Site Loader

Gunung dimanapun selalu terlihat memesona. Hijau. Gumpalan awan. Berapi. Berpasir garang. Bunga-bunga abadi yang memamerkan kecantikan. Dengan lembah luas dan padang savana, siapa yang tak di buat jatuh cinta? Gunung juga kapan saja bisa menjadi pembunuh masal, menelan, meluluh lantakan tak kenal kompromi. Gunung: cantik, sekaligus mematikan.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Gunung Kelud untuk sekedar piknik. Jujur, saya penasaran bagaimana wajahnya sekarang setelah dua tahun lalu Dia marah besar, jelas berubah wajah.

Ingatkah tanggal 13 Februari 2014, hari pertama saat Kelud erupsi di tahun itu? Seumur hidup baru sekali ini saya melihat bencana gunung meletus begitu dahsyatnya. Malam harinya, di Kota Surabaya semua orang mengeluh karena debu. Tak disangka, ternyata abu vulkanik Kelud yang saking banyaknya terlontar ke angkasa tertiup sampai ibukota. Foto debu dan abu menjadi trending di semua beranda medsos. Debu juga menjadi media bagi semua orang untuk mencurahkan rasa keprihatinan yang mendalam bagi korban yang terdampak. Menulis dengan mencolok telunjuk tangan pada tumpukan debu di kaca-kaca mobil atau di lantai rumah misalnya, semua bertuliskan “Pray For Kelud”.

Pagi ini saya mengingat kondisi Desa Laharpang saat erupsi Kelud pada hari ke enam, kebetulan waktu itu saya berkesempatan mengantar donasi bantuan dari aliansi pemuda di kota saya untuk di berikan ke warga korban bencana Kelud. Hampir dua tahun lalu, kota tempat bersemayamnya si Kelud ini banjir debu. Di radius tiga kilometer, kerikil dan batu muntahan yang besarnya hingga sekepal genggaman tangan itu menjebolkan seluruh atap-atap rumah. Genteng remuk, kaca-kaca  pecah, halaman rumah jadi kolam batu kerikil.

Ahh…begitu menyeramkan suasana sore itu. Kepulan asap yang keluar dari perut Kelud seolah menyundul-nyundul langit. Warnanya hitam pekat. Langit mendadak kelabu. Hujan mengguyur. Pemukiman seketika jadi desa mati. Hanya ada seliweran relawan dijalanan membantu bapak-bapak memunguti barang yang sekiranya berharga. Buru-buru kemudian pak polisi segera mengisolasi desa sambil setengah berteriak dengan pengeras suara megaphone.

“Banjir lahar…Banjir lahar datang”. Teriaknya. Suara lahar saya dengar, dari hulu sudah bergemuruh semakin mendekat.

Di titik-titik kota yang di anggap lebih aman didirikan tenda-tenda  pengungsi. Di Masjid An Nuur Kota Pare misalnya, ratusan pengungsi akan tinggal sementara disana. Serba hiruk pikuk. Para relawan kemanusiaan sibuk dengan apa yang harus di kerjakan. Sebagian pak tentara sibuk mendirikan toilet portebel di halaman kosong belakang masjid. Pak polisi sibuk mengatur lalu lintas yang semerawut. Pengguna jalanan rata menutup hidungnya dengan masker. Para warga yang terdampak bencana? saya tidak tega melihat, hanya ada tatapan kosong yang tak bisa di sembunyikan di raut wajah. Kadang panik, ada juga yang pasrah tergeletak lemas di teras masjid. Tua, muda jadi satu.

Gunung Kelud, walau tak setenar dan setinggi tetangganya seperti Semeru, namun Dia tak pernah segan untuk melumat apapun di sekelilingnya. Dari sejarah letusan gunung-gunung di Jawa Timur, Dia lah raja dari segala letusan berapi. Letusan 2014 telah di deteksi oleh badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan di tanggapi dengan peningkatan status menjadi Waspada (Level II). Pada tanggal 10 Februari status meningkat menjadi Siaga (Level III). Semua media menyuarakan Letusan Kelud kali ini memang paling dahsyat dibanding letusan pada tahun 1990. Kelud, selalu dahsyat mencipta kemelut.

Dua tahun yang lalu adalah masa-masa kelam dan memprihatinkan bagi warga yang tinggal di lereng Gunung ini. Dampak yang luar biasa sangat dirasa, bukan hanya di Kota Kediri, Blitar, Malang dan tetangga-tetangganya. Jauh ke barat hingga ratusan kilo meter seperti Provinsi Yogyakarta, Solo, Jawa Tengah dan Jawa Barat juga kena imbas. Penerbangan batal, kesana batal, kesini batal: landasan pesawat banjir debu. Bahkan, debu mungkin mampir juga ke Bali jika angin bertiup ke timur. Kelud, tak akan pernah bisa di lupa ganasnya.

Kawan saya yang se kota dengan Kelud pernah bercerita. “Kalau hewan-hewan seperti Babi, celeng, Kera, dll, dari hutan Gunung Kelud turun ke pemukiman, itu  adalah pertanda Kelud akan erupsi, dan kekuatan letusanya bakal tidak main-main”. Hal semacam ini sudah di percaya oleh masyarakat yang bertinggal di kawasan Kelud sejak lama. Sirine yang diciptakan sendiri oleh semesta. Ada peringatan, akan segera ada bencana yang ditimbulkan si Mahagunung Kelud.

Yang kelam sudah tekubur dalam. Kelud dan kecantikanya kini memberi cahaya asa pada setiap nafas kehidupan. Kelud, kembali bangkit menjadi primadona pariwasata Kediri. Warung-warung makan menu pecel hemat seharga lima ribuan sudah satu-persatu berbaris di depan parkiran mobil yang baru. Juru potret dan penjual kaset DVD video perubahan Gunung Kelud dari masa ke masa terus bersemangat menawarkan dagangan dan jasanya. Kunjungan wisatawan pun perlahan mulai membanjir, seolah menemukan ke eksotisan wajah baru Gunung Kelud. Pembangunan mulai berjalan. Alat-alat berat di turunkan ke lereng-lereng yang  rencananya akan di bangun jalan menuju kawah.

Pagi ini begitu cerah. Lima tahun lalu saya berdiri disini. Melihat matahari pagi bergumul dengan kabut. Menikmati dingin yang selalu memikat hati si pecinta gunung. Yang paling seru juga ada, menerobos terowongan raksasa gelap yang sekarang terkubur entah dimana. Berendam di sumber air panas yang banyak sekali ularnya itu, yang kini kolamnya pun lenyap tertimbun pasir coklat. Dan yang tidak terlewatkan adalah berjalan menyusuri ratusan anak tangga demi menjejak kaki di puncak sana. Walaupun kini beda rupa, Dia yang paling terdahsyat di tanah Jawa Timur: Kelud.

Rachel Dunn