Site Loader

Tepat pukul setengah enam sore saya tiba di perairan Pulau Kalong, setelah mengunjungi Pulau Padar, Taman Nasional Pulau Komodo, NTT. Matahari juga sedang cantik-cantiknya, dengan bias warna orange lembut yang berusaha menghilang ke bagian bumi lain. Tidak ada sedikit pun ombak yang menggoyahkan perahu-perahu, terasa tenang saat jangkar perahu mulai terlempar tenggelam ke dasar laut dan mesin di matikan. Sore itu rasanya seperti berada di luar negeri. Setiap mengarahkan mata pada perahu yang terparkir, sembilan puluh persen semuanya adalah wisatawan asing.

Duduk di atas dek adalah hal paling seru ketika menunggu gelap tiba. Dengan mata telanjang, saya menyaksikan siluet ribuan kalong beterbangan. Lain hal si bule yang berdiri di seberang sana, di atas Kapal Phinisi. Mereka berbaris rapi mengantri menunggu giliran memakai teropong untuk menerawang kalong di langit senja.

Matahari tuntas menunaikan tugas utamanya, jingga sudah lenyap di makan malam. Para kalong berbondong-bondong hijrah ke barat dari tempat asalnya. Begitupun juga para penyelam di kanan kiri perahu yang segera naik lagi ke dek, nampaknya mereka sudah kelelahan mengintip biota laut.

Teriakan Kanzul kawan saya dari ruang bawah terdengar jelas, karena angin hanya sepoi-sepoi, tidak riuh dan gaduh seperti siang tadi. Dua gelas minuman hangat yang di bawa Kanzul saya jemput di ujung tangga. Segelas kopi pahit, dan satu lagi teh hangat. Lengkap dengan cemilan yang di bawakan oleh Bu Nita. Baru sekali ini saya merasakan ketenangan di laut, tanpa suara mesin, hanya suara ombak kecil yang menabrak tubuh perahu. Mungkin akan hening untuk sepuluh jam ke depan.

Malam ini bulan bersahabat, bintang satu-persatu bermunculan. Cahayanya menabrak permukaan air, menjadikan laut bagai cermin. Memang lebay sih, tapi begitulah adanya. Saya meluapkan suka cita ini dengan perenungan dan berucap syukur, di atas dek perahu sambil sesekali menengadah ke langit-langit.

Jam tujuh malam lebih sudah terlewati. Teriakan Pak Azar dari bawah membuyarkan lamunan saya. Beliau menyuruh saya agar segera turun untuk makan malam bersama. Satu-persatu apa yang tersaji di meja sudah siap untuk di santap, hingga mengurungkan niat saya untuk mandi terlebih dahulu. Kemudian kami saling berucap selamat makan.

Hidangan malam ini kelihatan lebih istimewa dari pada siang tadi. Menu nasi putih hangat, sayur cah kangkung, lauk ayam goreng, cumi-cumi, udang lobster dan lengkap dengan sambal tomat gurih. Belum juga habis, Bu Nita sudah menyuruh kami semua untuk nambah lagi. Kemudian juru masak ABK menghampiri di meja makan, menanyakan apakah masakanya enak.

Kompak semua menjawab “Nikmat mas”, “bumbunya pas”, sahut kedua anak Bu nita si Rahul dan Raisa.

Buah melon dan semangka menjadi penutup makan malam sekaligus pencuci mulut. Bu Nita kemudian mulai bercerita lagi saat mendaki Gunung Rinjani bersama Pak Azhar sewaktu masih kuliah. Banyak pengalaman-pengalaman yang di dapatkanya ketika melakukan perjalanan. Hampir tiga kali dalam setiap tahun mereka mencumbui satu persatu puncak gunung di Indonesia. Seru, dan saya sangat antusias mendengar ceritanya.

“Kalau sekarang ya naik gunung-gunungan macam bukit di Pulau Padar tadi nggit, sudah tidak kuat lagi kalau harus jalan kaki berhari-hari”

Ucap Pak Azhar kepada saya.

Saya akui, semangat mereka berdua memang benar-benar luar biasa. Meskipun sudah berumur, semangat travelling untuk mengunjungi tempat-tempat indah di Indonesia seperti tak pernah padam. Katanya tahun depan mereka ingin berkunjung ke barat Papua yaitu Raja Ampat.

Ya mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi disana Pak, Bu, di Raja Ampat.

Sahut saya dengan setengah meringis, dan beliau kemudian meng-Amini.

Tidak lupa saat itu pula saya menawarkan ke beliau untuk mampir ke Kampung Adat Waerebo setelah selesai trip ini. Ketika saya memperlihatkan foto dan sedikit bercerita tentang Rumah Mbaru Niang dan Waerebo, Bu Nita dan kedua anaknya sangat tertarik. Sayangnya Pak Azhar sudah membeli tiket pesawat untuk lusa. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka akan tetap kesana tetapi tidak bermalam di Mbaru Niang agar paginya bisa mengejar jadwal pesawat.

Angin mulai menerpa perbincangan. Tidak terasa hingga larut malam kami mengobrol panjang lebar di teras kapal sambil menyeruput teh hangat. Bu Nita, Pak Azhar dan kedua anaknya kemudian berpamitan untuk istirahat ke kabin. Saya pun bergantian dengan Kanzul menuju kamar mandi untuk menghilangkan rasa lengket di badan dan segera beristirahat. Masih ada perjalanan di esok hari menuju Loh Liang, Pulau Komodo, Pantai Pink dan Manta point.

Rachel Dunn