Taman Sari Dan Pelukis Kaos Sanggar Kalpika

Sudah beberapa hari saya di Yogyakarta, tapi baru di hari ke empat ini saya jalan-jalan ke tempat wisata. Ya, dihari sebelumnya saya hanya tidur, makan, kemudian ngopi di angkringan hingga larut malam. Hanya dengan itu saya menghabiskan waktu.

Ini liburan, atau pindah tidur? Yang jelas semuanya tanpa perencanaan apapun.

Memang, sebelumnya saya tidak punya rencana untuk berkunjung ke Yogja. Semuanya serba spontan, berfikir semenit pada saat itu juga, dan satu jam kemudian saya sudah berada di terminal. Saya ke Yogja naik bus.

Lorong Taman Sari
Lorong Taman Sari

***

Mendung tipis abu-abu bergelanyut di langit kota. Gerimis sebentar, kemudian tertahan dan menghilang. Bagus. Cuacanya enak, tidak panas. Cocok sekali untuk jalan-jalan saat bulan puasa. Saya cepat-cepat melajukan motor ke arah Taman Sari. Cukup sepuluh menit perjalanan dan akhirnya saya sampai di parkiran.

Suasana Taman Sari sepi karena sudah jam tiga sore. Seperti yang sudah saya lihat di internet, bahwa Taman Sari tutupnya sekitar jam setengah empat. Berarti saya punya waktu setengah jam untuk berkeliling di bangunan cagar budaya ini.

Di Yogja, entah kenapa saya lebih tertarik menikmati suasana kotanya dibandingkan ke wisata alam. Menyusuri jalanan dan mengagumi eksotisnya bangunan tua adalah suatu hal yang paling menarik jika berkunjung ke kota budaya ini. Atau, sekedar nongkrong menyantap kudapan jajanan angkringan.

Sederhana saja untuk menikmati Jogja. Sesederhana kehidupan masyarakatnya.

Lorong pertama saya lalui dengan rasa terkagum-kagum. Maklum, walaupun sering ke Yogja, tapi baru pertama ini saya ke Taman Sari.

Pintu setinggi pundak itu saya lewati dengan posisi merunduk. Saya bisa membayangkan betapa orang dahulu sangat memikirkan pengajaran tata krama. Bisa di tafsir maknanya, bangunan ini selalu mempunyai ukuran pintu yang sangat rendah. Berarti, setiap masyarakat dahulu yang masuk dalam kerajaan ini harus merunduk, menunduk kepada raja. Sopan, anggun, dan santun.

Kebiasaan itu sepertinya melekat ke masyarakat Yogja hingga kini. Terbukti jika mereka terkenal ramah, sopan, dan tutur katanya yang halus.


Lorong-lorong berwarna kuning mangkak kecoklatan terus saya jelajahi. Berpindah dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Keluar masuk pintu yang bentuknya rupa-rupa. Ada yang mengerucut mirip pengimaman masjid, ada yang kotak-kotak biasa.

Kekaguman saya tentang bangunan kuno disini tiada pernah selesai. Mata saya terus mengukur setiap ketebalan tembok yang begitu kokoh. Tangga-tangga cantiknya apalagi? Bagus arsitekturnya, sampai-sampai pengunjung rela antri berfoto diatas tangga itu.

Terlintas sebentar fantasi saya tentang kehidupan jaman dahulu di tempat-tempat seperti ini atau di candi-candi. Apakah mirip pertunjukan Sendratari kolosal yang pernah saya lihat? Dengan pemeran wanita yang cantik jelita, pria yang gagah perkasa mengenakan pakaian adat masa lalu. Ahh, seru sekali sepertinya kehidupan jaman dahulu.

Di Taman Sari, saya melihat beberapa pemuda tengah sibuk dengan peralatan melukisnya. Tepat di pintu keluar bangunan pertama. Mereka tampak fokus meliuk-liukkan kuas kecil diatas kaos oblong polos yang sudah bergambar. Setengah jadi.

"Ini Sanggar Kalpika, mas, kalau mau lihat-lihat karya lukis kaos silahkan saja masuk" Seseorang paruh baya menginformasi ketika saya sedang mengamati apa yang dikerjakan pemuda disini. Beliau adalah guide di Taman Sari.

Puluhan kaos lukis beraliran Picaso atau kubisme yang sudah siap di jual ini dipajang rapi. Di tempel pada dinding-dinding gallery Kalpika. Kaos lengan pendek, singlet, dan bahu panjang juga ada. Pilihan warnannya banyak.

Yang menarik, dalam lukisan ini rata-rata tidak terkonsep. Si pelukis tidak merencanakan tema apa yang di usung. Semua serba improvisasi. Imajinasi liarnya berjalan sendiri ketika kuas dan cat menari di permukaan kaos. Tanpa sketsa.

Berbagai racikan cat di letakkan di atas nampan berlubang-lubang kecil. Berbagai warna. Siap dipoleskan ke sasaran. Begitu liheinya si pelukis. Tangan kiri memapah kaos yang dibalutkan ke triplek sebagai alas, tangan kanannya beraksi dengan kuas. Hebat. Di jari kirinya tadi juga masih terselip rokok kretek. Sesekali ia hisap.

Santai, tapi sedikitpun tak mengurangi estetikanya.

"Melukis kaos seperti ini juga butuh cuaca bagus. Kalau mendung, keringnya lama, bisa sampai tiga hari selesai" Ujar si pelukis yang saya lupa siapa namanya. Padahal sudah saya catat di draf, tapi hilang.

Rata-rata pelukis kaos di Sanggar Kalpika adalah pemuda asli dari kampung ini. Dari Taman Sari. Dan katanya, semuanya otodidak. Belajar dari sekeliling, mengamati, dan kemudian berkarya.

Harga kaos lukisnya variatif. Tergantung tingkat kerumitan. Semakin rumit semakin lama pengerjaannya. Semakin mahal harganya. Harga dari kaos lukis ini ditarif paling murah 250 ribu. Pembeli juga bisa memesannya terlebih dahulu jika ingin memilih warna dasar kaos.

Karya lukis dari pemuda Sanggar Kalpika ini juga sudah tembus sampai mancanegara. Bukan hanya kaos, seorang wisatawan bule juga kerap memesan kain lukis untuk dekorasi rumah.

"Yang di jemur itu pesanan dari Belanda, mas" Ucap si pelukis. Kain selabar kurang lebih dua meter yang di jemur itu bergambar penari tradisi. Walaupun lukisan tersebut masih setengah jadi, tapi sudah tampak elok dengan segala pernak-pernik dan busananya.

Bagaimana, apa anda tertarik ingin memilikinya? Jika anda tertarik silahkan berkunjung ke Sanggar Kalpika, Taman Sari, Yogyakarta.

***


Jam empat lebih. Taman sari sudah sepi, sudah tutup. Saya melangkah keluar menyusuri lorong yang hampir gelap tak tertembus cahaya. Sementara para pelukis di Sanggar masih terus berkreasi. Mencoreti setiap jengkal kosong diatas kaos oblong.

Di balik bangunan yang megah dan beraksitektur indah, Taman Sari memiliki daya tarik sendiri, terutama bagi pecinta seni. Ya, Sanggar Kalpika. Disinilah anda bisa melihat karya-karya luar biasa yang lahir dari tangan-tangan pemuda kreatif.

Yogyakarta, Juni 2016

Cara Hemat Backpacking ke Pulau Bawean!

Ketika posting foto dan menulis cerita tentang Pulau Bawean di sosial media, banyak sekali teman-teman yang bertanya tentang Bawean. Pertanyaanya beragam, mulai dari transportasi, penginapan, destinasi wisata, agen travel, cara hemat kesana, dan kondisi Pulau Bawean itu sendiri.

Jika anda punya rencana untuk berlibur kesana, tidak ada salahnya jika anda melanjutkan membaca artikel ini. Saya akan mencoba memberikan info dan tips backpacking hemat ke Pulau Bawean.

Pulau Bawean merupakan pulau yang masih masuk Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Letaknya berada pada Laut Jawa, sebelah utara Kabupaten Gresik. Mempunyai dua kecamatan, yaitu Sangkapura dan Tambak.


Baca Juga : Gili Noko, Dataran Yang Mengapung Di Samping Bawean

Tentang Pariwisata tak perlu di ragukan lagi. Mulai dari Pantai, pulau-pulau kecil, taman bawah laut, gunung, danau, dan budaya, semuanya lengkap tersedia. Hanya saja mungkin saat ini tempat-tempat wisata tersebut belum mempunyai fasilitas-fasilitas yang memadahi untuk wisatawan. Bisa di kata masih bayi pariwisata, dan masyarakatnya sendiri kurang sadar terhadap potensi pariwisata.

Baiklah, langsung saja kita simak tips traveling hemat ke Pulau bawean.

Transportasi Menuju Pulau Bawean

Saat ini transportasi laut masih menjadi andalan wisatawan untuk menuju Bawean. Tentu saja karena biayanya akan lebih hemat. Dengan membeli tiket kapal Bahari Express Atau Natuna Express sebesar Rp. 146.500,00 untuk kelas Eksekutif dan Rp. 162.500,00 untuk kelas VIP anda sudah bisa sampai di Pulau Bawean. Estimasi perjalanan laut kurang lebih 3-4 jam.

Berikut jadwal keberangkatan kapal laut menuju Pulau Bawean dan tempat pembelian tiketnya:

Jadwal Kapal Bahari Express 

Gresik – Bawean : Selasa, Kamis, Minggu

Bawean – Gresik : Sabtu, Senin, Rabu

Kapal berangkat pukul 09:00

Lokasi Pembelian Tiket :

  • Kantor Bahari Ekspress Cabang Gresik, Jl. Pahlawan no. 36 Gresik, Telp: 031-3983600.

  • Kantor Bahari Ekspress Cabang Bawean, Jl. Dermaga no. 8 Sangkapura, Telp: 0325-422257.

  • Agen PT. Duta Wisata Tour (H. Subki), Jl. JA. Suprapto Gg IV no. 67 Gresik,Telp: 031-3976771 / 081330023582.

  • Agen Penjualan Bawean (H. Fendi), Kebon Laut, Sangkapura, Telp: 082142236333.

  • Agen PT Hikmah Tour Travel (Bpk. Najib), Jl. Dukuh Kupang VI no. 1-3 Surabaya, Telp: 081615011115

Jadwal Kapal Natuna Express :

Gresik – Bawean : Senin, Rabu, Sabtu

Bawean – Gresik : Selasa, Kamis, Minggu

Kapal berangkat tiap pukul 09:00.

Lokasi Pembelian Tiket :

  • Kantor Natuna Ekspres Gresik, Jl. Panglima Sudirman no. 177 Gresik, Telp: 031-3976444.

  • Kantor Natuna Ekspres Bawean, Dermaga Sangkapura depan mini market Indra Jaya, Telp: 081332749731.

Catatan :

Untuk anda yang membawa kendaraan Roda 4 dan Roda 2, anda harus melalui pelabuhan Paciran, Lamongan. Anda bisa menghubungi nomor berikut untuk informasi lengkapnya : 08123176850 (Gresik – Dodot), 081232504371 (Paciran – Herman), 081326726420 (Bawean – Sulaimi).

Danau Kastoba

Penginapan Di Pulau Bawean (Hotel Barokah)

Soal penginapan anda tidak perlu khawatir. Sudah banyak sekali penginapan/ hostel di pulau kecil ini. Tinggal menyesuaikan kantong saja.

Harga penginapan termurah yang saya tahu yaitu seharga Rp. 75.000,00/ malam. Hotel Barokah namanya. Letaknya tepat berhadapan langsung dengan pintu masuk Pelabuhan. Jika anda turun kapal dan keluar pelabuhan, disitu anda pasti akan melihat penginapan tersebut. Dan menurut saya penginapan ini yang paling murah dengan segala fasilitas yang disediakan.

Bagaimana Cara Keliling di Pulau Bawean?

Di Pulau Bawean tidak ada angkutan umum yang selalu beroprasi setiap saat. Ada, itupun hanya mobil pickup yang setiap pagi mengantarkan ibu-ibu ke Pasar Sangkapura. Rutenya juga tidak pasti. Jadi sebaiknya anda menyewa kendaraan motor, atau rental mobil. Dengan membawa kendaraan sendiri tentunya akan lebih mudah dan hemat waktu.

Dimana tempat sewa motor/ mobil? Di penginapan-penginapan Pulau Bawean rata-rata menyewakannya, kok. Jadi anda tak perlu khawatir.

Baca Juga : Pulau Bawean, Begitu Dekat Namun Jauh Tersekat!

Tanjung Gaang

***

Nah, kawan, itulah tadi sedikit ulasan tentang cara menuju Pulau Bawean dengan budget minim. Jika ada yang kurang jelas dan ada yang ingin ditanyakan, silahkan bertanya lewat kolom komentar. Insya Allah, saya akan menjawab semampu saya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan membantu ketika anda berencana mengunjungi Pulau Bawean.

Terimakasih.

Jika anda membutuhkan jasa Guide saat berkunjung ke Pulau Bawean, anda bisa menghubungi nomor berikut : 081230565145 (Ghiast, Tour Guide Bawean)

Hujan Dan Sepotong Kenangan Di Malioboro

Mendung pucat. Langit gelap membungkus atap kota, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Pedagang kaki lima satu persatu meninggalkan trotoar tempat sebelumnya mereka membuka lapak. Sementara di emperan ruko-ruko yang sudah tutup, warung-warung makan lesehan dengan berbagai macam menu (yang mayoritas menyuguhkan Gudeg) mulai buka.

Jalan Malioboro. Setiap kali berkunjung ke Yogyakarta saya selalu menyempatkan melewati jalanan ini. Jalan satu arah yang sibuk dijadikan saksi para palancong, bukti bahwa si pelancong pernah kesini, ke Yogyakarta.

Sumber foto sampul dari http://thepresidentpostindonesia.com

Memang, rasanya belum ke Yogyakarta kalau tidak singgah ke Jalan ini. Apalagi kalau tidak berfoto di plang hijau bertuliskan "JL Malioboro". Walaupun kadang harus antri untuk bisa berfoto dengan latar belakang plang hijau itu, tak menjadi masalah buat wisatawan. Barangkali ini adalah fenomena tren traveling masa kini?

Dari Nol Kilometer saya berjalan sampai ujung, kemudian berbalik arah lagi. Kurang lebih sekilo meter jauhnya. Sesekali mampir menyaksikan sisa-sisa pertunjukan musik jalanan dari beberapa group yang tersebar. Instrumen angklung dan perkusi berbunyi lantang membahana melantunkan melodi dengan ritme yang menghentak. Semelenkolis apapun lagu originalnya, ritmenya tetap dikemas semangat, rancak, membuat penikmat pertunjukan ingin menggoyang pinggul.

Tiba-tiba saja saya terkenang masa-masa liburan saat SMP. Liburan setelah kelulusan sekolah. Dengan tujuan awal ke Candi Borobudur hingga berakhir di jalan ini : Jalan Malioboro. Sebuah cerita tamasya yang tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup tentunya. Apalagi waktu itu adalah kunjungan pertama saya ke Yogyakarta. Menguat lagi kenangan itu dengan adanya buah kisah cinta monyet dari anak remaja tanggung yang sedang berlibur bersama sang pujaan hati. Ehm!

Saya ingat betul memori yang terekam ingatan delapan tahun lalu. Dengan bermodalkan empat chord saja : Em, D, G, C, dengan bangga dan percaya diri saya menyanyikan lagu untuk Dia. Lagu standart untuk pemula yang baru saja belajar gitar. Walaupun eksekusi jari ke dawai kadang terpleset-pleset dengan bunyi yang kurang sempurna, betapa menghayatinya setiap suara dan kalimat yang keluar dari mulut. Entah Dia terhibur atau tidak, yang penting lagu itu seolah-olah saya kirim untuk mewakili perasaan dari hati yang paling dalam.

Di belakang bus dan beralas tikar kami bernyanyi bersama sembari menunggu rombongan ke parkiran. Manusia lalu lalang larut mencari kebahagiaan dan kebutuhannya di sekujur Jalan Malioboro. Rasanya ingin sekali lebih lama disini, tak ingin kembali cepat-cepat ke Gresik, kembali ke rumah kami masing-masing.

Beberapa lagu pop terus bersenandung mengalahkan riuhnya kesibukan kota. Kopi dan beberapa jajanan Angkringan yang sudah di panggang menjadi pelengkap malam itu agar mulut tidak kecut kalau-kalau sudah capek bernyanyi. Ahh, saya juga ingat ada sekilas keinginan yang hinggap waktu itu: "Suatu saat saya akan mengajakmu untuk kembali kesini. Menyusuri jalanan Malioboro, berburu foto bersama di bangunan-bangunan tua cagar budaya, dan tentunya menikmati kudapan nasi kucing di Angkringan pinggir jalan". Batin saya sambil memandangi wajahnya hingga akhir lagu.

Boleh jadi kenangan ini tercipta begitu murah. Gitar, lagu-lagu, tikar, jajanan angkringan adalah alat untuk menciptakannya. Hanya terekam oleh otak, tanpa kamera, tanpa mesin apapun untuk mengabadikan. Hanya "kebersamaan sederhana" dengan dia yang didasari oleh cinta yang membuat kenangan-kenangan masa lalu akan selalu aktual. Tak lekang oleh waktu.

***

Percikan air layaknya debu halus mulai turun ke bumi, menyemut di rambut kepala dan bagian depan wajah. Sudah jam sebelas malam. Langkah manusia di trotoar masih santai tak keburu takut kehujanan. Saya pun juga, rasanya malah menikmati setiap tetes yang jatuh dari langit. Dan lama-lama bukan gerimis lagi, tapi butiran air hujan yang jatuh ke Jalanan Malioboro. Membuat aspal hitam jadi mengkilat oleh bias cahaya lampu-lampu kota.

Sebelum pulang, saya duduk sebentar dibawah Pohon Beringin berdaun rapat yang tidak jauh dari Nol Kilometer untuk sekedar berteduh. Didepan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Dua orang pengamen bergitar di seberang jalan sigap berlari kecil ke arah saya dan segera menyanyikan satu tembang lagu. Dan tak saya sangka, sungguh kebetulan yang luar biasa disaat-saat saya sedang terkenang masa lalu. Lagu yag keluar dari mulut pengamen adalah lagu pertama yang saya nyanyikan untuk Dia delapan tahun lalu disini, di Malioboro : "Menunggumu" By Paterpan feat Chrisye.

Tubuh perlahan basah. Tapi saya menikmati hujan malam ini. Menikmati sepotong demi sepotong lembar kenangan masa lalu di kota budaya Yogyakarta. Di Jalan Malioboro.

Yogyakarta, Juni 2016

Damar Kurung Dan Dekade Sepeninggal Masmundari

Kemarin malam ratusan pelita menggantung indah pada gang sempit Kampung Kebomas, Gresik. Ratusan Damar Kurung yang menghias didalam gang itu dibuat oleh anak-anak sekolah, beberapa Mahasiswa dan komunitas.

Dinding samping rumah pada lorong gang tersebut juga nampak lukisan mural wajah sang Maestro, Masmundari. Temaram, tapi tak sedikitpun mengurangi kemeriahan acara Damar Kurung fest 2016 yang di helet oleh komunitas pemuda Gresik itu.

Foto by Nashry Adi Habiby

Kotak-kotak bercahaya digantung model zigzag diatas kepala menusia. Sebuah kotak bergambar yang penuh makna tentang kehidupan kota santri. Menampilkan siluet wajah-wajah, alam, perdagangan, keagamaan dan ritual masa lalu hingga kini. Semua ada pada dinding-dinding samping kubus yang bernama : Damar Kurung.

Dari ujung ke ujung gang, pengunjung berjubel mengantri untuk berfoto selfie dengan latar belakang cahaya kotak melayang-layang. Hampir semua pengunjungnya adalah pemuda dan pemudi. Kuliner khas yang dijual oleh warga dan beberapa ikatan Mahasiswa pun laris manis. Hari ini adalah ramadan yang istemewa bagi masyrakat Kota Gresik. Lebih tepatnya pesta mengenang tradisi islami berbalut seni.

Di festival tahun-tahun sebelumnya saya sendiri belum sempat melihat acara ini. Padahal sejak tahun 2012 sudah rutin diadakan setiap tahun. Beruntung, kemarin malam saya bisa menyempatkan berkunjung ke Kebomas yang lokasinya juga lumayan jauh dari tempat tinggal saya.

Festival Damar Kurung kali ini mengusung tema “Dekade Sepeninggal Masmundari”, tentunya untuk mengenang sosok seniman wanita bersahaja asal Gresik tersebut. Dengan adanya dialog seputar sejarah Damar Kurung dan pemutaran film dokumenter tentang Masmundari, pengunjung akan di ajak lebih jauh mengenal apa itu "Damar Kurung" dan siapa sebenarnya sosok "Masmundari".

Damar Kurung merupakan tradisi islami berbalut seni yang berasal dari Gresik. Damar yang berarti penerang, dan Kurung yang berarti pelindung atau penutup. Jadi Damar Kurung adalah penerang yang diberi pelindung dari sebuah kotak persegi yang dibuat dari potongan-potongan bambu, kertas dan kemudian digambar. Untuk menyambut malam Lailatul Qodar pada bulan ramadhan inilah masyarakat Gresik pada jaman dulu menggantungkan lentera damar kurung didepan rumah-rumah mereka.

Gambar-gambar pada Damar Kurung jika dilihat, semuanya nampak terlihat menyamping. Seperti sama halnya jika kita melihat pegelaran wayang, objek hanya terlihat dari satu sisi, namun cukup bisa memberikan makna yang tersirat dari sang pelukisnya.

Bicara mengenai Damar Kurung saat ini memang tak bisa lepas dari sosok Sriwati Masmundari, sosok wanita asli Gresik yang lahir 4 Januari 1904 dan meninggal dunia 24 Desember 2005 lalu.

Masmundari merupakan pelaku seni yang begitu inspiratif, konsisten melukis pada kotak-kotak damar kurung dan terus melestarikannya. Dan tanpa di sengaja, pekerjaan dan kecintaanya terhadap Damar Kurung tersebut melahirkan suatu karya-karya seni indah yang dikenal luas masyarakat Indonesia dan bahkan dunia.

Karya-karya lukis Masmundari pada damar kurung lebih menceritakan kehidupan masyarakat sehari-hari. Seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, yaitu tentang alam, kegiatan keagamaan masyarakat Gresik, tentang pernikahan, lebaran, Hadrah, Dll. Karya Masmundari pun pernah di pamerkan dibeberapa ajang. Salah satunya yaitu pameran perdananya yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta, 10-17 November 1987.

Seiring berjalannya waktu dan sepeninggal Masmundari tahun 2005 silam, keberadaan Damar Kurung pun semakin redup dan terlupakan. Seorang kawan bahkan ada yang tidak tahu apa itu Damar Kurung. Tradisi Gresik? Hasil karya local genius Gresik? Semua bertanya-tanya.

Dengan di adakanya acara seperti ini “Festival Damar Kurung”, setidaknya masyarakat Gresik akan berupaya mengenal tradisi berbalut seni yang lahir dari daerahnya sendiri, dan kemudian lebih melestarikannya lagi. Menjadikan Damar Kurung sebagai Ikon kebanggaan Kota Gresik.

Semoga festival tahun depan lebih meriah. Amin!

Referensi : Diperoleh dari beberapa sumber

Info : Untuk mengetahui tentang even dan gelar karya seni Damar Kurung selanjutnya bisa buka halaman website www.damarkurungfest.com

Permainan Tradisional : Sebuah Identitas

Sewaktu mendaki Gunung Sabu di Pulau Bawean, saya melihat anak-anak di puncak dengan mainan tradisionalnya. Enter-enteran namanya. Permainan tradisional yang bentuknya menyerupai baling-baling. Berbunyi mirip raungan raja hutan jika dihempas angin. Semakin kencang suaranya hingga memekakan telinga, tentu semakin bangga si empunya.

Musim angin barat telah tiba. Anak-anak di Bawean tidak pernah melewatkan sore di puncak gunung ini. Apalagi akhir pekan, bisa-bisa dari pagi hingga menjelang senja. Yang di lakukan sama, berlomba-lomba beradu kencang menyuarakan Enter-enteran. Mendorong-dorong tiang bambu yang atasnya dipasang dua bilah kayu sebagai pusaran. Meng-Indonesia sekali bukan?

Permainan tradisional di puncak Gunung Sabu
Disini saya merasa dilempar oleh mesin waktu ke belasan tahun lalu. Mengembalikan ingatan tentang masa di mana tugas sekolah IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) adalah masalah paling berat dalam hidup. Dan obatnya adalah bermain, permainan tradisional, entah itu Petak umpet, Patel lele, atau Gobak sodor. Terobati lagi jika saat bermain Gobak sodor bisa sengaja mencolek lawan main yang berlawanan jenis. Ups, masa kecil!

Kalau anda lahir tahun 90-an, dan melihat hal semacam ini, saya yakin anda pasti merindukan yang namanya bermain dengan mainan tradisional.

Baca Juga : Gili Noko, Dataran Kecil Yang Mengapung Di Samping Bawean



Permainan tradisional merupakan identitas, keunikan, sekaligus aset kekayaan yang lahir dari pemikiran-pemikiran lokal jenius bangsa. Lahir ribuan tahun lalu melalui penuturan kata dan lisan. Juga, umurnya sepantaran dengan budaya. Mungkin bedanya permainan-permainan ini sudah jarang dan hampir tidak lagi mendapat peranannya dalam masyarakat khususnya anak-anak.

Permainan tradisional menuntut anak untuk menjadi kreatif, menciptakan mainan-mainan sendiri. Membuat Kekehan misalnya. Membuat mainan ini sungguh tidak mudah. Dulu, sewaktu kecil saya harus mencari dan memotong batang pohon yang berdiameter sekitar 15 sentimeter. Kemudian memahatnya perlahan, membentuknya seperti tumpeng terbalik dengan menanam paku didalamnya. Selanjutnya membuat guratan untuk tempat memutar tali.

Satu lagi, membuat miniatur alat-alat bangunan atau kendaraan dari tanah liat. Kalau yang ini saya tidak mahir. Teman saya sewaktu SD sangat jago membuat diesel, traktor, truck, bahkan pesawat dari tanah liat. Membuat mainan ini juga harus melalui proses panjang. Mencari tanah dengan mencangkul dulu, kemudian membentuknya dengan mengepal-ngepalkan tanah di genggaman tangan, membakar, dan yang terakhir di cat berbagai warna. Kotor dan menjijikan? Dulu sama sekali tidak. Sekarang? Mungkin iya bagi anak-anak di jaman modern.

Baru belasan tahun lalu saya berkutat dengan Kekehan dan Gangsing sepulang sekolah. Rasanya baru kemarin. Betapa kuat arus globalisasi. Betapa cepat pergeseran-pergeseran itu. Dengan hidup di negara berkembang, kemajuan teknologi juga tidak mungkin di tolak. Anak-anak sekarang lebih doyan bermain game dari gadgetnya, tidak perlu berpanas-panasan lagi mengejar layang-layang yang putus. Kini, ibu-ibu juga tidak perlu lagi khawatir kalau anaknya mainan Petel lele, yang bisa kapan saja melukai wajah karena lontaran kayu yang panjangnya 10 sentimeteran itu.



Memang, dibeberapa daerah masih terdapat mainan tradisional. Saya juga pernah sempat melihat anak-anak kecil di Flores, tepatnya di Desa Dintor, Manggarai Barat, mereka memainkan permainan tradisional. Mereka mendorong roda kayu, tongakatnya terbuat dari bambu. Dan jika didorong bunyinya “pletok-pletok” akibat gesekan seng dengan roda. Mereka berjalan beriringan di tepi jalan makadam dengan senyum renyah. Tapi, akankah bisa tetap lestari? Yang penting, sekali lagi disini saya melihat Indonesia!

Tentang permainan tradisional memang tidak ada regenerasi pasti. Mungkin kita yang kurang menyuarakan betapa pentingnya adanya permainan tradisional sehingga permainan tradisional tidak lagi menarik hati anak-anak. Mungkin karena identik dengan ketertinggalan? Tidak populer?

Sebuah Foklor, dari cerita dan akankah kembali ke cerita? Lambat laut waktu yang akan menjawab.

Terlepas dari manfaat dan ketertarikan, sekali lagi “Permainan Tradisional adalah “Identitas” bangsa, identitas Nusantara.

Harapan saya, barangkali nanti suatu saat setiap kota atau daerah di Indonesia rutin membuat event bertajuk permainan tradisional. Setidaknya kita di ajak bernostalgia ke masa lalu dan tentunya anak-anak akan mengenal apa yang pernah kita mainkan saat seumurannya.

Bagaimana menurut anda?


Tulisan ini hanyalah ungkapan keprihatinan dan kegelisahan hati pribadi.

Baca Juga : Pulau Bawean, Begitu Dekat Namun Jauh Tersekat!

Hey, Berlita!

Hey Berlita,

Taukah kau malam ini kekasihmu di rudung rindu teramat sangat? Ya, dia merindukanmu. Padahal masih beberapa waktu lalu kau berpamitan. Ketika dirimu sudah duduk di bangku bus antar kota itu kau juga sempat mengirim pesan singkat : "Aku berangkat, hati-hati ya" Pesanmu pada kekasihmu itu. Senyum mengambang di bibirnya, hatinya mendo'akan perjalananmu, Berlita. Selanjutnya, kau tak mengabari lagi.

Barlita

Taukah kau, sedari tadi kekasihmu tak kunjung reda resahnya. Alih-alih melupakan tentang rindu pun di upayakan, mendadak kekasihmu ingin mendaki gunung juga, di gunung yang lain, bukan di tempatmu mendirikan tenda saat ini. Setidaknya ia ingin merasakan ketentraman seperti yang pernah kau ceritakan. Melihat bintang di ketinggian, di temani dingin dan segelas kopi murahan, atau sekedar berbaring didalam tenda memandangi lampu redup yang terselip disana.

Apa kau sedang menikmati malammu kini, Berlita? Apa kau sedang bercengkrama hangat dengan teman-teman seperjalananmu? Apa sudah ada yang menyiapkanmu makan malam? Atau apa sudah ada yang membuatkanmu kopi? Kekasihmu tahu, kau paling malas jika memasak di gunung. Kau selalu merepotkan. Tapi baginya, kau adalah penghibur perjalanan setiap insan. Kau juga pandai memberi semangat.

Hey Berlita,

Ternyata gagal rencana kekasihmu. Hujan deras mengguyur Surabaya. Setengah jam, satu jam, dua jam, tiga jam, hujan tak kunjung reda. Empat jam kemudian, gerimis pun masih tersisa. Sudah jam satu malam sekarang, dan tak mungkin ia berangkat. Dari kota ke kaki gunung dengan berkendara motor saja butuh tiga jam, belum juga mendakinya. Tak mungkin, bisa-bisa baru pagi ia akan sampai di lembah bayangan untuk mendirikan tenda. Tak mungkin juga ia mendapat momen melihat langit-langit malam seperti yang kau nikmati saat ini.

Dia semakin resah, Berlita.

Jalanan Surabaya lengang. Malam sudah sempurna. Apalagi gerimis. Tahukah kau, Berlita, di jalanan ini kekasihmu baru saja bertemu sapi-sapi liar. Sapi-sapi yang kau sukai itu. Sapi-sapi yang kerap membuat macet jalanan Surabaya Barat. Kekasihmu berhenti sebentar dari laju motornya, dia memotret gerombolan sapi yang memenuhi jalanan ini. Di atas trotoar, kekasihmu memilih-milih foto sapi terbaik di ponselnya, dan tentu ingin di kirim ka kamu lewat pesan WhatsApp seperti biasanya. Tapi baru sadar, kekasihmu lupa jika tak mungkin ada signal di gunung. Tak mungkin gambar sapi itu sampai di ponselmu.

Hey Berlita, sudahkah kau tertidur? Tapi ia menabak, kau tak bakal bisa tidur jika dingin. Bukankah kenyataanya demikian, Berlita? Walaupun jaket tebal dan Sleeping Bag membungkus tubuhmu, ia yakin kau tak akan bisa tidur. Kau hanya bisa tertidur saat gelap berganti dengan terang. Saat matahari cantik menyembul perlahan di ufuk timur. Saat merah jingganya menerobos pohon-pohon pinus raksasa, baru saat itulah kau akan tidur. Persetan dengan sunrise, kau tak akan menghiraukanya, kan?

Bagimu, menikmati proses perjalanan adalah yang utama. Keindahan, kecantikan, kemegahan alam, mungkin itu hanyalah sebuah bonus.

Masih di atas trotoar ini kekasihmu membaca pesan-pesan lama darimu di ponselnya. Di baca lagi personal massage di profil Blackberrymu yang bertuliskan nama kota tujuanmu. Menerawang lebih dalam ia, mengingat suasana pos pendakian, setiap jalur dan setiap jenis hutan. Kekasihmu ingat, karena dia juga pernah berdiri ditanah tinggi tempat kau berpijak sekarang. Di basahi rambutnya oleh sisa-sisa hujan, hayalanya semakin melambung tinggi ingin menjemputmu di tengah belantara sana.

"Berlita, lekaslah pulang" Kekasihmu bergeming.

Surabaya, 22 Mei 2016

Coban Sewu Atau Tumpak Sewu?

Coban Sewu

Jam setengah enam pagi saya tiba di pelataran parkir Wisata Air Terjun Coban Sewu. Masih sepi. Tanah lapang dan bangunan beratap seng untuk tempat kendaraan itu masih kosong melompong, begitu juga di warung kanan-kirinya, tak satupun orang saya temui. Saya yang paling pertama datang, bahkan mendahului pengelola tempat wisata tersebut.

"Jam berapa bukanya?" Berto bertanya.

"Mana aku tahu" Jawab saya.

Hampir setengah jam kami mondar-mandir diparkiran, jalan ke kanan-ke kiri, mengusap-usap kedua lengan dengan tangan saling silang untuk menepis rasa dingin.

Gunung Semeru di sebelah utara kegagahanya terlihat jelas. Pucuknya mengepulkan asap pekat berwarna abu-abu, setengah menit kelihatan diam, setengah menit lagi menyebar ke angkasa. Terus menerus mempertontonkan kemolekanya hingga beberapa menit kemudian hilang dibungkus awan putih.

Blarr..blarr...seseorang datang dengan motor CB merah. Mungkin ia si pemilik warung, atau salah satu pengelola wisata air terjun Coban Sewu. "Bagus, semoga hari ini buka" Saya membatin, karena jika mendung sedikit saja wisata akan ditutup. Rawan longsor dan banjir katanya.

Air Terjun Coban Sewu terbilang masih baru dikenal, mulai tenar kira-kira setahun lalu. Foto-fotonya menyebar cepat lewat sosial media. Air terjun yang melingkar lebar dengan ketinggian hampir dua ratus meter itu namanya juga sering disebut-sebut dengan "The Little Niagara". Air sungainya turun langsung dari hulu lereng Semeru.

Apa anda tertarik mengunjunginya? Ini surga di perbatasan Malang dan Lumajang. Surga Indonesia!

Jadi, sudah tahu ini dimana, kan?

***

Warung-warung sudah mulai buka. Kopi pahit menemani obrolan saya dengan Pak Nur di pagi itu. Beliau adalah salah satu panitia pengelola wisata air terjun Coban Sewu. "Kalau minggu ramai mas, biasanya juga ada bule kesini" Beliau membuka percakapan.

Memang sudah sepantasnya kalau kecantikan air terjun ini akan mengundang pelancong dari berbagai penjuru dunia. Gambar-gambarnya di media sosial begitu viral, menjadi perbincangan hangat di forum-forum backpacker atau traveler. Sudah pasti, akhirnya wisatawan pun berbondong-bondong membanjiri si primadona : Coban Sewu.

Sebenarnya saya sempat bingung dengan namanya, Coban Sewu atau Tumpak Sewu. Ketika browsing di internet, ada yang menyebutnya Tumpak, ada lagi yang menyebut Coban. Sama tempat tapi punya dua nama. Tentu ada alasan di balik ini semua, bukan? Saya berharap rasa penasaran tentang dua nama itu nanti akan terjawab. Oh ya, Pak Nur, Barangkali akan menjawabnya nanti.

The Little Niagara Indonesia atau Coban Sewu umumnya dikenal berlokasi di perbatasan dua kabupaten, Malang dan Lumajang. Perbatasan yang di sekat oleh sungai tempat mengalirnya air dari atap Coban itu. Namun sejatinya Coban Sewu adalah milik perhutani Malang. Ya, itu berarti bukan di Lumajang karena letak persisnya tebing air terjun tersebut masih ikut Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Dan inilah yang mempengaruhi adanya dua nama itu : Coban Sewu dan Tumpak Sewu.

"Dari dulu nama air terjun ini ya Coban Sewu, kalau kamu mendengar Tumpak Sewu, itu orang Lumajang yang memberi nama. Tumpak dalam artian kata jaman dulu adalah "numpang/ Nunut", Karena memang letaknya masih berada di Kabupaten Malang, dan bisa di akses dari Lumajang, maka pihak Lumajang memberi nama Tumpak Sewu : Numpang jalan ke Coban Sewu. Kalau kamu masuk lewat sini ya sebut dengan Coban Sewu, kalau kamu masuk dari Lumajang, sebut Tumpak Sewu” Pak Nur menginformasi.

Jika kita mengaksesnya dari Pronojiwo, Lumajang melalui Wisata Goa Tetes berjalan menyusuri sungai, di perbatasan sungai akan ada penjaga dari pihak pengelola Wisata Coban sewu, Malang yang akan menarik tiket masuk wisata. Juga sebaliknya, jika kita berangkat dari Coban Sewu ingin sekalian ke Goa Tetes, maka akan ada juga penjaga dari pihak pengelola Coban tetes, Lumajang yang akan menarik karcis masuk.


Menariknya lagi jika kita dari Coban Sewu iseng-iseng menyebrang ke sisi timur sungai, jangan kaget kalau diminta uang oleh penjaga. Itu artinya anda sudah menginjak kawasan tanah Lumajang, walaupun itu kita sama sekali tidak berniat untuk ke Goa Tetes, Lumajang.

Untuk pengelolaan sudah cukup baik menurut saya. Parkir Luas, toliet umum, warung, dan penjual souvenir juga sudah ada. “Progam selanjutnya yaitu pelebaran jalan dari gang depan sampai kesini, diaspal, nanti juga akan ada homestay untuk wisatawan yang ingin bermalam disini” Ujar Pak Nur.

Semoga Coban Sewu memberikan dampak yang baik bagi masyarakat. Tentunya dalam hal mendongkrak ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja, khususnya warga setempat.


***

Setapak demi setapak saya lalui. Di awal jalur masih tergolong mudah, kira-kira seratusan meter masih mulus dengan medan cor. Selanjutnya? Ratusan tangga bambu yang rata-rata berdiri tegap lah yang mengantar kaki sampai tujuan. Tangan harus selalu mencengkram kuat-kuat tali tambang disisi kanan dan kiri. Lepas sedikit saja bisa tergelincir dan berakibat fatal. Di bawah sana ada jurang menganga siap menyambut!

Mari berkunjung.

Catatan

  • HTM Rp 5.000

  • Parkir Motor Rp 5.000

  • Rute : Kota Malang - Gadang - Turen - Ampel Gading - Sidorenggo