Pasak Tedong : Pasar Yang Tidak Biasa Di Tana Toraja

"Tidak lihat acara Pasak Tedong mas?" (Pasak Tedong ; Pasar Kerbau) tegur lelaki yang duduk dengan pasanganya di muka tebing kuburan. Lelaki yang saya tafsir usianya sekitar empat puluh tahun itu bernama Darwin, entah nama kekasihnya siapa. Seorang pengunjung wisata kuburan Londa yang jauh-jauh datang dari Palopo. Dan sebentar lagi mereka berdua hendak menuju lapangan yang tidak jauh dari sini untuk menyaksikan acara Pasak Tedong. Sebenarnya bukan lapangan, tapi lebih tepatnya ialah sawah kering yang disulap menjadi arena pertarungan kerbau.

"Disana banyak kerbau beradu ketangkasan, kamu harus melihat salah satu budaya orang Toraja, pasti ramai", imbuh Pak Darwin.


Saya sempat bingung dengan ucapan Pak Darwin. Apa hubunganya pasar kerbau dan adu kerbau. Tentu bayangan saya hanya semacam pasar hewan, tempat jual beli hewan seperti pada umumnya.

Sambil membayangkan acara Pasak Tedong, saya mengamati batu tebing dan mulut goa kuburan Londa. Hampir sama dengan pemakaman di Ke'te Kesu'. Bedanya, wajah tebing disini terdapat banyak patung Tau-tau yang di letakan pada sebuah rumah-rumahan kecil. Di sisi kanan dan kirinya ada dua daun pintu yang di biarkan terbuka, tanpa di gembok. Mungkin tidak terlalu beresiko akan hilangnya perhiasan yang menghias tubuh Tau-tau itu, karena Tau-tau di letakan di atas tebing tinggi. Sekitar enam sampai tujuh meteran dari permukaan tanah. Jadi mustahil orang bisa mencurinya.

"Dari Jawa Timur ya mas? Sudah ke Bulukumba belum? Disana pantainya bagus", tanya Pak Darwin lagi. Mungkin beliau mengetahui kalau saya berasal dari Jawa Timur karena logat Bahasa Indonesia saya yang medok. Sedikit ceritanya, beliau juga sempat pernah beberapa tahun kerja merantau di Surabaya. Jadi masih hafal dengan logat orang Jawa.

"Betul, saya dari Surabaya Pak, saya belum ke sana, apa Pak Darwin nanti akan ke Bulukumba?", tanya saya ke Pak Darwin sebelum dia melenggang meninggalkan saya di depan Kuburan Londa.

"Nantilah, kapan-kapan saya ke Bulukumba lagi, kalau dapat cewek baru, mau kencan disana". Jawab Pak Darwin sambil merangkul kekasihnya itu. Sontak, beberapa cubitan kecil dari kekasihnya yang mendadak berwajah murka itu pun mendarat di pinggangnya. Kemudian, Pak Darwin berlalu sambil wajahnya masih cengengesan.

***

Teriakan orang-orang begitu riuh bergemuruh di siang itu. Sawah yang menjadi arena adu kerbau, pemetangnya penuh sebagai tempat duduk penonton. Saya tidak melihat Pak Darwin dan kekasihnya, entah disisi mana mereka melihat acara ini. Suara lantang reporter yang keluar dari pengeras bunyi mirip corong semakin membuat pertunjukan ini meriah. Saya jadi teringat turnamen sepak bola antar kampung. Atmosfirnya sama persis. Hanya saja yang di dalam arena itu adalah kerbau sedang beradu ketangkasan.

Satu-persatu kerbau yang di bawa pemiliknya di giring ke arena. Beradu, satu lawan satu. Ada yang belum sempat bertarung, tapi sudah lari terbirit-birit ketakutan. Semua orang bersorak mendukung kerbau jagoanya. Kerbau yang sangat besar-besar, tanduknya meruncing seperti clurit, sangat berbeda sekali dengan kerbau di Jawa. Mereka, sang pawang kerbau pun harus berhati-hati. Bisa saja mereka sendiri yang di serang si kerbau.

Dari beberapa pertunjukan kerbau yang di adu, ada satu pertarungan kerbau yang membuat saya penasaran. Kerbau yang dinamai Satrina, dan lawanya bernama Madun. Si Satrina di giring dari sisi selatan arena, dan si Madun dari sisi utara. Rasa penasaran datang karena saat kedua nama ini beradu, atmosfirnya tidak seperti sebelumnya, lebih meriah. Mungkin Satrina dan Madun adalah jawara di daerahnya, atau mungkin finalis kejuaraan sebelumnya. Semua penonton di bagian utara meneriaki nama Satrina, bak artis yang baru keluar dari panggung untuk menghibur penggemar. Berjalan begitu gagah dengan tubuh gemuk dan kekar. Begitu pula pendukung si Madun, semua meneriaki namanya.

"Madun...Madun...Madun...Satrina...Satrina...Satrina". Sorak sorai antusias penonton.

Di sebelah saya, beberapa orang bertopi ala koboi menggenggam lembaran uang ratusan ribu rupiah sambil membicarakan nama Madun, si kerbau yang tubuhnya di cat namannya sendiri itu. Mereka bertaruh dengan pendukung Satrina. Ya, tentu saja saya tau kalau mereka berjudi. Disini mengadu hewan seperti kerbau di perbolehkan, kecuali sabung ayam. Tapi, jika budaya adu kerbau ini di salah gunakan untuk berjudi, tentu tetap saja melanggar hukum bukan?

Saya juga mendengar obrolan mereka, kerbau siapa yang menang harga jualnya nanti akan semakin melambung tinggi. Baru saya ketahui, ternyata ketangkasan dan kekuatan kerbau mempengaruhi harga jual. Karena itulah, sebelum sesi jual beli, kerbau di adu terlebih dahulu.

***

Memang benar, pertarungan Satrina dan Madun ini benar-benar seru. Keduanya sama-sama pemberani. Cukup lama berduel tanduk, saling membenturkan kepalanya. Debu-debu beterbangan oleh aksi mereka. Penonton pun turun ke arena, ingin lebih dekat lagi melihat pertarungan sengit antara Madun dan Satrina. Saya yang sebelumnya melihat dari kejauhan akhirnya terpancing juga untuk turun. Sawah — arena ini menjorok kebawah dan di kelilingi perbukitan hijau. Pertunjukan lokal budaya yang bagi saya sangat istimewa!

Beberapa menit kemudian, Satrina lari meninggalkan arena dan terus di kejar-kejar Madun dari belakang. Penonton yang melingkari aksi pertarungan itu semburat ketakutan bila saja sampai di tanduk kedua kerbau garang ini. Tapi pertengkaran belum selesai, Satrina kembali melawan. Mungkin satrina tidak leluasa di kerubungi penonton. Hingga dia lari mencari tempat untuk memulai pertarunganya lagi. Tanpa ada pawang, mereka, si Madun dan si Satrina beradu kekuatan, Kakinya menghentak-hentak brutal, seakan membalas kekalahan babak pertama.

Jagoan saya, si madun, kali ini mendapat dorongan yang begitu berat dari tandukan kepala Satrina. Satrina tidak henti-hentinya mendobrak pertahanan Madun. Penonton semakin berisik. Ada beberapa juga yang masih menawarkan uangnya untuk di pertaruhkan. Banyak yang mendukung Madun. Tapi sayangnya, beberapa detik kemudian, Madun kuwalahan menghadapi serangan Satrina dan akhirnya melarikan diri menuju kaki bukit samping arena. Satrina terus mengejar, Madun sudah tidak berani melawan, melarikan diri lagi. Hingga akhirnya reporter mengumumkan kemenangan Satrina. Banyak yang kecewa, termasuk saya.

Jagoan saya kalah. Sialnya lagi, ketika saya berlari turun ke arena untuk menyaksikan pertarungan mereka lebih dekat, kaki saya terperangkap menginjak ranjau — kotoran kerbau. Masih basah, dan bau!

*Catatan

~Transportasi Bus (PO. Batutumonga) Makasar - Rantepao, Toraja Utara Rp. 130.000.

~Sewa motor perhari Rp. 100.000 (bahan bakar sudah di isi)

~HTM wisata kuburan Londa Rp. 5.000.

~Penginapan perhari Rp. 100.000, "Pondok Nilam", Jl. W. Monginsidi No. 013, Rantepao - Toraja Utara, Phone (0423 23583).

Komentar