Hey, Berlita!

Hey Berlita,

Taukah kau malam ini kekasihmu di rudung rindu teramat sangat? Ya, dia merindukanmu. Padahal masih beberapa waktu lalu kau berpamitan. Ketika dirimu sudah duduk di bangku bus antar kota itu kau juga sempat mengirim pesan singkat : "Aku berangkat, hati-hati ya" Pesanmu pada kekasihmu itu. Senyum mengambang di bibirnya, hatinya mendo'akan perjalananmu, Berlita. Selanjutnya, kau tak mengabari lagi.

Barlita

Taukah kau, sedari tadi kekasihmu tak kunjung reda resahnya. Alih-alih melupakan tentang rindu pun di upayakan, mendadak kekasihmu ingin mendaki gunung juga, di gunung yang lain, bukan di tempatmu mendirikan tenda saat ini. Setidaknya ia ingin merasakan ketentraman seperti yang pernah kau ceritakan. Melihat bintang di ketinggian, di temani dingin dan segelas kopi murahan, atau sekedar berbaring didalam tenda memandangi lampu redup yang terselip disana.

Apa kau sedang menikmati malammu kini, Berlita? Apa kau sedang bercengkrama hangat dengan teman-teman seperjalananmu? Apa sudah ada yang menyiapkanmu makan malam? Atau apa sudah ada yang membuatkanmu kopi? Kekasihmu tahu, kau paling malas jika memasak di gunung. Kau selalu merepotkan. Tapi baginya, kau adalah penghibur perjalanan setiap insan. Kau juga pandai memberi semangat.

Hey Berlita,

Ternyata gagal rencana kekasihmu. Hujan deras mengguyur Surabaya. Setengah jam, satu jam, dua jam, tiga jam, hujan tak kunjung reda. Empat jam kemudian, gerimis pun masih tersisa. Sudah jam satu malam sekarang, dan tak mungkin ia berangkat. Dari kota ke kaki gunung dengan berkendara motor saja butuh tiga jam, belum juga mendakinya. Tak mungkin, bisa-bisa baru pagi ia akan sampai di lembah bayangan untuk mendirikan tenda. Tak mungkin juga ia mendapat momen melihat langit-langit malam seperti yang kau nikmati saat ini.

Dia semakin resah, Berlita.

Jalanan Surabaya lengang. Malam sudah sempurna. Apalagi gerimis. Tahukah kau, Berlita, di jalanan ini kekasihmu baru saja bertemu sapi-sapi liar. Sapi-sapi yang kau sukai itu. Sapi-sapi yang kerap membuat macet jalanan Surabaya Barat. Kekasihmu berhenti sebentar dari laju motornya, dia memotret gerombolan sapi yang memenuhi jalanan ini. Di atas trotoar, kekasihmu memilih-milih foto sapi terbaik di ponselnya, dan tentu ingin di kirim ka kamu lewat pesan WhatsApp seperti biasanya. Tapi baru sadar, kekasihmu lupa jika tak mungkin ada signal di gunung. Tak mungkin gambar sapi itu sampai di ponselmu.

Hey Berlita, sudahkah kau tertidur? Tapi ia menabak, kau tak bakal bisa tidur jika dingin. Bukankah kenyataanya demikian, Berlita? Walaupun jaket tebal dan Sleeping Bag membungkus tubuhmu, ia yakin kau tak akan bisa tidur. Kau hanya bisa tertidur saat gelap berganti dengan terang. Saat matahari cantik menyembul perlahan di ufuk timur. Saat merah jingganya menerobos pohon-pohon pinus raksasa, baru saat itulah kau akan tidur. Persetan dengan sunrise, kau tak akan menghiraukanya, kan?

Bagimu, menikmati proses perjalanan adalah yang utama. Keindahan, kecantikan, kemegahan alam, mungkin itu hanyalah sebuah bonus.

Masih di atas trotoar ini kekasihmu membaca pesan-pesan lama darimu di ponselnya. Di baca lagi personal massage di profil Blackberrymu yang bertuliskan nama kota tujuanmu. Menerawang lebih dalam ia, mengingat suasana pos pendakian, setiap jalur dan setiap jenis hutan. Kekasihmu ingat, karena dia juga pernah berdiri ditanah tinggi tempat kau berpijak sekarang. Di basahi rambutnya oleh sisa-sisa hujan, hayalanya semakin melambung tinggi ingin menjemputmu di tengah belantara sana.

"Berlita, lekaslah pulang" Kekasihmu bergeming.

Surabaya, 22 Mei 2016

Komentar

  1. Jadi Berlita ini cewek yanh diajak ke Surabaya North Quay bukan ? Hahaha

    BalasHapus
  2. Ayolah Berlita, pulanglah, tampaknya kekasihmu sudah sangat rindu kepadamu πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  3. Suka sama kalimat ini mas: "Bagimu, menikmati proses perjalanan adalah yang utama. Keindahan, kecantikan, kemegahan alam, mungkin itu hanyalah sebuah bonus." Top banget! :D

    Salam,

    BalasHapus
  4. Terimakasih Shudai :)

    Salam kenal ya.

    BalasHapus
  5. Tapi masih belum pulang-pulang ini Bu Evi :(

    BalasHapus
  6. Haha, bukan...bukan. Itu kan teman :D

    BalasHapus
  7. Rindu memang menyiksa ya kak, apalagi yang susah untuk diajak bertemu makin menyiksa deh :(

    BalasHapus
  8. Hmm...apa kakak sekarang juga sedang mengalami hal yg sama? Rindu πŸ˜„

    BalasHapus
  9. Hahaha,,,, perseten dengan sunrise ya mas ya? Sunrise sudah mulai muncul tapi tubuh masih saja tetap terbungkus dalam Sleeping Bag,,,, habis sebelum tidur ngobrol dulu mas sama teman - teman, hahahaha jadi bangkong dah,,,,
    Berlita, berlita

    BalasHapus
  10. Hehehe Yap, Berlita susah tidur kalau malam mas. Betul, ngobrol terus akhirnya mbangkong :D

    BalasHapus
  11. Jika Berlita pulang akan kah kau ungkapkan semua kerinduan ini padanya?

    koq gue ikutan puitis jadinya. wkwkwk...

    BalasHapus
  12. Aha.. Jelas dong kak. Akan ku ungkapkan semua. Maaf, postinganya jadi curhat gini :D

    BalasHapus
  13. kalau berlita belum pulang pulang sampai beberapa kali lebaran ...
    jangan jangan pergi sama bang thoyib :D

    BalasHapus
  14. Ahahaha. Ternyata benar mas, berlita ikut bang toyib :D

    BalasHapus
  15. kata katany bagus dengan susunan yg sistematis membacanya terkesan ,,,

    BalasHapus
  16. Syahdu parah :') hihihi enaaak bacanya :D

    Hey Berlita... Pulanglaaaah segera :'

    BalasHapus
  17. Mungkin Berlita lupa pulang, atau jangan-jangan lupa jalan pulang...
    Semoga Berlita cepat pulang ya...

    BalasHapus
  18. Berlita sudah tertambat dengan orang lain jadi lupakan saja

    BalasHapus
  19. Masih nunggu updatean terbaru mas :D

    BalasHapus
  20. Iya. Sepertinya memang begitu mas. Sedih :(

    BalasHapus
  21. rindu itu sesuatu yang mengasyikkan,..dinikmati aja mas...
    ada loh org yg ga bisa merasakan kerinduan :D

    BalasHapus
  22. jiah...pokoke kalau baca tulisan mas Inggit tuh gimana gitu.... full dari atas sampai bawah ga terlewatkan... asyik bacanya... keren deh
    sampai hari ini, belum pulangkah Berlita?

    BalasHapus
  23. Ahah, makasih mbak monic :D

    Belum pulang juga nih, mungkin ikud bang toyib

    BalasHapus
  24. Bersyukur kalau gitu saya, bisa punya rasa rindu :D

    BalasHapus
  25. Berlita.... kamu dimana adinda! baper bacanya kak :(

    BalasHapus

Posting Komentar