudah mampir. Salam kenal :)

    BalasHapus
  47. Semoga cepat bisa kesini ya mas. Amin...terimakasih :)

    BalasHapus
  48. emang asik naik gunung tuh,, gak bosen-bosen yaa.. meskipun capek tapi terbayar pas di puncak..

    BalasHapus
  49. puas dah klo naik gunung maah..

    BalasHapus
  50. Naik gunung memang selalu begitu...capek akan terbayar :)

    BalasHapus
  51. Gunung apa dulu nih yg bisa muasin? :D

    BalasHapus
  52. Selama ini saya sering dengar nama Dewi Rengganis, tapi gak pernah cari tau kisahnya. Akhirnya di sini dapat salah satu versi legendanya. Menarik :-)

    Jadi pengen juga nih naik ke Argopuro :-)

    BalasHapus
  53. Ada keinginan mendakinya juga nggak mas? :D

    BalasHapus
  54. wah pasti pemandangannya keren y mas di dalam mantap

    BalasHapus

Posting Komentar