Site Loader

Jam setengah enam pagi, hujan masih mengguyur Desa Balikterus. Saya mengintip pagi dari cendela, persis di atas tempat saya meringkuk beralas karpet dari semalam. Mendung berwarna kelabu, tapi tidak merata. Pas, mendukung rasa malas untuk memulai aktivitas hari ini. Terlalu pagi.

Alarm yang saya siagakan untuk membangunkan saya jam lima tadi tidak terdengar. Apa saya yang terlalu pulas tertidur karena lelah keliling desa dan naik gunung. Apa saya keliru mengatur alarm jam lima sore?. Tapi ternyata tidak. “Alarm kamu tadi aku matikan”, terlalu pagi katanya. Ucap Kiki. Ahh, pantas saja.

Pak Hasan sudah sibuk dengan kegiatanya. Maya dan Ibunya sepertinya sedang memasak. Beberapa menit kemudian Maya membawa dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng. Suguhan sarapan untuk saya dan Kiki. Tidak ada kalimat lain selain terima kasih, terima kasih dan terima kasih kepada keluarga Pak Hasan. Sudah mau memberi tumpangan tidur dirumahnya, dan pagi ini repot-repot menyiapkan hidangan yang pas saat turun hujan.

Tanpa mandi, jam tujuh saya lekas merapikan diri dan memasukan barang-barang yang berantakan ke dalam ransel. Kemudian segera berpamitan dengan keluarga Pak Hasan. Mumpung hujan sudah sedikit reda. Sekali lagi saya berucap kepada beliau “terimakasih”. Seketika senyumnya mengembang mengantar kepergian saya. “Mampir-mampir lagi kesini kalau ke Bawean”, Maya menyahuti lagi yang terakhir.

***

Sudah satu jam lebih saya keliling di sekitar Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Tujuan saya mencari makan, karena sedari kemarin perut belum terisi nasi. Tapi nihil, warung-warung makan sejak kemarin masih belum buka juga. Orang-orang di Pulau Bawean masih merayakan hari besar Maulid Nabi, hampir semua orang libur kerja. Saya menyerah, dan terpaksa harus menelan mie instan lagi sebagai sarapan.

Jam Sembilan pagi saya tiba di depan gang pelabuhan kecil Desa Pamona untuk menuju Pulau Gili Noko. Sudah ada beberapa orang yang menunggu keberangkatan perahu disana. Kata Bu Haji Sulaimah; pemilik tempat parkir kendaraan di seberang jalan, perahu akan berangkat jam setengah sebelas, berangkat ketika orang-orang penghuni Pulau Gili Noko pulang dari pasar di Sangkapura.

Perahu beroprasi sehari sekali dari Pulau Gili Noko. Berangkat pagi sekitar jam tujuh dan sudah pasti akan kembali lagi ke pulau jam sebelas—paling siang. Untuk menumpang perahu ke Gili cukup membayar Rp. 15.000. Ada alternatif lain, yaitu dengan sewa boat seharga Rp 400.000, pilihan terbaik bagi para wisatawan yang berangkat dengan rombongan banyak. Tidak baik di kantong: bagi saya yang hanya berangkat berdua.

Bu Haji menyuruh saya duduk menunggu penumpang lain di tokonya. “Sebentar lagi juga pulang orang-orang yang dari pasar, nanti mas bisa langsung berangkat ke Gili”. Ujar Bu Haji. Beliau juga menanyakan apa saya akan menginap disana, katanya “bilang saja mas teman anak saya yang kuliah di Gresik, semua orang disana keluarga saya, saya kenal semua, bilang juga sama orang di gili dengan bahasa Bawean, ingsun bedhe nginepa ka Gili : Saya bermalam di Pulau Gili”, perintah Bu Haji, sebagai ijin kalau ingin bermalam disana.

Saya menirukan bahasa yang baru saja beliau ucap “ingsun bedhe nginepa ka Gili”, Bu Haji seketika tertawa gemas mendengarnya.

Beberapa rombongan tiba di depan pelabuhan. Mereka menggunakan mobil pickup yang di modifikasi, ini adalah angkutan umum di Pulau Bawean. Tidak ada trayek pasti, mobil ini hanya mengantar kaum wanita di desa-desa untuk pergi ke pasar setiap pagi. Seperti mobil antar jemput, dari rumah ke rumah menuju pasar.

Ternyata, yang datang bukan orang-orang Gili Noko, melainkan rombongan keluarga mahasiswa yang baru saja lulus dan mengikuti program “Indonesia Mengajar” di pulau ini. Mereka keluarga Mas Danu dari Bandung, peserta guru Indonesia Mengajar. Ini adalah keburuntungan saya di Pulau Bawean, setalah Bu Haji mengenalkan saya kepada Mas Danu dan Mbak Nursida; yang juga peserta guru Indonesia Mengajar. Bu Haji menitipkan saya ke Mas Danu supaya bisa ikut perahu mereka ke Gili Noko. Dan tentunya gratis, sampai saya sungkan sendiri, hanya bisa mengucap beribu terimakasih ke Bu Haji dan Mas Danu Sekeluarga.

Mbak Nursida bertugas mengajar di Pulau Gili, dia yang menjemput kami di Pelabuhan bersama rombongan. Pelabuhan kecil, di samping kanan kirinya ribuan pohon bakau menggantung di atas akar. Kebetulan laut sedang surut, karang-karang yang menyembul bisa di lihat dari sini, membentuk garis pantai yang memanjang jauh. Sebelum naik perahu, kami harus berjalan dahalu agak ke tengah, melawati pasir pantai berlumpur yang kedalamanya hampir sepinggang orang dewasa.

“Perahu tidak bisa merapat ke dermaga karena laut sedang surut, bisa-bisa kandas kalau sandar disini”, ucap Pak Zainal si pemilik perahu klotok.

Sesampai di Gili Noko, kami di peristirahatkan Mbak Nursida di rumah Pak Zainal. Rumah ini juga yang menampung pengajar relawan. Di pulau ini tidak ada listrik dari PLN, hampir 300 rumah menggunakan energi matahari sebagai penerang ketika malam menjelang. Tidak ada motor dan juga mobil, yang saya rasakan; hening dan damai. Semua halaman rumah di genangi pasir pantai yang lembut. Untungnya, sumber air disini melimpah ruah, walaupun kadang berasa sedikit payau. Sebenarnya Pulau Gili dan Noko menyambung menjadi satu, tapi saat laut pasang, pulau ini terbelah tersekat air, tapi masih bisa dilalui dengan berjalan kaki. Pulau kecil yang sangat cantik, berpasir putih dan air laut di pantainya yang berwarna hijau tosca akan menggoda siapa saja untuk menceburkan diri ke kedalamnya—termasuk saya.

Pak Zainal bercerita ke saya, di atas balai-balai depan rumahnya. Disini mulai ada penyelam pencari ikan kerapu, punya alat lengkap seperti alat-alat diving, dan itu meresahkan bagi pemancing ikan warga Gili. Entah dari mana asal penyelam itu, yang pasti bukan dari sini.

“Kalau sudah ada penyelam yang cari ikan di malam hari, kami yang memancing dengan kail tradisional, jadi jarang dapat ikan Kerapu merah dan Lobster”. Ujar Pak zainal.

Pasir timbul Noko ada disana
Pasir timbul Noko ada disana

Mereka, warga Pulau Gili jelas tidak suka menangkap ikan dengan cara seperti itu. Warga disini mayoritas ekonominya menengah ke bawah, mana mungkin bisa beli alat-alat menyelam yang mahal, lagi pula menangkap ikan harusnya seperlunya saja, tidak usah berlebihan. Pak zainal menerangkan.

Harga Ikan kerapu merah memang sangat mahal, apalagi saat menjelang Imlek, harganya bisa mencapai tiga kali lipat. Harga yang paling murah dari pemancing, Rp 200.000 ribu per kilo, bisa mencapai Rp 800.000 ribu – 1 juta. Harga yang fantastis. Ikan Kerapu merah biasanya di kirim ke luar negeri, ke negara yang mayoritas merayakan hari raya Imlek.

Harapan Pak Zainal dan warga disini, semoga pemerintah memaksimalkan pembangunan di sektor pariwisata. Pulau Bawean punya potensi yang sangat bagus di bidang ini, semua ada, mulai dari pantai, gunung, danau, air terjun, taman bawah laut beraneka ragam tumbuhan dan juga bukit-bukit cantik. Sayang sekali bukan, kalau ini tidak di manfaatkan. Kalau pemerintah bisa memajukanya dengan maksimal, setidaknya nanti akan bisa mendongkrak ekonomi warga Pulau Bawean. Semoga Bandar udara disini juga lekas di operasikan. Peresmian juga sudah, tunggu apa lagi?

Acara saya selanjutnya beserta para rombongan adalah makan-makan dan berlanjut snorkling di tepian pulau Noko. Hari penuh keberuntungan, mendapat teman baru dan keluarga baru.

Aha! dan akhirnya perut saya terisi nasi juga, setelah dua hari melilit perih. Saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Mas Danu, Mbak Nursida, Pak Zainal, dan Bu Haji Sulaimah.

Rachel Dunn