Site Loader

Sedikit berdebar rasanya menyusuri Sungai Pute dengan perahu selabar pantat. Gerakan tubuh apapun akan membuat perahu bergoyang ke kanan-kiri ingin terbalik. Nikmatnya, mata termanja oleh perbukitan Karts yang menjulang di semua sudut. Dan ada lagi, air sungai hijau tosca yang sewarna dengan tumbuhan di wajah tebing itu. Memukau!

Sawah kering, empang, pohon-pohon kelapa, dan beberapa rumah panggung adalah pemandangan pertama ketika saya tiba di kampung Berua. Kampung yang terisolasi perbukitan Karts megah, bahkan Karts yang terbesar kedua di dunia.

Setibanya, Bang Sapar pemilik perahu menjamu saya di balai-balai samping rumahnya. Kopi hitam dan pisang goreng cepat ia hidangkan di atas kursi bambu. Tidak lupa, bantal beserta guling juga ia bawa dari dalam rumah. Dan segera mempersilahkan saya untuk beristirahat di balai-balai beratap ijuk ini. Udaranya segar!

‘Bermalam saja disini, besok pagi kita pulang’. Bang Sapar mulai membuka percakapan. Secepatnya saya putuskan penawaranya, karena beliau sebentar lagi akan kembali ke Ramang-ramang menjemput tamu dari Makasar.

‘Baik, saya akan bermalam disini jika tidak merepotkan’. Ucap saya ke Bang Sapar — tanpa tahu bagaimana nantinya saya akan makan, tidur dan mandi dimana, atau buang hajat. Tadi, tanpa sengaja saya melihat seseorang sedang sibuk mandi di samping sumur — sepuluh meter di belakang balai-balai ini. Tidak ada penutup sama sekali disana, cukup satu pohon kelapa yang menjadi penghalang pandangan. Tubuhnya di balut kain sarung sebatas dada. Aha, Mungkin nanti saya juga akan mandi seperti itu. Mungkin.

‘Mari kita makan dulu kak, sudah saya siapkan’. Teriak ibu dari atas rumah panggung. Sementara saya masih meringkuk malas di atas balai-balai, masih mengantuk. Saya mencoba menyadarkan diri sebentar, memandangi sekitar bahwa rupanya sore sudah berganti gelap. Untungnya bulan merekah, bintang bertebaran di langit manapun. Jadi nanti saya tidak akan terlalu membutuhkan alat penerangan ketika tidur malam di balai-balai.

‘Bang Sapar belum kembali mbak?’ Tanya saya.

‘Beliau akan pulang hari minggu, katanya masih mengurusi pekerjaan’. Jawab istri Bang Sapar.

‘Lalu besok siapa yang mengantar saya kembali ke Ramang-ramang’?

‘Ada, nanti keponakan saya yang mengantar’. Sahut ibu Hasnah, mertua dari Bang Sapar.

Se kranjang nasi, sayur lodeh, lauk somay dan telur rebus bumbu sambal kacang sudah terhidang di ruang tamu. Siap di santap, di bawah bola lampu redup yang bersumber dari energi matahari. Di rumah ini belum ada listrik yang langsung dari perusahaan listrik negara. Penerang ruangan hanya ada saat malam hari.

Setalah selesai makan, di depan teras berlantai kayu, saya mengobrol dengan Ibu Hasna. Sementara istri Bang Sapar masih menidurkan kedua anaknya di ruang tengah. Si Dwi dan Adelia. Gadis lucu yang masih berusia tiga tahunan. Di ayunkan pelan-pelan sebuah kain yang di gantung menyerupai hammock. Disana Adelia di timang-timang sambil di nyayikan lulaby oleh ibunya. Dwi masih belum mau tidur, masih nyerocos sendiri dengan bahasa bugis yang tidak saya mengerti.

‘Disini tidak ada listrik, tidak ada colokan buat mengisi baterei handphone, kalau mau isi baterei disana ada, rumah kakak saya’. Ujar Bu Hasna, sambil menunjuk rumah yang terang benderang di tengah sawah. Kakak Bu Hasnah adalah seorang tetua di kampung ini. Mereka sudah punya televisi, pompa air listrik dan sepetak ruang untuk mandi.

‘Mau memasang listrik sendiri ya mahal, saya tidak punya uang, perlu tiga juta rupiah untuk mengurusnya’. Sambung Bu Hasna lagi sambil menggendong cucunya Dwi yang belum mau tidur.

Wajar kalau mahal untuk seorang Bu Hasna. Beliau keseharianya menjual roti goreng keliling. Penghasilanya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap pagi beranjak jauh dari rumah. Dari sini ke Ramang-ramang jaraknya kurang lebih memakan waktu setengah jam dengan menggunakan perahu. Bisa juga berjalan kaki dan tentunya akan lebih lama lagi, menerobos batuan Karts yang tajam seperti karang.

Beberapa bulan yang lalu, Kampung Berua di datangi Gubernur Sulawesi Selatan. Pemerintah mengadakan acara pesta rakyat disini, sambil membagikan hewan ternak unggas seperti bebek untuk warga Desa. Setiap rumah mendapatkan rata lima belas ekor. Untuk bantuan pemasangan listrik masih belum ada. Ujar Bu Hasna.

Sebenarnya disini juga akan di bangun jalan oleh pemerintah, supaya akses lebih mudah dan kendaraan bisa masuk ke Kampung. Tapi pihak Dinas Pariwisata melarang, dan Banyak juga Mahasiswa yang mendukung tindakan Dinas Pariwisata. Akhirnya.proyek itu tidak terwujud. ‘Biar saja Kampung ini tetap alami dan apa adanya, seperti pertama kali nenek moyang mendiami tempat ini’. Tukas istri Bang Sapar.

Bu Hasna menyuruh saya untuk kembali lagi jika saat musim hujan. Di sini akan tampak lebih indah, semuanya hamparan hijau, kecuali empang. Tapi, Empang pun akan terlihat sama cantiknya, bening, layaknya air danau di atas gunung. Jika saat banjir, pemetang sawah yang menjadi jalan setapak bisa jadi tidak terlihat karena tergenang air.

‘Kamu bisa naik perahu keliling empang’. Kata Ibu Hasnah sambil tertawa terkekeh.

Jam empat pagi, dan masih buta, saya dibangunkan angin dingin yang menampar tanpa henti di atas balai-balai tak berpenutup apapun. Tanpa sadar pula, sleeping bag yang saya kenakan ternyata melorot sampai mata kaki. Alhasil, sekujur tubuh jadi santapan empuk nyamuk sawah. Ahh!

Suara adzan shubuh pun mulai terdengar. Sumber suara itu berasal dari mushola kecil di dekat dermaga Kampung Berua. Saya seperti berada pada ruang akustik raksasa. Lantunan ayat-ayat sucinya begitu menggema. Bahkan, Karts yang mengelilingi pemukiman kecil ini terasa bergetar — di tabrak-tabrak suara sang pengumandang. Sungguh syahdu.

Dan mumpung masih gelap, waktunya bagi saya untuk meniru adegan mandi seperti yang saya lihat kemarin sore. Mandi berjongkok, tanpa berselimut sarung!

Maros, 27 Oktober 2015

*Catatan untuk menuju Kampung Berua.

~Dari Bandara Hasanudin naik Gojek keluar jalan poros Makasar – Pangkep, Rp 10.000.

~Naik Pete-pete/angkutan menuju pertigaan pabrik semen Bosowa, Rp. 10.000.

~Naik ojek ke dermaga 2 Ramang-ramang Rp 10.000.

~Perahu dari Ramang-ramang ke Kampung Berua, Rp 200.000. (Share cost).

Rachel Dunn