Permainan Tradisional : Sebuah Identitas

Sewaktu mendaki Gunung Sabu di Pulau Bawean, saya melihat anak-anak di puncak dengan mainan tradisionalnya. Enter-enteran namanya. Permainan tradisional yang bentuknya menyerupai baling-baling. Berbunyi mirip raungan raja hutan jika dihempas angin. Semakin kencang suaranya hingga memekakan telinga, tentu semakin bangga si empunya.

Musim angin barat telah tiba. Anak-anak di Bawean tidak pernah melewatkan sore di puncak gunung ini. Apalagi akhir pekan, bisa-bisa dari pagi hingga menjelang senja. Yang di lakukan sama, berlomba-lomba beradu kencang menyuarakan Enter-enteran. Mendorong-dorong tiang bambu yang atasnya dipasang dua bilah kayu sebagai pusaran. Meng-Indonesia sekali bukan?

Permainan tradisional di puncak Gunung Sabu
Disini saya merasa dilempar oleh mesin waktu ke belasan tahun lalu. Mengembalikan ingatan tentang masa di mana tugas sekolah IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) adalah masalah paling berat dalam hidup. Dan obatnya adalah bermain, permainan tradisional, entah itu Petak umpet, Patel lele, atau Gobak sodor. Terobati lagi jika saat bermain Gobak sodor bisa sengaja mencolek lawan main yang berlawanan jenis. Ups, masa kecil!

Kalau anda lahir tahun 90-an, dan melihat hal semacam ini, saya yakin anda pasti merindukan yang namanya bermain dengan mainan tradisional.

Baca Juga : Gili Noko, Dataran Kecil Yang Mengapung Di Samping Bawean



Permainan tradisional merupakan identitas, keunikan, sekaligus aset kekayaan yang lahir dari pemikiran-pemikiran lokal jenius bangsa. Lahir ribuan tahun lalu melalui penuturan kata dan lisan. Juga, umurnya sepantaran dengan budaya. Mungkin bedanya permainan-permainan ini sudah jarang dan hampir tidak lagi mendapat peranannya dalam masyarakat khususnya anak-anak.

Permainan tradisional menuntut anak untuk menjadi kreatif, menciptakan mainan-mainan sendiri. Membuat Kekehan misalnya. Membuat mainan ini sungguh tidak mudah. Dulu, sewaktu kecil saya harus mencari dan memotong batang pohon yang berdiameter sekitar 15 sentimeter. Kemudian memahatnya perlahan, membentuknya seperti tumpeng terbalik dengan menanam paku didalamnya. Selanjutnya membuat guratan untuk tempat memutar tali.

Satu lagi, membuat miniatur alat-alat bangunan atau kendaraan dari tanah liat. Kalau yang ini saya tidak mahir. Teman saya sewaktu SD sangat jago membuat diesel, traktor, truck, bahkan pesawat dari tanah liat. Membuat mainan ini juga harus melalui proses panjang. Mencari tanah dengan mencangkul dulu, kemudian membentuknya dengan mengepal-ngepalkan tanah di genggaman tangan, membakar, dan yang terakhir di cat berbagai warna. Kotor dan menjijikan? Dulu sama sekali tidak. Sekarang? Mungkin iya bagi anak-anak di jaman modern.

Baru belasan tahun lalu saya berkutat dengan Kekehan dan Gangsing sepulang sekolah. Rasanya baru kemarin. Betapa kuat arus globalisasi. Betapa cepat pergeseran-pergeseran itu. Dengan hidup di negara berkembang, kemajuan teknologi juga tidak mungkin di tolak. Anak-anak sekarang lebih doyan bermain game dari gadgetnya, tidak perlu berpanas-panasan lagi mengejar layang-layang yang putus. Kini, ibu-ibu juga tidak perlu lagi khawatir kalau anaknya mainan Petel lele, yang bisa kapan saja melukai wajah karena lontaran kayu yang panjangnya 10 sentimeteran itu.



Memang, dibeberapa daerah masih terdapat mainan tradisional. Saya juga pernah sempat melihat anak-anak kecil di Flores, tepatnya di Desa Dintor, Manggarai Barat, mereka memainkan permainan tradisional. Mereka mendorong roda kayu, tongakatnya terbuat dari bambu. Dan jika didorong bunyinya “pletok-pletok” akibat gesekan seng dengan roda. Mereka berjalan beriringan di tepi jalan makadam dengan senyum renyah. Tapi, akankah bisa tetap lestari? Yang penting, sekali lagi disini saya melihat Indonesia!

Tentang permainan tradisional memang tidak ada regenerasi pasti. Mungkin kita yang kurang menyuarakan betapa pentingnya adanya permainan tradisional sehingga permainan tradisional tidak lagi menarik hati anak-anak. Mungkin karena identik dengan ketertinggalan? Tidak populer?

Sebuah Foklor, dari cerita dan akankah kembali ke cerita? Lambat laut waktu yang akan menjawab.

Terlepas dari manfaat dan ketertarikan, sekali lagi “Permainan Tradisional adalah “Identitas” bangsa, identitas Nusantara.

Harapan saya, barangkali nanti suatu saat setiap kota atau daerah di Indonesia rutin membuat event bertajuk permainan tradisional. Setidaknya kita di ajak bernostalgia ke masa lalu dan tentunya anak-anak akan mengenal apa yang pernah kita mainkan saat seumurannya.

Bagaimana menurut anda?


Tulisan ini hanyalah ungkapan keprihatinan dan kegelisahan hati pribadi.

Baca Juga : Pulau Bawean, Begitu Dekat Namun Jauh Tersekat!

Komentar

  1. Anak 90an kulit jeruk pun jadi mobil-mobilan, bambu kecil jadi tembak-tembakan, bambu besar jadi meriam (ngabisin minyak tanah emak) hahahahhaha. Hidup anak 90an, pantang pulang sebelum adzan magrib dan bonus jeweran emak/bapak :-D

    BalasHapus
  2. Wow... di ketinggian berapa itu Mas...
    Kalau di tempat saya namanya kincir angin Mas...
    Salam,

    BalasHapus
  3. Nggak ketinggalan, ingusnya masih mbeler gitu waktu pulang wkwkwk

    BalasHapus
  4. Nggak sampai 1.000 MDPL kok Mas Dedy, tapi lumayan viewnya cakep :D

    BalasHapus
  5. Kaaak, di tanah kelahiranku gak ada mainan beginiii :'(
    aku hanya mengenal lompat tali, main bekel an congklak.

    ini viewnya cakep bangeeet ahhh.

    BalasHapus
  6. waktu itu aku pulang ke rumah dan melewati beberapa anak kecil yang lari-lari kejar layang-layang. Rasanya seneeeeeeeeeng aja liatnya, jaman sekarang pemandangan gitu udah langka ya :( nantik anakku tak ajarin layangan ae yo mas sawangane hehe

    BalasHapus
  7. Kalau sekarang sering aku lihat anak-anak kecil di kampungku nongkrong di pos kamling sambil konsen pegang smartphone masing-masing :D

    BalasHapus
  8. Ah asik itu mbak loncat tali, yang belum ngerti congklak :D

    Iya cakep, betah deh lama-lama di atas sini.

    BalasHapus
  9. Pengen ke Bawean kalau begini ceritanya. Tulisan yang menggugah Mas.

    BalasHapus
  10. Monggo tindak Bawean Mas :)
    MTerima kasih Mas Edy.

    BalasHapus
  11. Hmm, saya bersyukur terlahir sebagai generasi 90an yang mengenal permainan-permainan tradisional, yang memberikan kebanggaan jika menguasai setidaknya satu jenis permainan: inilah juga termasuk identitas.

    Sama, di kampung ada gerombolan anak usia SD-SMP, nongkrong di depan musola bada isya, terus fokus sama gawai masing-masing. Hobi yang kurang sehat :(

    BalasHapus
  12. Woow dulu saya juga suka main yang semacam itu mas kalau dijawa namanya kitiran tapi yang ini ekstrrem krn dipuncak bukit

    BalasHapus
  13. Beberapa wkatu lalu sempat lihat tayangan di Net TV ada semacam olimpiade permainan tradisional di daerah Jawa barat kalau enggak Bante. Jadi tiap kelompok harus bekerjasama memainkan beberapa permainan tradisional yang beragam, seru abis. Katanya itu akan dibikin agenda tahunan. Kalau di Jogja sendiri ada Festival Dolanan Bocah. Tapi sih berharapnya nggak cuma sebatas festival ya, anak-anak emang beneran masih mau memainkan permainan itu. Sekarang tiap lihat bocah pasti pegangnya gadget, bahkan hingga ke pelosok kampung.

    Nice artikel, mas :)

    BalasHapus
  14. Mainan itu juga sering ada di daerah saya namun hanya di musim kemarau saja ketika orang ramai-ramai menagmbil air bersih di sawah nah ini anak-anak malah sibuk main baling bambu semcam itu di sawah.

    Tinggi banget tuh mas kayanya. sungguh sangat menyenangan bermain sambil berpadu dengan alam yang masih alami. beda dengan anak-anak sekarang yang mainannya itu sejenis benda elektronik

    BalasHapus
  15. Waduh mas, jadi baper baca blogmu, terharu, sekaigus rindu sama mainan2 anak bawean, aku sudah terlena dengan gadget di kota gresik #duhgimanaini #inijunyangngomen #aslibawean

    Paling setuju sama kalimat ini "Harapan saya, barangkali nanti suatu saat setiap kota atau daerah di Indonesia rutin membuat event bertajuk permainan tradisional.".
    Apalagi gobak sodor ama bentengan bisa dijadiin olimiade tuh, asik hahahaha

    BalasHapus
  16. Wes ndang balik ke Bawean, langsung nanjak aja gunung sabu...siapa tahu ketemu mereka ham. Ndang donanan Enter-enteran. haha
    Iya, kapan ya di Gresik ada festival dolanan...

    BalasHapus
  17. Wah menarik sekali ya mas kalau masih ada mainan semacam itu di daerahnya mas effendy. Iya ini juga baling-baling bambu...tapi di bawean namanya enter-enteran :)

    Nah itu yang menarik, di atas sini bisa bernostalgia dengan masa lalu lengkap sama lenskape alamnya :D

    BalasHapus
  18. Bagus sekali kalau begitu mbak, kalau misal jadi acara rutin tahunan. Saya juga pernah mendengar di jogja ada festival dolanan, pengenya lihat langsung sih,,semoga pas ada acara itu bisa datang kesana.

    Terimakasih mbak murni, terimakasih sudah berkenan mampir :)

    BalasHapus
  19. Benar sekali, "Kebanggan" Saya dulu bangga kalau mainan patil lele selalu menang mas, tak terkalahkan :D

    Ya, semoga saja penggunaan gadget tidak di salahgunakan untuk hal-hal negatif ya mas.

    BalasHapus
  20. Ingus masa kesil itu menyenangkan hahahahhahaha. *Ups :-D

    BalasHapus
  21. cakepppp gunung sabu-nya, ah jadi bikin aku kangen daki gunung lagi nih, sementara cuti dulu karena jatah main juga sudah menipis hehe

    BalasHapus
  22. Kalo mainan tradisional di kampung saya mah paling Panggal ama Morik. Menarik artikelnya, cees.

    BalasHapus
  23. Hahaha,,, benar - benar mas Inggit, rindu akan mainan tradisional.
    Ituloh yang gobak sodor, kan bisa pegang lawan jenisnya *Ups*
    Hmmm, sekarang nampaknya udah mulai luntur ya mas ya karena arus globalisasi yang begitu kuat,,,,
    Hmmm, sungguh memprihatinkan, hehehe

    BalasHapus
  24. Coba naik yang deket-deket dulu mbak, waktu akhir pekan...lumayan bisa mengobati kangen naik gunung

    BalasHapus
  25. Wah baru denger permainan Panggal Sama Morik. Pasti seru permainanya mas :)

    BalasHapus
  26. Aha, biasalah waktu kecil suka iseng mas :)

    BalasHapus
  27. ya ampunnn itu kayaknya tinggi banget yaa lokasinya

    BalasHapus
  28. Betul, tinggi-tinggi sekali :D

    BalasHapus
  29. Wah, itu bambunya panjang juga yak. Dulu paling saya bikinnya model kincir kertas gitu, diikat ke lidi trus dibawa lari. Haha, ngga nyambung yak, beda sama enter-enteran.

    BalasHapus
  30. Iya betul anak anak jaman sekarang beda banget ya sama anak-anak jaman kita dulu. Huhuhu. Sekarang pada anteng sama gadget, nggak suka berlelah-lelahan dan berpanas-panasan. Padahal seru ya main permainan tradisional..

    BalasHapus
  31. paling seru itu main sambar elang dan menyambar lawan jenis.. aihh.. terus pura2 bodo ketika si dia ngomel2.. eh di bahas :))

    tp di aceh sendiri pun sudah agak susah untuk bisa menemukan permainan tradisional. kecuali layang2 ini
    http://www.hikayatbanda.com/2016/01/layang-kleung-tradisi-layang-aceh-yang.html

    BalasHapus
  32. Tapi sama-sama kincir anginya mbak :D
    Bedanya ini dari bambu dan menghasilkan bunyi yg kenceng banget

    BalasHapus
  33. Dulu waktu kecil juga hoby banget mainan layang-layang mas, nggak pulang-pulang sampe maghrib, sampai di cariin ortu ke sawah. hehe
    Sudah saya baca mas, semoga di aceh juga bakalan ada festival layang-layang ya.

    BalasHapus
  34. Perubahan yang begitu cepat ya mbak :)

    BalasHapus
  35. Jadi inget juga dulu permasalahan hidup terberat adalah ketika dihadapkan pada PR matematika ya, mas? hahaha.
    Iya sih ya sekarang mah permainan bentuk digital malah lebih digandrungi anak-anak daripada permainan tradisional :( aku dulu malah lebih suka main engkle sama main layangan, seruuuuu

    BalasHapus
  36. Oh di bawean ada gunung juga yaaaaa #BaruTau
    Sebagai anak bupati gresik maka aku merasa gagal karna baru tau hua hua

    BalasHapus
  37. Ada dong, kota kita semuanya ada mas!

    BalasHapus
  38. Begitulah kenyataanya sekarang mbak. Wah mbak anggi main layang-layang? keren mbak :D

    BalasHapus

Posting Komentar