Site Loader

Backpacking Murah Ke Kampung Adat Waerebo, Flores!

Kemarin, saat saya mengunggah foto-foto kampung adat Waerebo di Facebook, banyak teman-teman yang mengirim pesan pribadi, mereka bertanya, bagaimana cara kesana? Habis uang berapa kalau kesana? Naik apa kalau bisa murah untuk sampai ke Flores? Berapa penginapan disana? Harga makanan mahal, tidak? Dll.

Bismillah, semoga saya nanti bisa menjawabnya juga disini.

Bicara soal “murah” memang relatif, tentu standart orang beda-beda lah ya. Murah di saya belum tentu murah di orang lain, nyaman di saya belum tentu nyaman di orang lain. Cara murah pun beragam, bisa naik oper transportasi darat berkali-kali, atau bisa saja lebih gila lagi, yaitu dengan hitchhiking/ nebeng sana-sini di kendaraan orang, ini yang paling asik. Gratis!

Baiklah, langsung saja kita simak—tanpa banyak cerita seperti tulisan saya pada postingan-postingan sebelumnya. Informasi ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya sewaktu berkunjung ke Waerebo pada bulan Juli 2015 yang saya mulai dari Surabaya.

Ke Waerebo, naik apa?

Bus Tiara Mas jurusan Surabaya-Sape, Sumbawa. Ambil keberengkatan sore, biasanya bus berangkat jam empat. Tiket juga langsung bisa beli di Terminal Purabaya. Harga tiket Rp 550.000 ribu, sudah termasuk makan dan minum selama perjalanan dan tiket Kapal Feri Banyuwangi-Bali, Bali-Lombok, Lombok-Sumbawa.

Jadi begini, ada tapinya. Setelah tiba di Terminal Bima (Sumbawa) kita akan di oper ke mini bus jurusan Sape, tidak perlu membayar lagi karena harga sudah satu paket. Cukup tunjukan tiket Bus Jurusan Surabaya-Sape kepada sopir mini bus. Estimasi waktu perjalanan dari Surabaya ke Sape kurang lebih 38 jam, dua malam di dalam bus dan kapal.

Sampai di Pelabuhan Sape pagi hari, dan masih berlanjut. Kita harus menyeberang lagi ke Labuan Bajo dengan Kapal Feri. Tiket bisa langsung beli di Pelabuhan. Tarif kapal Rp 65.000 ribu, tidak dapat makan. Jadi sebaiknya kita bawa bekal makanan kalau tidak mau kelaparan. Estimasi waktu dari Pelabuhan Sape ke Labuhan bajo sekitar 8-9 jam perjalanan laut. Siapkan fisik, kondisi tubuh harus se prima mungkin.

Selanjutnya kita akan tiba di Labuan Bajo sekitar sore hari, menjelang petang. Sebaiknya bermalam dulu. Terserah ingin bermalam di mana, di pelabuhan atau di penginapan juga bisa. Jika ingin gratis, tentu tidur di pelabuhan adalah pilihan yang terbaik. Soal kemanan saya tidak bisa menjamin. Tapi saya sudah mencobanya—tidur di pelabuhan, beralas matras dan membungkus tubuh dengan kantong tidur. Aman, namun jauh dari rasa nyaman!

Menuju Desa Denge dengan menyewa motor. Harga Rp 75.000 ribu perhari, tidak termasuk bahan bakar. Di kanan-kiri pelabuhan sudah banyak jasa persewaan kendaraan bermotor, jadi kita tidak perlu susah-susah mencari.

Untuk menuju Desa Denge usahakan berangkat sepagi mungkin. Kira-kira jam enam pagi, agar sampai Desa Denge tidak terlalu malam dan bisa langsung treking ke jalan setapak menuju Kampung adat Waerebo. Estimasi waktu dari Labuhan Bajo ke Desa Denge sekitar 7 jam. Dan untuk treking dari Desa Denge ke Kampung Adat Waerebo kurang lebih 4-5 jam, tergantung kondisi fisik.

Apa yang harus di lakukan ketika sampai di Waerebo?

Jika sudah sampai di Kampung Adat Waerebo, jangan lupa membunyikan kentongan di pos sebelum masuk kampung. Karena ini sangat penting agar tetua adat bisa menyambut kedatangan kita dan segera memulai upacara. Kemudian siapkan uang seikhlasnya untuk syarat upacara Waelu’u—saya memberi uang Rp. 20.000 ribu ke tetua adat.

Biaya untuk menginap di kampung Waerebo Rp 325.000 ribu. Jika tidak menginap Rp 225.000, termasuk makan dan suguhan kopi asli Waerebo. Cukup murah dan sebanding dengan apa yang kita dapat. Waerebo bukan hanya soal keindahan dan keunikan, tapi lebih jauh dari pada itu, sangat istimewa. Kalau menganggap ini mahal, mungkin karena belum tahu kondisi disana bagaimana dan seperti apa. Untuk pembayaranya bisa kita berikan saat kita pulang.

Kemudian yang paling penting, hargailah peraturan yang ada. Patuhi, karena kita hanyalah seorang tamu. Nah, itu saja sedikit info dari saya. Kalau ada yang kurang jelas bisa langsung tanya sepuas-puasnya di kolom komentar. Dan kalau berkenan, baca juga tulisan cerita perjalanan saya “Menengok Pedalaman Flores, Kampung Adat Waerebo Yang Mendunia”. Semoga membantu dan bermanfaat. Terimakasih.

*Catatan

~Penginapan paling murah Rp 35.000 ribu (penginapan nelayan) depan pelabuhan, labuan bajo.

~Bensin eceran Rp 15.000-20.000 ribu per botol. Pom SPBU sering tutup dan jarang ada.

~Harga makan paling murah satu porsi rata-rata —Rp 15.000 ribu.

~Kapal Feri Labuan bajo – Sape, berangkat satu kali dalam sehari.

Rachel Dunn