Taman Sari Dan Pelukis Kaos Sanggar Kalpika

Sudah beberapa hari saya di Yogyakarta, tapi baru di hari ke empat ini saya jalan-jalan ke tempat wisata. Ya, dihari sebelumnya saya hanya tidur, makan, kemudian ngopi di angkringan hingga larut malam. Hanya dengan itu saya menghabiskan waktu.

Ini liburan, atau pindah tidur? Yang jelas semuanya tanpa perencanaan apapun.

Memang, sebelumnya saya tidak punya rencana untuk berkunjung ke Yogja. Semuanya serba spontan, berfikir semenit pada saat itu juga, dan satu jam kemudian saya sudah berada di terminal. Saya ke Yogja naik bus.

Lorong Taman Sari
Lorong Taman Sari

***

Mendung tipis abu-abu bergelanyut di langit kota. Gerimis sebentar, kemudian tertahan dan menghilang. Bagus. Cuacanya enak, tidak panas. Cocok sekali untuk jalan-jalan saat bulan puasa. Saya cepat-cepat melajukan motor ke arah Taman Sari. Cukup sepuluh menit perjalanan dan akhirnya saya sampai di parkiran.

Suasana Taman Sari sepi karena sudah jam tiga sore. Seperti yang sudah saya lihat di internet, bahwa Taman Sari tutupnya sekitar jam setengah empat. Berarti saya punya waktu setengah jam untuk berkeliling di bangunan cagar budaya ini.

Di Yogja, entah kenapa saya lebih tertarik menikmati suasana kotanya dibandingkan ke wisata alam. Menyusuri jalanan dan mengagumi eksotisnya bangunan tua adalah suatu hal yang paling menarik jika berkunjung ke kota budaya ini. Atau, sekedar nongkrong menyantap kudapan jajanan angkringan.

Sederhana saja untuk menikmati Jogja. Sesederhana kehidupan masyarakatnya.

Lorong pertama saya lalui dengan rasa terkagum-kagum. Maklum, walaupun sering ke Yogja, tapi baru pertama ini saya ke Taman Sari.

Pintu setinggi pundak itu saya lewati dengan posisi merunduk. Saya bisa membayangkan betapa orang dahulu sangat memikirkan pengajaran tata krama. Bisa di tafsir maknanya, bangunan ini selalu mempunyai ukuran pintu yang sangat rendah. Berarti, setiap masyarakat dahulu yang masuk dalam kerajaan ini harus merunduk, menunduk kepada raja. Sopan, anggun, dan santun.

Kebiasaan itu sepertinya melekat ke masyarakat Yogja hingga kini. Terbukti jika mereka terkenal ramah, sopan, dan tutur katanya yang halus.


Lorong-lorong berwarna kuning mangkak kecoklatan terus saya jelajahi. Berpindah dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Keluar masuk pintu yang bentuknya rupa-rupa. Ada yang mengerucut mirip pengimaman masjid, ada yang kotak-kotak biasa.

Kekaguman saya tentang bangunan kuno disini tiada pernah selesai. Mata saya terus mengukur setiap ketebalan tembok yang begitu kokoh. Tangga-tangga cantiknya apalagi? Bagus arsitekturnya, sampai-sampai pengunjung rela antri berfoto diatas tangga itu.

Terlintas sebentar fantasi saya tentang kehidupan jaman dahulu di tempat-tempat seperti ini atau di candi-candi. Apakah mirip pertunjukan Sendratari kolosal yang pernah saya lihat? Dengan pemeran wanita yang cantik jelita, pria yang gagah perkasa mengenakan pakaian adat masa lalu. Ahh, seru sekali sepertinya kehidupan jaman dahulu.

Di Taman Sari, saya melihat beberapa pemuda tengah sibuk dengan peralatan melukisnya. Tepat di pintu keluar bangunan pertama. Mereka tampak fokus meliuk-liukkan kuas kecil diatas kaos oblong polos yang sudah bergambar. Setengah jadi.

"Ini Sanggar Kalpika, mas, kalau mau lihat-lihat karya lukis kaos silahkan saja masuk" Seseorang paruh baya menginformasi ketika saya sedang mengamati apa yang dikerjakan pemuda disini. Beliau adalah guide di Taman Sari.

Puluhan kaos lukis beraliran Picaso atau kubisme yang sudah siap di jual ini dipajang rapi. Di tempel pada dinding-dinding gallery Kalpika. Kaos lengan pendek, singlet, dan bahu panjang juga ada. Pilihan warnannya banyak.

Yang menarik, dalam lukisan ini rata-rata tidak terkonsep. Si pelukis tidak merencanakan tema apa yang di usung. Semua serba improvisasi. Imajinasi liarnya berjalan sendiri ketika kuas dan cat menari di permukaan kaos. Tanpa sketsa.

Berbagai racikan cat di letakkan di atas nampan berlubang-lubang kecil. Berbagai warna. Siap dipoleskan ke sasaran. Begitu liheinya si pelukis. Tangan kiri memapah kaos yang dibalutkan ke triplek sebagai alas, tangan kanannya beraksi dengan kuas. Hebat. Di jari kirinya tadi juga masih terselip rokok kretek. Sesekali ia hisap.

Santai, tapi sedikitpun tak mengurangi estetikanya.

"Melukis kaos seperti ini juga butuh cuaca bagus. Kalau mendung, keringnya lama, bisa sampai tiga hari selesai" Ujar si pelukis yang saya lupa siapa namanya. Padahal sudah saya catat di draf, tapi hilang.

Rata-rata pelukis kaos di Sanggar Kalpika adalah pemuda asli dari kampung ini. Dari Taman Sari. Dan katanya, semuanya otodidak. Belajar dari sekeliling, mengamati, dan kemudian berkarya.

Harga kaos lukisnya variatif. Tergantung tingkat kerumitan. Semakin rumit semakin lama pengerjaannya. Semakin mahal harganya. Harga dari kaos lukis ini ditarif paling murah 250 ribu. Pembeli juga bisa memesannya terlebih dahulu jika ingin memilih warna dasar kaos.

Karya lukis dari pemuda Sanggar Kalpika ini juga sudah tembus sampai mancanegara. Bukan hanya kaos, seorang wisatawan bule juga kerap memesan kain lukis untuk dekorasi rumah.

"Yang di jemur itu pesanan dari Belanda, mas" Ucap si pelukis. Kain selabar kurang lebih dua meter yang di jemur itu bergambar penari tradisi. Walaupun lukisan tersebut masih setengah jadi, tapi sudah tampak elok dengan segala pernak-pernik dan busananya.

Bagaimana, apa anda tertarik ingin memilikinya? Jika anda tertarik silahkan berkunjung ke Sanggar Kalpika, Taman Sari, Yogyakarta.

***


Jam empat lebih. Taman sari sudah sepi, sudah tutup. Saya melangkah keluar menyusuri lorong yang hampir gelap tak tertembus cahaya. Sementara para pelukis di Sanggar masih terus berkreasi. Mencoreti setiap jengkal kosong diatas kaos oblong.

Di balik bangunan yang megah dan beraksitektur indah, Taman Sari memiliki daya tarik sendiri, terutama bagi pecinta seni. Ya, Sanggar Kalpika. Disinilah anda bisa melihat karya-karya luar biasa yang lahir dari tangan-tangan pemuda kreatif.

Yogyakarta, Juni 2016

Komentar

  1. Aku suka, perjalanan yang tidak direncanakan. Tapi masih banyak kendalanya.
    Perjalanan lajur pejalan ini menarik :)

    BalasHapus
  2. Aku sering ke Taman Sari cuma buat berburu foto hehehhehe. Kadang cuma duduk lama di halaman depan saja :-D

    BalasHapus
  3. Kak ... tolong terjemahkan arti mendung tipis2 itu apakah

    BalasHapus
  4. keren nih, ngelukisnya pake cat apa mas

    BalasHapus
  5. kayaknya cat yang dipakai nglekis di kanfas itu mas...bahannya mungkin yang karet

    BalasHapus
  6. Semacam es susu soda bang, dikasih strup pewarna :D

    BalasHapus
  7. Banyak cara untuk menikmati Taman Sari ya mas :)

    BalasHapus
  8. Sama kita kak rin :)

    Terimakasih. Salam kenal ya

    BalasHapus
  9. oh, cat minyak apa ya, apa akrilik

    BalasHapus
  10. aku baru tau ada cat-cat pakaian gt :(

    BalasHapus
  11. wah saya blom pernah ke sini tapi kayaknya heits banget ya
    banyak yang foto di sini, aku suka menjelajah jogja soalnya

    BalasHapus
  12. Itu yang ngesot di lorong siapa yak? :)

    BalasHapus
  13. Owh itu ibu-ibu Tuna Wisma kak, kalau nggak salah :)

    BalasHapus
  14. Hits banget, ke jogja harus mampir kesini :)

    BalasHapus
  15. kalau udah tau gini cepetan bikin ya :)

    BalasHapus
  16. Trus jangan lupa pake gorengan gitu yaaa + cabe rawit nya hua hua

    BalasHapus
  17. waktu ke taman sari di ceritakan oleh guide-nya bahwa dulu di area itu ada danau untuk peperahuan keluarga kerajaan ... sayang ya sekarang sudah menghilang

    BalasHapus
  18. paling suka ama tempat ini

    BalasHapus
  19. betul, saya pernah baca-baca juga begitu ceritanya mas...sayangnya kemarin kesana gak pake guide :)

    BalasHapus
  20. nyimak, mantab dah informasinya

    BalasHapus
  21. Keren, Alhamdulilah gue sempat ke Taman Sari :)
    Btw, sla kenal ya.. Di tunggu bertamunya kembali :)

    BalasHapus
  22. Salam kenal juga mas Andi. Siap, di tunggu ya :)

    BalasHapus
  23. Kak pengimaman masjid itu apa ya

    BalasHapus
  24. belum pernah k sana tpi pengen banget k sana.... kapan a tapinya hehee :D

    BalasHapus
  25. eh, sudah di direct ke sini ternyata ya? :D
    selamat ya mas..
    saya masih berkutat dengan template yang rusak :(

    BalasHapus
  26. kayanya klw aku sih setiap mau k mna gk punya rencana ahaha

    BalasHapus
  27. berkali-kali ke jogja, berkali-kali juga ke taman sari, tapi blm sekalipun ke pemandiannya :D
    kadang duduk diem di pulau cemeti, ato nyari sarapan di pasar ngasem :3

    BalasHapus

Posting Komentar